<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826</id><updated>2012-02-16T07:08:46.394-08:00</updated><title type='text'>berbagi cerita</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>72</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-8255874339018240295</id><published>2009-03-08T01:51:00.000-08:00</published><updated>2009-03-08T01:53:02.214-08:00</updated><title type='text'>Bercinta Dengan Mantan Murid</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Bercinta Dengan Mantan Murid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namaku Asmiati, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandi memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar suara langkahnya mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Bu Asmi..?” Suara Sandi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tangan Sandi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandi!! Ngapain kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandi menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu.. ” Sandi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan.. Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah kamu.. Ya sudah terserah kamu sajalah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup puting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu hebat..,” desisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya?” godanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandi, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu..,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandi, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu.., terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh..,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saann, penismu enaak..!!,” kataku setengah menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh.., toloongg.., gustii..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aahh, penismu.., oohh, aarrghh.., penismuu.., oohh..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu mau keluar! Ibu mau keluaar!!” aku menjerit-jerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Sandi menyodok-nyodok semakin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sodok terus, Saann!! Yah, oohh, yahh, ugghh!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teruuss.., arrgghh.., sshh.., ohh.., sodok terus penismuu..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ah, uugghh.. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enaak.., penis kamu enak, penis kamu sedap, yahh, teruuss..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandi, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi segera menunduk, dikecupnya pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oorrgghh.., aahh.., ennaak.., penismu enak bangeett.. Ssann!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aarrgghh..!!” aku menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus, Sayang.., teruuss..!”desahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooohh, enak sekali.., aku keenakan.., enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan..!” Balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah hampir keluar, Buu.., vagina Ibu enak bangeet.. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss.., yaah, aku juga mau keluarr!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, oh, uughh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaar..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaahh teruuss, sodok teruss!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann.., aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu.., yaahh.., teruss.., aarrgghh.., sshh.., uughh.., aarrghh!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh..!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak banget,” bisik Sandi beberapa saat kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm..” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi penis kamu.., gede, keras, dalemm..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu.. Ibu juga suka kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-8255874339018240295?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/8255874339018240295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=8255874339018240295' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8255874339018240295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8255874339018240295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/bercinta-dengan-mantan-murid.html' title='Bercinta Dengan Mantan Murid'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3920966713396321707</id><published>2009-03-08T01:38:00.000-08:00</published><updated>2009-03-08T01:48:30.647-08:00</updated><title type='text'>Aku Rindu Pemerkosaku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Aku Rindu Pemerkosaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah wanita berumur 25 tahun, sekarang aku tinggal sendirian di rumahku yang terletak di salah satu komplek yang disebut sebagian orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Aku adalah janda tanpa anak, suamiku telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan. Saat itu usia perkimpoian kami baru menginjak tahun kedua. Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkimpoian untukku, suamiku membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku padamu” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah di komplekku terbilang saling berjauhan karena masing-masing rumah memiliki pekarangan yang luas. Hidup di Jakarta menyebabkan aku juga tidak begitu mengenal tetanggaku. Kami masing-masing memiliki kehidupan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku merasa kesepian tinggal sendiri di rumah ini, tapi aku tidak mau menggunakan jasa pramuwisma, aku ingin mengerjakan pekerjaan rumahku sendiri. Alasanku pada mama sih biar aku ada kesibukan di rumah, rasanya lebih enjoy kalau semua dikerjakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku pulang agak larut karena baru pulang dari acara ulang tahun temanku. Setelah mengunci pintu depan aku mencari-cari kontak lampu karena suasana rumahku masih gelap. Aku berangkat dari tadi siang untuk bantu-bantu di acara ulang tahun tersebut. Begitu lampu menyala, aku langsung menuju kamarku untuk mengganti baju yang kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melepaskan seluruh pakaianku lalu menyimpan baju kotorku di keranjang yang memang kusediakan di kamar untuk pakaian kotor. Sungguh aku sekarang telanjang bulat. Aku merasa sendiri di rumahku sehingga aku merasa bebas walaupun ke ruang tengah atau ke dapur dalam keadaan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Selesai mandi rasanya badanku terasa segar. Kemudian duduk santai menonton TV di ruang tengah sambil minum susu hangat. Aku hanya melilitkan handuk pada badanku, sambil mengeringkan rambutku dengan kipas angin aku buka channel TV sana-sini. Acaranya tidak ada yang menarik hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng aku menonton film BF koleksi suamiku. Aku pernah protes padanya karena dia menonton film begituan. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia mencari style bercinta untukku. Di film itu pria bule sedang mencumbu seorang wanita asia yang kelihatannya begitu menikmati cumbuan dari pri bule. Aku sedikit terangsang melihat adegan itu, seandainya suamiku masih ada….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melepaskan handuk yang melilit badanku, lalu mengelus-elus payudaraku sendiri dengan lembut. Payudaraku memang tidak begitu besar, tapi suamiku selalu memujiku dengan sebutan montok. Untuk urusan mengurus badan, aku memang agak telaten. Karena bagiku kecantikan wanita dan kemulusan badan itu adalah harga mati. Aku tidak menyadari sama sekali kalau ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuelus-elus buah dadaku dengan lembut hingga terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku tiba-tiba datang dan hasratku jadi memuncak, rasanya aku ingin berlama-lama, matakupun tak terasa mulai sayu merem melek merasakan rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi aku sudah mulai melakukan remasan ke buah dadaku. Kupilin-pilin puting susuku dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya. Tanganku perlahan-lahan turun mengelus-elus selangkanganku. Saat jari-jariku mengenai bibir-bibir vaginaku, aku pun merasakan darah yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terangsang sekali, liang vaginaku sudah dibanjiri oleh lendir yang keluar membasahi bibir vaginaku. Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitorisku dengan jariku sendiri hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yang semakin menggebu. Badanku melengkung merasakan kenikmatan, kukangkangkan pahaku semakin lebar. Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir vaginaku sambil menggesek-geseknya. Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk ke dalam. Liang vaginaku sudah benar-benar basah oleh lendir yang licin hingga dengan mudahnya menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku. Kini jari tangan kiriku sudah tidak perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya untuk menggesek-gesek klitorisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku. Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding vaginaku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh G-spot, punggung dan kepalaku jadi tersandar kuat pada sofa di ruang tengah, seakan-akan tubuhku melayang-layang dengan kenikmatan tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada sesuatu yang rasanya akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda aku akan segera mencapai orgasme. Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi, demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam vaginaku pun makin kupercepat pula. Untuk menyongsong orgasmeku yang segera tiba, kurasakan kedutan bibir vaginaku yang tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku yang masih berada di dalam liang senggamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam yang keluar membasahi dinding vaginaku. Aku serasa sedang kencing namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan maniku yang mengalir deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AHH……..” aku terpekik, lalu tubuhku bergetar hebat. Setelah beberapa detik baru terasa badanku seperti lemas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam sambil menikmati rasa indah yang menjalar di sekujur badanku, tiba-tiba tersa ada benda dingin menempel di leherku. Mataku sedikit terbuka, lalu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Diam atau lehermu akan terluka.” Suara seorang laki-laki terdengar mengejutkanku. Jantungku rasanya hampir berhenti menyadari ada pria yang menempelkan pisau ke leherku, dan aku dalam keadaan telanjang……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam tak berdaya ketika dia berusaha mengikat tanganku. Aku takut kalau dia merasa terancam, maka dia akan membunuhku. Matanya jelalatan melihat tubuhku yang tidak tertutup sehelai kain. Terbersit penyesalan dalam hatiku, kenapa aku sangat gegabah. Bagaimana dia masuk ke dalam rumah ini, dan apa yang akan mereka lakukan. Segala macam perasaan dalam diriku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He.. he.. he… cantik, ijinkan aku untuk membantumu menyelesaikan hasrat terpendam dalam dirimu.” Lelaki itu duduk disampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah cantik…. Sekarang Abang akan memuaskanmu.” Laki-laki yang memanggil dirinya Abang kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan pinggangku untuk memelukku. Antara takut dan marah, aku masih berontak dan berusaha melawan. Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya, tetapi.. Ya ampuunn.. Dia sangat tangguh dan kuat bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu berpostur tinggi pula dan mengimbangi tinggiku, dan usianya yang aku rasa tidak jauh beda dengan usia suamiku disertai dengan otot-otot lengannya yang nampak gempal saat menahan tubuhku yang terus berontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu menyeretku menuju ke kamar tidurku. Aku setengah dibantingkannya ke ranjang. Dan aku benar-benar terbanting. Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu. Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya, tapi hanya terdengar gumaman dari mulutku karena mereka membekap mulutku. hingga akhirnya, sehingga aku menyadari tidak ada gunanya lagi berontak maupun berteriak. Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Dia nampak berusaha menenangkan aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku. Dia berbisik dalam desahnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah cantik, jangan lagi memberontak. Percuma khan, jarak antar rumah di komplek ini cukup berjauhan. Lagian kalaupun ada yang tahu mereka tidak akan berani menggangu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir. Laki-laki ini seakan-akan sengaja memperhitungkan keadaan. Kemudian dengan tersenyum dia benamkan wajahnya ke ketiakku. Dia menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku. Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri. Menimbulkan rasa geli sekaligus membangkitkan gairah. Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku. Tangannya juga meremas-remas susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting-puting susuku. Disini dia melakukannya mulai dengan lembut dan demikian penuh perasaan. Bajingan! Dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian itu. Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagaikan mangsa yang siap diterkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari mulutku yang tersumpal. Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar. Aku merasa sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu menatapku. Aku menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu cantik banget….. " dia berusaha menenangkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal. Tangannya meraba pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya. Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut. Betapa aku dilanda perasaan malu yang amat sangat. Hanya suamiku yang melihat auratku selama ini, tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya. Pemberontakanku sia-sia. Wajahnya semakin turun mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku. Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ah…..” Bukan main. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini padaku. Juga tidak begini suamiku selama ini. Aku tak kuasa menolak semua ini. Segala berontakku kandas. Kemudian aku merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Darahku berdesir. Duniaku seakan-akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra yang sangat mungkin akan menelan dan menenggelamkan aku. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan. Aku merasakan lidah-lidah lelaki ini seakan menjadi seribu lidah. Seribu lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku. Seribu lidah lelaki inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku untuk tertelan dan tenggelam. Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh dalam lembah nikmat yang sangat dalam.. Aku sedang terseret dan tenggelam dalam samudra nafsu birahiku. Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku yang telah enam bulan tidak terlampiaskan semenjak suamiku meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku dan sesekali dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah puncak-puncaknya rahasiaku, aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku. Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik kain yang menyumpal mulutku. Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku, desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu tiba-tiba mrenggut sumpal mulutku.Dia begitu yakin bahwa aku telah tertelan dalam syahwatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. Puaskan aku….."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku. Aku kembali menangis dan mengucurkan air mata. Aku kembali berteriak histeris. Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku. Aku meronta menjemput nikmat. Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang mengangkat pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku dilanda nafsu birahi. Dan kurasakan betapa kecupan dan gigitan lidah lelaki ini membuatku seakan-akan menggigil dan gemetar lupa diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masukin... bang.. auh… aku gak tahan….." aku mendesah tidak karuan. Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintihan itu membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kuraih bibirnya. Aku rakus menyedotinya. Aku berpagut dengan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya. Aku benar-benar dikejar badai birahiku. Aku benar-benar dilanda gelombang syahwatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku betul-betul tidak sabar menunggu dia melepas pakaiannya. Aku masih berkelojotan diranjang. Dan kini aku benar-benar menunggu lelaki itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula. Aku benar-benar berharap karena sudah tidak tahan merasakan badai birahiku yang demikian melanda seluruh organ-organ peka birahi di tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku. Aku sama sekali tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya. Kemaluan lelaki ini demikian gedenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi di backdrop ranjang ini. Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihat kemaluan itu. Ampuunn.. Sungguh mengerikan. Rasanya ada pisang ambon gede dan panjang yang sedang dipaksakan untuk menembusi memekku. Aku menjerit tertahan. Tak lagi aku sempat memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki ini sudah langsung menerkam kembali bibirku. Dia kini berusaha menjulurkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa besar kontol di gerbang kemaluanku saat ini. Aku sendiri sudah demikian dilanda birahi dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku.Cairan-cairan kewanitaanku membantu kontol itu memasuki kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Blesek……..Blesek………. Ohh…... Kenapa sangat nikmat begini…….. Oh aku sangat merindukan kenikmatan ini…..” Aku semakin meracau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasi cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar kontol lelaki ini sungguh menyuguhkan fantasy terbesar dalam seluruh hidupku selama ini. Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat, meracau dan mendesah dan merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak karuan.... Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku kelenger dalam kenikmatan tak terhingga.. Aku masih kelenger saat dia mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin dalam dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auh………. AHH…… “ aku menjerit merasakan gelombang-gelombang listrik kenikmatan menjalar di sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami langsung roboh. Hening sesaat. Aneh, aku tak merasa menyesal, tak merasa khawatir, tak merasa takut. Ada rasa kelapangan dan kelegaan yang sangat longgar. Aku merasakan seakan menerima sesuatu yang sangat aku rindukan selama ini. Apakah aku memang hipersex atau memang karena lelaki ini memang tangguh dan pandai bercinta. Ah aku tidak mau berfikir lagi.. Akupun tertidur kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok pagi aku terbangun dengan badan sedikit pegal-pegal. Tidak ada tanda-tanda dia masih ada di rumah. Dan kuperiksa tidak ada barang yang hilang. Apakah dia memang datang untuk memperkosaku?.... kadang-kadang aku masih inigin melakukan hal yang sama. Aku merindukan kontolnya yang telah membuatku mencapai kenikmatan tertinggi dalam bercinta. Dimanakah kamu………&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3920966713396321707?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3920966713396321707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3920966713396321707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3920966713396321707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3920966713396321707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/aku-rindu-pemerkosaku.html' title='Aku Rindu Pemerkosaku'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-2205023593192322859</id><published>2009-03-08T01:29:00.000-08:00</published><updated>2009-03-08T01:48:56.588-08:00</updated><title type='text'>Kuentot Juliete Siswi SMA anak Majikanku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Kuentot Juliete Siswi SMA anak Majikanku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku bekerja sebagai seorang sopir di Malang. Namaku Sony, umurku 24 tahun, dan berasal dari Jember. Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang kaya, pasti sudah jadi playboy kelas super berat. Memang ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku, tetapi tidak aku tanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bukan tipeku.&lt;br /&gt;Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 18 tahun, kelas 3 SMA favorit di Malang. Namanya Juliet. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Juliet yang seksi sekali. Tingginya kira-kira 168 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik seragam tipisnya itu. Tapi aku selalu ingat, bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;"Siang, Non..., mari saya bawakan tasnya".&lt;br /&gt;"Eh..., Mas, udah lama nunggu?", katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.&lt;br /&gt;"Barusan kok Non..", jawabku.&lt;br /&gt;"Jul..., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih..., ha..., ha..", salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.&lt;br /&gt;"Hus..", sahut Non-ku sambil tersenyum. "Jadi malu dia nanti..".&lt;br /&gt;Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kenalin nih mas, temanku", Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.&lt;br /&gt;"Sony", kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.&lt;br /&gt;"Niken", balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.&lt;br /&gt;"Mas, antar kita dulu ke rumah Niken di Tidar", instruksi Non Juliet sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus.&lt;br /&gt;"Baik Non", jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta..., ahh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kitapun sampai di rumah Niken yang sepi. Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non Juliet ke luar dan menyuruhku ikut masuk.&lt;br /&gt;"Saya di luar saja Non".&lt;br /&gt;"Masuk saja mas..., sambil minum dulu..., baru kita pulang".&lt;br /&gt;Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.&lt;br /&gt;"Duduk di sini aja mas", kata Niken menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.&lt;br /&gt;"Ayo jangan ragu-ragu...", perintah Non Juliet melihat aku agak ragu.&lt;br /&gt;"Mulai disetel aja Nik...", Non Juliet kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian..., film pun dimulai..., Woww..., ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro (Senegal) sedang menyetubuhi dua perempuan bule (Prancis &amp;amp; Spanyol) secara bergantian. Napas Non Juliet di sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm... Eh", Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.&lt;br /&gt;Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.&lt;br /&gt;"Ayo..., hisap dong mas..., ahh". Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Juliet. Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, jilatin memekku mas", Non Juliet mendesah sambil mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.&lt;br /&gt;"Ohh..., nikmat sekali...", erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.&lt;br /&gt;"Aduh, cepetan dong, yang keras..., aku mau keluar.., ehhmm ohh..". Tangan Non Juliet meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis. Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat aku buka celanaku, Non Juliet telah ambil alih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar saya yang buka mas", katanya.&lt;br /&gt;Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang sudah tegak, bergelantung ke luar.&lt;br /&gt;"Ih, wowww...!!!", desis Non Juliet, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar biasa..., bayangkan..., penisku berwarna hitam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.&lt;br /&gt;"Punyamu besar sekali mas Son..., Jul suka.., ehmm..", katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih 15 menit Non Juliet menikmati penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan diarahkannya penisku ke liang vaginanya.&lt;br /&gt;"Ayo.., masukkin dong mas... Jul udah nggak tahan nih...", katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya penisku. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak juraganku ini.&lt;br /&gt;"Ahh..., yeah..., sekarang masukin deh penis mas yang besar itu di memekku", katanya sambil naik turun di atas pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, begitu dong mas", Tak perlu aku tunggu lebih lama lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non Juliet masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.&lt;br /&gt;"Sekarang setubuhi Jul dalam posisi nungging... ya mas Son...?", instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.&lt;br /&gt;"Ayo dong mas..., masukkin dari belakang", Non Juliet menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang vagina Non Juliet. Aku lihat ke samping, ternyata Niken, yang membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.&lt;br /&gt;Aku langsung menyetubuhi Non Juliet dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.&lt;br /&gt;"Ahh..., Mas..., Mas..., Terus dong..., nikmat sekali", Non Juliet mengerang nikmat. Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang. Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Juliet makin hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niken sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.&lt;br /&gt;"Ohh.., terus dong mas... yang cepat dong ahhh... Jul keluar mas... ohhh...", Non Juliet mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.&lt;br /&gt;"Non..., saya juga hampir keluar..", kataku.&lt;br /&gt;"Tahan sebentar mas..., keluarin dimulutku...", kata Non Juliet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non Juliet dan Niken berlutut di depanku, dan Niken yang sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya. Sementara itu Non Juliet menjilat-jilat buah pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.&lt;br /&gt;"Ayo, goyang yang keras dong mas...", Non Juliet memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.&lt;br /&gt;"Ayo penisnya taruh di sini mas...", kata Non Juliet lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku mengapitkan buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, nikmat sekali...".&lt;br /&gt;Sementara Niken sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Juliet, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.&lt;br /&gt;"Ahh..., Non..., ahh", jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil Non Juliet. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non Juliet dan Niken sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.&lt;br /&gt;Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Juliet termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan pulang, Juliet memberiku uang Rp 1.000.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ambil mas, buat uang lelah, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya", katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.&lt;br /&gt;"Besok kita ulangi lagi ya mas..., soalnya Niken minta bagian".&lt;br /&gt;Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Juliet akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya, Niken, Linda, Nina, Mimi, Etik, dll.&lt;br /&gt;Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan tambahan dari Non Juliet, akupun dapat menikmati tubuh remaja mereka yang putih mulus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-2205023593192322859?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/2205023593192322859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=2205023593192322859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2205023593192322859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2205023593192322859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/kuentot-juliete-siswi-sma-anak.html' title='Kuentot Juliete Siswi SMA anak Majikanku'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-9200655010930123100</id><published>2009-03-01T23:21:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T23:22:19.301-08:00</updated><title type='text'>Tetangga yang Menggairahkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Tetangga yang Menggairahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan masuknya aku ke salah satu kampus yang kebetulan memang tempat cita-citaku sebagai ahli komputer. Pada tahun 1994, kepindahanku dari Jakarta Barat ke Bandung, tepatnya aku tinggal di daerah perumahan yang dulu pernah ditinggali kedua orang tuaku, dan sekarang aku tinggal bersama pembantu dan seorang anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak dari kehidupanku yang jauh dari kedua orang tua dan aku baru saja memiliki motor untuk mendukungku berangkat ke kampus. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan bertetangga dan aku sering dipanggil untuk membantu tetangga dekat yang kadang kuperhatikan sepertinya adalah seorang wanita beranak satu dan suaminya jarang di rumah. Usianya kira-kira 32 tahun, di sini namanya aku samarkan saja yaitu Anna. Aku memanggilnya Tante Anna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun sudah aku tinggal, di akhir tahun 1995 aku mulai merasakan gejolak nafsu yang amat sangat terhadap wanita. Pada suatu malam aku mulai merasa ingin sekali bermain/bertamu ke rumah tante Anna namun aku selalu tidak berani dan merasa takut kalau nanti suaminya akan datang dan aku akan dikomentari tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu adalah bulan Januari 1996, usiaku pada saat itu baru 19 tahun dan tepat pada bulan Januari tanggal 20 aku genap 20 tahun. Di sini aku mengkisahkan hal sangat nyata yang terjadi dalam diriku. Malam itu malam Jum’at, cuaca sangat tidak mendukung dan tiba-tiba hujan sangat deras dengan diikuti angin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat sedih dengan kesendirianku, karena malam ini adalah malam kelahiranku. Aku duduk-duduk seorang diri sambil menghisap rokok kesukaanku, namun malam semakin tidak mendukung karena cuacanya. Aku berusaha mencari kesibukan dengan membaca-baca buku pelajaran, tiba-tiba aku dikejutkan dengan bunyi pagar samping yang khas, seorang wanita menghampiriku yang ternyata adalah tetangga sebelahku (Tante Anna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa tante?” aku mulai bertanya.&lt;br /&gt;“Bob, (namaku) tolong dong pasangin lampu kamar saya di rumah,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata lampu kamar tante Anna putus dan aku disuruh memasangkannya. Lalu aku mengikutinya dari belakang menuju rumahnya melalui pintu belakang. Di saat aku mengikutinya aku sempat terangsang dengan sentuhannya pada saat memasuki pintu belakang, karena ternyata dia tidak menggunakan bra dan aku sempat gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini aku berkonsentrasi dengan permintaanya agar aku memasangkan lampu di dalam kamarnya. Setelah selesai kukerjakan, cepat-cepat aku keluar kamarnya dan berusaha tenang, kemudian aku diminta untuk duduk dulu minum kopi karena kopinya sudah disuguhkan. Aku duduk sambil melihat tayangan TV dan aku lihat anaknya yang baru satu sedang tidur pulas di depan TV. Kemudian tidak berapa lama baru anaknya dipindahkan ke kamar. Sekarang tinggal aku dan tante Anna berdua di ruangan tengah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 dan aku minta izin untuk pulang namun aku dicegah, ia memintaku menemaninya ngobrol. Lama kelamaan aku mulai mengantuk dan dimintanya aku untuk rebahan dan diambilkannya bantal dan aku menurut saja. Ia bercerita bahwa tadi ada telepon dari temannya, katanya ia ditakut-takuti karena sekarang malam Jum’at ada hantu kalau sendirian di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asyik juga lama-lama acara mengobrolnya hingga tanpa kusadari tante Anna mulai mendekatiku dan meletakkan kepalanya di paha sebelah kiriku, karena aku rebahan agak di belakang dari tante Anna. Perasaanku mulai tak karuan, jantungku berdebar sangat keras serta sekujur tubuhku dingin. Karena baru pertama kali ini aku diperlakukan seperti itu (aku masih perjaka). Tiba-tiba tangan tante Anna mulai bergerak menuju selangkanganku, dan meremasnya kemudian mengusapnya. Saat itu aku memakai celana pendek berbahan lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Bob!, ini kamu kok bangun?” tanya tante Anna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku sangat malu dan tidak bisa berkata-kata lagi. Kemudian Tante mematikan lampu dan memintaku pindah ke kamarnya dengan menarikku ke atas tempat tidur. Pikiranku sangat kacau dan sangat gugup saat tiba-tiba aku dipeluk dan ditindih kemudian diciumi. Hingga pada saat bibirku dikulumnya aku mulai panas dan terangsang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku dibuatnya terlena dalam kemelut yang dibuatnya. Hingga tante itu mulai menuruni lekuk tubuhku sampai pada selangkanganku dan membuka celanaku. Sesaat kemudian seluruh pakaianku sudah terlepas dan apa yang terjadi ternyata penisku dimasukkan ke mulutnya. Aku merasa sangat tegang dan memang baru pertama kali aku mengalami hal seperti ini. Dengan lembut dan penuh penghayatan, penisku dipegangnya, kadang dijilatnya kadang dihisapnya namun juga kadang digigitnya hingga sampai pada buah zakarku juga di kulumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bob, jangan keluar dulu ya?” ujarnya dengan mulutnya yang tertutup oleh penisku.&lt;br /&gt;“Akh.. Mmnyamm”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah dapat membaca bahwa tante sangat haus akan sex. Seperti orang yang lama tidak bersetubuh hingga dengan ganasnya aku mulai ditindihnya dan aku mulai merespons. Dengan naluri rangsangan, aku dorong Tante Anna kemudian aku buka pakaiannya secara perlahan sambil menciuminya, kemudian kulumat teteknya yang tidak begitu besar namun masih kencang. Aku hisap dan kumain-mainkan lidahku di sekitar puting susunya, Tante Anna mulai terangsang sambil menggeliat-geliat dan menekan kepalaku agar aku lebih keras lagi menghisapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku bermain di sekitar payudaranya sampai akhirnya aku disuruh menjilat bagian yang sensitif di antara selangkangannya. Aku mulai sedikit mengerti. Dengan dibantu tangannya, aku mengerti yang mana yang harus aku jilat dan kulumat. Hingga pada akhirnya aku ditariknya kembali ke atas sampai aku menindihnya dan dadaku menekan toketnya yang semakin agak keras. Lalu aku didorong ke sampingnya dan aku mulai ditindihnya kembali namun sekarang tante Anna memegang penisku yang semakin keras kemudian dengan perlahan tante Anna membimbingnya memasuki liang kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi tante Anna berada di atas seperti orang naik kuda, menggoyang-goyangkan pinggulnya dan kadang menaik turunkan bokongnya. Lama sekali dia bertahan pada posisi itu, hingga akhirnya Tante menjerit kecil menahan sesuatu namun sambil mencengkeram bahuku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhh, Bob, saaya keluar nih, ahh.. Ahh.. Ohh.. Bob kamu belum keluar ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku membalikkan tubuhnya dan sekarang aku ganti berada di atasnya dengan penisku masih menancap di liang kenikmatan itu. Aku mulai menyerang, dan sekarang aku mengeluarmasukkan penisku. Lalu aku mengambil posisi duduk di antara selangkangannya sambil mengocoknya. Suara yang keluar dari mulut Tante Anna membuatku sangat terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bob, yang keras dong, lebih cepat kamu kocoknya,” kata tante sambil memegang kedua tanganku. Aku merasa belum akan sampai, tapi tiba-tiba tante Anna mulai menggeliat-geliat sangat kasar hingga aku dipeluknya.&lt;br /&gt;“Bob, ah.. Saya mau keluar lagii. Bob.. Ahh.. Ohh Bob”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku disuruhnya mencabut penisku dan tante Anna keluar menuju kamar mandi. Tidak berapa lama dia kembali dan membawa kain basah lalu mengusapkannya di penisku yang mulai lengket. Kemudian, tante Anna mulai menaiki tubuhku kembali dan memasukkan penisku ke vaginanya yang ternyata sudah kering. Ia memulai dengan gerakan lambat dengan menggoyangkan pinggulnya maju mundur dan aku kemudian diminta berposisi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku yang mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mulai bereaksi namun sangat seret dan terasa penisku dijepitnya. Aku mencoba memasukkannya lebih dalam dan menekan penisku agar lebih masuk kemudian aku mencoba dengan perlahan kugerakkan maju mundur diiringi goyangan pinggul Tante Anna, sesekali kedua pahanya mengapit rapat. Lama aku mulai merasakan terangsang. Dengan mengulum toketnya aku mulai bereaksi dan aku mulai merasa ingin keluar. Akhirnya aku keluar dengan diiringi jeritan kecil tante Anna yang ternyata juga keluar bersamaan sampai aku tak bisa menahan diri. Kemudian aku langsung dipeluknya erat-erat dan tidak boleh mencabut penisku sampai aku tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara samar-samar dari kejauhan, orang sudah ramai di luar seperti tukang roti dan lainnya. Aku terbangun dan kulihat tak ada seorangpun di sampingku dengan pintu kamar masih tertutup rapat dan hordeng jendela masih tertutup. Aku sempat kaget dan kulihat diriku dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menempel di kulitku. Aku berusaha mencari pakaianku yang tadi malam dilempar ke sisi spring bed Tante Anna. Tak berapa lama kemudian Tante Anna membuka pintu dan masuk kembali ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bobby! Kamu sudah bangun?”&lt;br /&gt;“Ya..” jawabku sambil melihat seluruh tubuh Tante Anna yang ternyata baru selesai mandi dengan hanya menggunakan handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handuk itu hanya menutupi sebatas toketnya dan pangkal pahanya yang putih merangsang. Lalu aku duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi pemandangan yang indah itu. Tiba-tiba saja penisku yang sudah loyo bangun kembali, namun kuurungkan niatku untuk bermain di pagi hari. Dengan cepat aku keluar dari kamar menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari kamar mandi aku masuk kembali ke kamar tidur untuk minta handuk, tapi ternyata yang kulihat di dalam kamar, Tante Anna belum juga berpakaian sementara handuk yang melekat di tubuhnya sudah tidak ada. Aku pandangi terus tubuh tanpa busana itu, lalu aku mendekatinya dan sempat kucium bahunya, namun dengan gerakan yang cepat sekali aku didorongnya ke atas tempat tidur oleh tante Anna dan tanpa basa basi lagi dikulumnya lagi penisku hingga basah oleh liurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini ternyata aku sudah mulai on kembali oleh kuluman, hisapan, dan belaian tante Anna pada penisku. Lalu aku dimintanya berdiri dan melumat toketnya yang sudah agak mengeras pada putingnya yang berwarna agak kemerahan. Kujilat, kuhisap kadang kuremas pada toket yang satunya. Kembali aku didorong dan ditindihnya lalu.. Bless.. Slepp.. Ternyata penisku sudah digiringnya masuk kembali ke liang kenikmatannya. Dengan agresif dan penuh nafsu, digoyangkannya maju mundur pantat Tante Anna hingga aku pun mengiringinya dari bawah, sambil kuremas-remas kedua toketnya dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah.. Aah.. Ahh.. Ohh, Booby saya puaas ssekalii. Bob, saya mau.. Keeluaar.. Ahhohh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Tante Anna mencabut penisku dari memeknya dan membersihkannya dengan kain di sekitar, kemudian aku dengan ganasnya memasukkan kembali senjataku lalu kugoyang-goyangkan lalu kutekan kembali hingga Tante Anna menjerit kecil..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aahh.. Oohh, Bobb.. Mentok nih? Terus bob tekan punya kamu, oh Bob!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali aku memainkan Tante Anna, kemudian aku mencoba kembali dengan posisi Doggy Style. Tante Anna sambil membungkukkan badannya di atas kasur kucoba untuk memasukkan penisku dan Blees.. Slepp..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh, Bobb.. Terus Bob, Masukin sampai dalam, oh Bobb.. Yang kasar Bob”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan cepat aku memaju mundurkan pantatku hingga aku sudah tidak tahan lagi. Dan kemudian aku sudah sampai pada dimana kenikmatan itu terasa sampai ujung rambut. Dan cairan yang kukeluarkan tidak kubuang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, aku mulai merasa letih dan sangat lapar. Aku mencoba beristirahat sebentar, kutatap langit-langit yang ada di kamar itu. Kuatur nafasku perlahan dan kupeluk kembali Tante Anna, kuusap-usap toketnya lalu aku mencoba menghisap-hisap pelan hingga sampai kumain-mainkan dengan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bob, udah ah, nanti lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku lepaskan tanganku dan aku langsung bangun menuju kamar mandi. Pukul 07.15 aku sudah rapi, lalu aku minta izin untuk pulang. Setelah itu aku mulai dengan pekerjaanku di rumah. Di dalam rumah aku sempat berfikir tentang apa yang telah terjadi semalam dengan Tante Anna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pun tiba, aku seperti biasa ada di rumah sambil menyaksikan tontonan TV. Tiba-tiba pintu samping ada yang mengetuk dan kubuka, ternyata Tante Anna membawa makanan buatku. Dengan senyumnya aku ditawari makan lalu aku diciumnya, namun tangan tante Anna kembali menggerayangi penisku. Aku terangsang tapi niatku untuk bersetubuh lagi dengannya tertunda karena aku ada janji dengan teman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-9200655010930123100?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/9200655010930123100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=9200655010930123100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/9200655010930123100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/9200655010930123100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/tetangga-yang-menggairahkan.html' title='Tetangga yang Menggairahkan'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-6383041708939279595</id><published>2009-03-01T23:08:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T23:13:35.696-08:00</updated><title type='text'>Pesta Sex yang Seru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Pesta Sex yang Seru &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat bergairah untuk pergi, meskipun dia merasa khawatir bertemu dengan rekan-rekan kerja isteriku. Kantor Dayu bekerja sangatlah berkultur informal, dan kadang Dayu cerita padaku tentang semua godaan dan cubitan yang berlangsung selama jam kerja. Aku bekerja pada sebuah firma hukum, yang sangat disiplin dan professional, dan bercanda apalagi saling goda merupakan hal yang tak bisa ditolerir dalam perusahaan. Dan hal itu mempengaruhi sikap dan perilakuku dalam keseharian, aku menjadi seorang yang tegas dan formal. Aku tak begitu yakin bisa berbaur dengan rekan kerja Dayu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu sendiri adalah seorang wanita periang dan mudah bergaul. Berumur 30 tahun, potongan rambut pendek seleher dan berwajah manis. Dia agak sedikit pendek dibawah rata-rata, pahanya ramping yang bermuara pada pinggang dengan pantat yang kencang. Sosok mungilnya berhiaskan sepasang payudara yang lumayan besar dan namun bulat kencang meskipun tanpa memakai penyangga bra. Kami berjumpa dibangku kuliah dan menjadi dekat dalam waktu singkat lalu menikah tak lama setelah kami lulus. Dia tak begitu berpengalaman dalam hal seks, meskipun aku bukanlah lelaki pertama yang berhubungan seks dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala hari perjalanan itu tiba, kami mengenderai mobil menuju resort tersebut. Dalam perjalanan kesana Dayu menceritakan kalau dia telah membeli sebuah bikini baru untuk akhir pekan kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau pamer tubuh ke orang-orang, ya?” candaku padanya.&lt;br /&gt;“Mungkin,” jawabnya dengan tersenyum.&lt;br /&gt;“Maksudmu?” tanyaku penasaran. Dayu yang kutahu tak begitu suka mempertontonkan tubuhnya, aku selalu merasa sulit untuk sekedar memaki pakaian renang yang minim.&lt;br /&gt;“Nggak ada, bukan apa-apa” Dayu tertawa menggoda suaminya. “Sudah pernah kubilang padamu kan kalau dikantor kita senang bercanda dan saling menggoda. Liburan ini pasti tak ada bedanya, hanya tempat dan suasananya yang beda untuk sedikit genit didepan para pria.”&lt;br /&gt;“Kamu juga genit di depan teman-teman priamu?” tanya Wisnu gusar.&lt;br /&gt;“Bukan cuma aku, sayang. Semua teman wanitaku juga melakukannya kok,” jawab Dayu menjelaskan. “Cuma sedikit genit, menggoda dan bercanda. Kamu tahu, kadang saling bercanda mmm… yeah bercanda agak jorok, seks dan juga sedikit tontonan.”&lt;br /&gt;“Tunggu, apa?” suara Wisnu agak meninggi. “Tontonan? Kamu mempertontonkan tubuhmu ke teman-teman priamu?”&lt;br /&gt;“Oh, sayang, ini bukan sungguh-sungguh,” jawab Dayu. “Cuma menggoda kok. Hanya sedikit menyingkap baju, kadang sedikit memberi bonus dengan memperlihatkan dada sebentar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak, isteriku memperlihatkan payudaranya pada pria lain? Pria lain di kantornya? Ini bukan seperti sosok Dayu yang kukenal selama ini. Hanya seberapa dekat dia dengan teman kerja prianya? Kepalaku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk tak karuan hingga akhirnya kami tiba di resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kuparkir kendaraan kami. Begitu memasuki lobby dengan bawaan kami, sekelompok orang melambai ke arah Dayu untuk mendekat. Mereka adalah beberapa orang dari rekan-rekan kerjanya dan Dayu memperkenalkanku. Alan, Dave, Eddie, Gary adalah nama taman-teman prianya dan yang wanitanya Sasha, Kristin, Melly dan Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata pada Dayu kalau semua orang harus bertemu di kolam renang pribadi dan minum-minum dulu sebelum berikutnya pergi ke pantai. Kami setuju untuk menyusul mereka secepatnya setelah menaruh bawaan dikamar dan berganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja mereka beranjak, Alan sudah beraksi dengan mencubit pinggul Dayu yang langsung memekik kegelian dan mendorong tubuh Alan menjauh. Aku sangat terkejut mendapati hal tersebut dan hampir saja teriak marah, tapi mereka semua mulai tertawa, termasuk Dayu, jadi aku pikir inilah sebagian dari cara mereka saling menggoda dan bercanda. Aku tak mau dianggap seorang yang kolot dan tak bisa berbaur di lima menit pertama kehadiranku, jadi aku hanya diam saja membiarkan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kami menuju ke kamar kami dan mulai berganti pakaian dengan pakaian renang. Dayu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan kemudian keluar dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Aku ingin melihat apa yang dipakainya dibalik handuk tersebut, tapi dia langsung memotongku sebelum mampu berkata sepatah kata “Ayo, kita turun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraih sebuah buku dan berjalan mengikutinya menuju kolam renang. Kantor Dayu pasti sudah menyewa seluruh kolam tersebut, karena ada logo perusahaan pada semua handuk dan pada tulisan selamat datang. Ada sekitar lima puluhan orang di area kola mini. Kebanyakan dari mereka adalah pria, dan yang membuatku kecewa, kebanyakan dari mereka terlihat muda dan menarik. Para wanitanya juga tak ada yang mengecewakan. Kebanyakan mereka hanya berbikini minim memperlihatkan keindahan tubuh muda mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku hendak bertanya dimanakah teman-temannya yang tadi, saat kulihat isteriku sedang membuka handuk penutup tubuhnya. Apa yang terpampang dihadapanku sangat membuatku terpaku, dibalik handuk tersebut dia memakai sebuah bikini warna merah tua dan… sangat minim. Bagian atasnya hanya menutup sebagian depan dari payudaranya, dan tali penahannya yang terkalung dileher jenjangnya terlihat seakan siap untuk dilepas. Sedangkan bagian bawah hampir menyerupai thong, memperlihatkan keindahan paha dan bongkahan pantatnya. Dia terlihat begitu menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran dia menutupinya dengan handuk saat dikamar tadi, pikirku. Dia tahu kalau aku pasti akan meributkan apa yang dipakainya. Baru saja aku hendak berkomentar namun terpotong oleh sebuah teriakan dari seberang kolam, “Hey, lihat Dayu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan langsung disusul oleh riuh rendah suara yang diiringi siulan nakal dari para pria di area kolam tersebut. Dayu hanya tertawa riang lalu melakukan sebuah pose, memperlihatkan perutnya yang rata dan kemulusan pahanya sambil mengoleskan sun-block ke tubuhnya. Dia menoleh ke arahku dan berkata, “Lihat kan? Hanya menggoda saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk dan terdiam. Aku harapdia mengatakan sesuatu tentang betapa terbukanya pakaian renang yang dia pakai ini tapi itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, ini tetap hanya sebuah bikini. Jika para pria ingin memandangi tubuh isteriku, apa salahnya dengan itu? Bahkan aku bisa merasa bangga akan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rebah di atas bangku malas dan mulai membuka buku yang kubawa sedangkan Dayu berjalan menghampiri teman-temannya. Aku berencana menghabiskan waktu dengan membaca, namun mataku terus melayang ke arah dimana isteriku berada. Setiap kali aku melihat Dayu, dia tengah asik bercanda dengan teman prianya. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca, dan hanya memperhatikan setiap tingkah lakunya sambil terus pura-pura membaca bukuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu sudut kolam tersebut ada bar yang menyuguhkan berbagai macam minuman dan sudah berulang kali aku kesana untuk sebotol bir dingin. Kelihatannya minumannya sudah dipersiapkan dalam jumlah dan ragam yang banyak untuk membuat pesta ini berjalan meriah. Kuamati Dayu sudah berulang kali pergi ke sana untuk segelas margaritas dan entah sudah berapa banyak orang yang pergi mengambilkan minuman untuknya. Namun yang jelas dia semakin bertambah mabuk seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi para pria yang mendorongnya dan juga para wanita lainnya untuk minum lebih banyak lagi. Pada suatu kesempatan Dave menantang Dayu untuk berlomba menghabiskan minuman dalam gelas mereka, yang tentu saja dimenangkan Dave dengan mudah, melihat kondisi Dayu sudah lebih dari sekedar mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku mulai kembali membaca, Dayu datang menghampiri. Dia baru saja keluar dari dalam kolam dan tubuhnya basah kuyup. Dengan kain penutup tubuh yang dia kenakan menempel erat disetiap lekuk tubuhnya, membuat dia semakin terlihat menggoda.&lt;br /&gt;“Hai, sayang,” sapanya. “Sudah lebih santai?”&lt;br /&gt;“Yeah,” jawab Wisnu. “Kamu sendiri, bisa bersenang-senang?”&lt;br /&gt;“Oh, ya,” dia tersenyum manja. “Aku sudah agak mabuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu terlihat jelas, tapi aku tak mau lebih mendesaknya. Dayu mengeringkan tubuhnya dengan handuknya, lalu melangkah kembali ke teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali pada bacaanku, hingga tiba-tiba saja kudengar suara jeritan. Dengan cepat aku menoleh ke arah suara tersebut, tepat disaat kulihat Melly yang tengah menutupi payudara telanjangnya dengan tangannya. Salah satu dari pria tersebut menarik lepas penutup dadanya dan sekarang tengah berlari dipinggiran kolam dengan menenteng penutup dada tersebut. Melly mengejarnya, dengan lengan menyilang menutupi dadanya hingga si pria berhenti lalu menangkap tubuh Melly dan menariknya bersamanya menceburkan diri ke dalam kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dengar sebuah suara jeritan lagi dan salah seorang wanita yang tak kukenal sekarang juga tak berpenutup dada. Alih-alih menutupi payudaranya, kali ini si wanita hanya membiarkan saja pria yang menarik lepas penutup dadanya itu berlari menjauh dan dia terus mengobrol dengan temannya seakan tak terjadi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang sekeliling untuk mencari Dayu. Dia sedang sedang mengobrol dengan seorang pria di kolam yang dangkal. Kuperhatikan Alan sedang berenang ke arahnya dari belakang dan muncul tepat dibelakangnya lalu menyentakkan tali penahan penutup dadanya di leher. Penutup dada Dayu tertarik erat menekan daging bulat kenyal tersebut dan tiba-tiba saja payudaranya terayun meloncat lepas dari penutupnya. Dia memekik dan tubuhnya berbalik ke belakang untuk memukul Alan. Alan mengangkat penutup dada tersebut tinggi ke atas, Dayu hanya tertawa keras lalu melompat mencoba merebutnya. Nampak payudaranya terayun seiring tiap lompatannya, puting merah mudanya terlihat jelas mencuat keras membuat seluruh pria dikolam tersebut bersorak riuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dave bergerak ke belakang Dayu lalu menangkap pinggangnya dan mengangkatnya tinggi tinggi agar bisa meraih penutup dada yang dipegangi Alan. Dayu rebut penutup dada tersebut dari tangan Alan lalu mengibaskannya pada Alan dengan tertawa genit. Dayu mulai memakai kembali penutup dadanya, namun masih kalah cepat dengan tangan Alan yang menjulur ke arahnya untuk meremas payudara telanjangnya yang sebelah kiri. Kembali Dayu memekik dan menepis tangan Alan untuk menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya para wanita tak membiarkan begitu saja dengan perbuatan para pria terhadap penutup dada mereka. Beberapa menit setelah Dave membantu Dayu tadi, nampak Melly berjalan mengendap dibelakang Dave yang sekarang berdiri di depan Bar lalu menarik turun celana renang yang dipakai Dave. Sebuah batang penis yang besar menyembul keluar dan seluruh wanita menjerit riuh tak terkecuali Dayu. Dave hanya tertawa keras dan mulai mengejar Melly yang berlari mengitari tepian kolam. Dengan konyol Dave berlari mengejr dan mengibas-ngibaskan batang penisnya ke arah Melly yang berlari, menjerit dan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit kemudian, Dayu keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku. Sebelum dia mampu mengucap sepatah kata, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, sayang, bukan apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang, itu saja,” jawab Dayu.&lt;br /&gt;“Aku rasa melihatmu telanjang dada dan juga menyentuh dadamu bukan sekedar bercanda atapun senang-senang!” kataku ketus.&lt;br /&gt;“Sayang, jangan terlalu kolot begitu. Lagipula aku sudah memakai penutup dadaku lagi. Lihat para pria itu, mereka melepas beberapa penutup dada teman wanitaku yang lainnya lagi dan sebagian dari para merka, mereka tak ambil pusing untuk memakainya lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhasil memojokkanku. Beberapa teman wanitanya sekarang sudah mondar-mandir dengan telanjang dada, terkadang salah seorang pria akan mendekat untuk sekedar menyentuh atau meremas payudara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagipula,” Dayu membungkuk dan tiba-tiba memelankan suaranya, “Bukankah ini membuatmu terangsang melihat para pria melirikku? Mengintip dadaku dan menyentuhnya sedikit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi terdiam karena memang itu kenyataannya. Aku merasakan rangsangan setelah melihat para pria tersebut menggoda isterinku, namun aku juga merasakan cemburu yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua hanya coba bersenang-senang dan tak ada yang dirugikan,” sambung Dayu lagi. “Coba pikirkan saja betapa nakalnya isterimu ini, membiarkan para pria melihat dadanya dan menyentuhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menganggukkan kepala pelan dan dia tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku merasa harus mengucapkan sesuatu, namun moment tersebut telah musnah. Lagipula, jika para pria berlaku seperti itu pada semua wanita di sini, tak ada alasan bagiku untuk merasa marah. Aku coba lagi untuk konsentrasi pada buku yang kubawa, namun tak berapa lama rasa kantuk melanda. Aku ambil kacamatku lalu dengan cepat terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku terbangun, suasana menjadi sangat riuh di dalam kolam. Kebanyakan para wanita yang berada disana sudah tak memakai penutup dada lagi, termasuk Kristin yang tengah berjalan lewat di depan tempatku berada. Kristin berbadan lebih tinggi dibandingkan Dayu, tapi payudaranya lebih kecil. Dadanya terekspos bebas, dan penutup dadanya terlihat menggantung dilehernya, mungkin hasil usil beberapa pria yang melepaskan pengaitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih merasa ngantuk namun sudah terjaga, dan dengan kaca mata yang menutupi mataku terlihat aku masih tertidur. Aku sapukan pandangan ke seantero area kolam untuk mencari istriku dan kusaksikan suasana sudah semakin memanas, beberapa pasang pria wanita bahkan terlihat saling bercumbu di dalam kolam renang tanpa mempedulikan sekeliling lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kutemukan keberadaan Dayu, yang sedang duduk dipinggir kolam dengan kakinya masuk ke dalam air. Alan menemaninya di dalam kolam, lengannya bertumpu di atas paha Dayu. Keduanya terlihat asik ngobrol dengan wajah yang hampir bersentuhan. Ekspresi wajah Dayu terlihat jengah, sedangkan Alan terlihat sedang merajuk tentang sesuatu. Sebentar-sebentar terdengar suara tawa renyah pecah dari mulut Dayu, terdengar jelas kalau dia masih dalam kondisi mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit berselang, terlihat Dayu mengangkat lengannya dan mengangkat salah satu tali penahan penutup dadanya dibahunya kemudian pelan-pelan dia turunkan dari bahunya. Alan mengucapkan sesuatu yang kembali membuat tawa isteriku pecah. Kemuadian dia memegang tangan Dayu dan menariknya masuk ke dalam air diantara kedua pahanya. Brengsek, umpatku dalam hati. Apa Alan sudah membuat isteriku menyentuh batang penisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu memekik terkejut pada awalnya lalu kembali dia tertawa. Dia tetap membiarkan tangannya berada di dalam air, lalu mulailah terlihat dia menggerakkan tangannya. Kembali Alan mengucapkan sesuatu dan Dayu tertawa lagi, lalu dia angkat tangannya dari dalam air dan menurunkan tali penahan penutup dadanya yang satu lagi dari bahunya. Dia memandang sekilas kearahku, dan aku terdiam tak berani bergerak. Aku pasti telah membuatnya yakin kalau aku masih tertidur lelap karena kemudian dia menoleh kembali pada Alan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup dadanya sekarang hanya bergantung ditahan hanya oleh daging bulat payudaranya saja. Alan sekarang memandanginya tanpa sungkan-sungkan lagi dan mengobrol dengan penuh semangat. Aku tak tahu apa yang tengah dia ucapkan, tapi melihat isteriku yang terlihat melakukan setiap apapun yang Alan pinta, itu pasti sebuah paduan sempurna dari sebuah humor dan rayuan. Beberapa saat berikutnya kembali tangan Dayu masuk ke dalam air. Kali ini dia terlihat menahan nafas. Apapun yang dia pegang di dalam air tersebut, itu membuatnya terkesan. Alan tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat tawa Dayu lebih pecah dengan kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Dayu mengangkat tangannya dari dalam air kemudian meremas kedua lengannya rapat-rapat. Belahan daging payudaranya terangkat sedikit, cukup untuk membuat penutup dadanya sedikit lebih turun lagi, membuat putingnya sekarang terekspos di hadapan mata Alan. Putingnya yang merekah terlihat sangat keras dan mencuat menggiurkan dari bulat kenyalnya payudaranya yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan hal itu membuatku sangat terkejut sekaligus merasa api birahiku berkobar hebat, batang penisku langsung tebangun dan ereksi penuh. Aku tak bisa percayai kalau isteriku telah mengekspos dirinya dihadapan seorang pria seperti itu, dan aku tak bisa percaya kalau diriku sendiri merasa terangsang karena melihat kejadian tersebut. Apa yang salah dengan diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alan sangat menikmati waktunya mengamati keindahan payudara Dayu untuk bebeapa waktu, kemudian dia membungkuk mendekat ke arah Dayu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dayu tertawa genit dan kembali tangannya bergerak masuk ke air. Keduanya diam tak berbicara untuk beberapa saat sedangkan tangan Dayu bergerak naik turun di dalam air. Terlihat nyata kalau Dayu tengah mengocok batang penis Alan. Beberapa detik kemudian Dayu menoleh ke arahku dengan ragu-ragu. Aku yakin jika dia melihatku bergerak, maka dia akan langsung menghentikan apapun yang tengah dia lakukan itu, tapi aku tetap diam tak bergerak. Aku merasa seberapa besar rasa cemburu dalam dadaku, maka sebesar itu pula keinginanku untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memastikan kalau aku masih tetap tertidur, Dayu turun dari tepian kolam lalu masuk ke dalam air. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Alan, penutup dadanya menempel diperutnya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam air lalu keduanya nampak sedikit menggeliat untuk beberapa saat. Aku hanya mampu menebak apa yang tengah mereka lakukan hingga celana renang Alan tiba-tiba saja muncul dari dalam air disamping tubuhnya. Dayu telah melepaskannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tertawa berbarengan, lalu kembali Dayu memasukkan tangannya kedalam air. Nafas Alan mulai terlihat berat dan tatapan matanya terpaku pada payudara indah milik isteriku. Dayu hanya tertawa genit atas tatapan mata Alan pada payudaranya tersebut dan bahkan beberapa kali nampak dia sedikit menggoyangkan dadanya untuk memberikan sedikit tontonan pada Alan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat dan semakin bertambah cepat, sementara itu Atatapan mata Alan tak pernah lepas dari payudara isteriku. Tiba-tiba Alan memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Dayu melihat ke bawah dan menatap air seakan terhipnotis saat Alan mulai menggelinjang. Setelah beberapa saat dia berhenti menggelinjang dan membuaka matanya kembali. Lalu Alan membisikkan sesuatu padanya yang membuat Dayu menjerit dengan nada genit marah dan mendorong Alan menjauh. Alan tertawa dan menggenggam celana renangnya, sedangkan Dayu memakai penutup dadanya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tak yakin lagi apakah yang mampu membuatku terkejut lagi, menyaksikan isteriku memasturbasi pria lain didepan mataku ataukah kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Melihat sekeliling, kusaksikan begitu banyak orang yang saling mencumbu, dan aku rasa mereka berdua merasa sangat yakin kalau tak ada seseorangpun yang memperhatikan apa yang mereka perbuat. Aku bertanya kalau diriku masih seorang pria lugu dan kolot lagi sekarang, benarkah begitu? Benakku menjawab, masih, namun batang penisku yang ereksi berkata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah jam berikutnya, Kristin berdiri, masih bertelanjang dada mengumumkan bahwa saatnya untuk pergi ke pantai telah tiba. Perusahaan telah menyewa beberapa van untuk mengangkut semua orang disana dan tidak memperbolehkan memakai mobil sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura baru bangun dari tidurku saat Dayu berjalan mendekatiku. Dia masih agak mabuk, jika tak mau dikatakan mabuk dan kuputuskan untuk melihat apakah dia akan mengungkapkan semuanya. “Ada yang terjadi lagi saat aku tertidur?”&lt;br /&gt;“Tak begitu banyak, sayang,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Ada lagi yang mencuri lepas penutup dada?” desakku.&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya istriku dengan nada menggoda. “Apa kamu ingin dengar tentang itu?”&lt;br /&gt;“Mungkin,” jawabku, meskipun dengan cara penyampaiannya itu membuatku terdengar sangat ingin mendengarnya.&lt;br /&gt;“Well, tak ada lagi yang mencuri lepas penutup dada, tapi Alan masih ingin melihat payudaraku dan dia terus merajuk. Jadi kupikir dia juga sudah melihatnya, aku memberinya sedikit bonus lagi.”&lt;br /&gt;“Oh,” jawabku.&lt;br /&gt;“Jadi kuturunkan sedikit penutup dadaku dan membiarkan dia melihatnya. Tapi hanya itu saja. Tak apa-apa kan sayang? Kamu tak marah padaku karena sudah memperlihatkan payudaraku sebentar pada teman priaku?” jawabnya dengan nada merajuk.&lt;br /&gt;“Aku rasa begitu…” jawabku datar. Aku sedang membayangkan dia memasturbasi Alan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengemasi handuk kami dan kemudian berjalan mengikuti yang lain menuju ke area parkir. Kami masuk ke dalam van yang semua orang di dalamnya tak kukenal lalu mulailah kami berangkat menuju ke pantai. Jalanan yang dilalui sangat jelek dan membuat van yang kami tumpangi terlonjak-lonjak, namun aku tak begitu merasakannya karena aku tengah fokus pada usaha untuk mengingat apa yang kusaksikan pada Dayu dan Alan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba di pantai, kuperhatikan kalau perusahaan juga sudah mengeset sebuah erena untuk permainan bola voli lengkap dengan net-nya dan segera saja Kristin dan Nana sudah berinisiatif untuk memuali sebuah pertandingan. Kuputuskan untuk rebah diatas pasir saja dan melihat, berusaha untuk menata perasaan dan melegakan himpitan dalam dada, sedangkan Dayu langsung bergabung dalam permainan. Kedua team terbagi dalam kelompok wanita dan pria. Sebenarnya pertandingan tersebut menyenangkan untuk disaksikan karena para pemainnya ternyata lumayan mahir dan juga karena para wanita terlihat begitu menawan saat melompat dalam balutan bikini minim mereka. Seiring jalannya pertandingan, suasana semakin bertambah panas, kata-kata jorokdan ejekan penuh sendau gurau terus bersahutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tibalah saatnya bagi isteriku untuk serve. “Siap-siap guys, kali ini kalian ak akan bisa mengemblikan!” teriaknya.&lt;br /&gt;“Kamu mau bertaruh untuk penutup dadamu?” teriak Eddie membalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung terdengar riuh rendah suara menyambut dari para penontonnya. Dayu terdiam beberapa saat, mimik wajahnya menggambarkan ekspresi yang sangat seksi kemudian belas menyahut, “Kalau kamu tak bisa mengembalikannya, kamu harus melepas celanamu!”&lt;br /&gt;“Ok, tapi itu tak akan terjadi sayang!” balas Eddie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu merespon dengan melempar bola ditangannya tinggi-tinggi dan mengirimkan sebuah serve yang sangat kuat. Aku tak yakin berapa banyak rekan kerjanya yang tahu, kalau dia saat kuliah dulu termasuk andalan dalam team bola voli. Bola tersebut mengarah sangat sesuai dengan yang dia inginkan, mendarat dengan tajam diantara dua pemain yang paling payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wanita bersorak menyambutnya sedangkan para pria terlihat menepuk kepalnya sambil mengerang kesal. Eddie bersiul dan menghadap ke arah Dayu, kemudian mencengkeram celananya kemudian menurunkannya. Batang penisnya tak sepanjang milik Dave namun jauh lebih besar. Benar-benar cukup besar untuk mengundang siulan dan teriakan dari para wanita. Dayu menatapnya dengan senyum birahi tergambar pada wajahnya. Belum pernah diamenatap bang penisku dengan ekspresi seperti itu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu bersiap untuk serve berikutnya dan berteriak pada seorang pria yang tak kukenal, “Hey, Don! Mau bertaruh yang sama juga?”&lt;br /&gt;Doni melihat ke arah Eddie, lalu beralih ke dada isteriku dan kemudian menjawab, “Tentu saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu memberikan sebuah serve penuh tenaga lagi, namun kali ini para pria sudah lebih siap menyambutnya. Salah seorang pria melompat menyambut datangnya bola, bola tersebut melayang cukup tinggi bagi Dave untuk menyambutnya dengan smash yang keras. Para wanita terlihat terkejut dengan serangan tersebut, dan begitu bola mendarat mulus diatas pasir, para pria berteriak menyambutnya, “Lepas! Lepas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganna, dia tertawa malu, lalu tangannya bergerak kebelakang tubuhnya untuk melepaskan penutup dadanya. Dia menahannya didada untuk beberpa saatdan kemudian melepas kain penutup dada tersebut ke samping. Payudara bulat indahnya yang dihiasi putting merah mencuat terpampang jelas tanpa penghalang lagi. Para pria mulai bersiut dan berteriak menyambutnya, sedangkan Dayu tampak memerah wajahnya dan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu memainkan sisa pertandingan dengan bertelanjang dada, membuat semua orang mendapatkan sebuah tontonan indah. Setiap kali dia berlari atau melompat untuk mengembalikan bola, payudaranya akan memantul dengan seksi. Kuperhatikan semua selangkangan para pria terlihat menonjol karena ereksinya melihat semua gerakan isteriku, khususunya Eddie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian game tersebut berakhir dengan kemenangan dipihak team isteriku. Dayu dia berjalan memungut penutup dadanya, tapi tak memakainya kembali. Lalu dia berjalan menghampiri Eddie, yang baru saja mengambil celananya. Kuamati dia agak merentangkan punggungnya ke belakang, membuat payudaranya lebih menonjol kedepan. Mereka mulai mengobrolkan sesuatu, dan kuperhatikan pandangan isteriku lebih sering tertuju pada batang penis besarnya Eddie dan mata Eddie seakan juga tak mau lepas dari dada isteriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang penis tersebut. Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke depan dan menggenggam batang penis milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vagina isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit, membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat Dayu menaikkan penutup tubuh bawahnya dengan diiringi sorakan para pria, namun dia tak memakai kembali penutup dadanya. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduannya sekarang, lalu Kristin meminta semua orang untuk kembali ke resort, semuanya diminta untuk berkumpul kembali di hot tub jam 10 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai berkemas dan berjalan menuju mobil, kami berjalan dengan santai dan saat kami tiba ke tempat parkir, yang tersisa hanya sebuah mini-van kecil dan orang yang masih ada berjumlah delapan orang. Iseriku adalah satu-satunya wanita dikelompuk ini dan pria yang kukenal dalam grup ini hanyalah Gary dan Dave. Garry naik ke kursi pengemudi dan menyuruh kita semua untuk segera masuk ke dalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusaja aku hendak menyuruh isteriku agar duduk di kursi belakang, namun Dave yang berada dikursi depan berkata, “Hey, Dayu, duduk disini saja, kupangku! Biar semuanya cukup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu sama sekali tak melirikku untuk meminta persetujuan. “Oke,” dia tertawa manja, “Tapi jangan macam-macam!” Kemudian dia naik ke pangkuan Dave, dengan masih hanya memakai penutup tubuh bawahnya saja. Para pria yang lainnya dengan cepat saling berebut naikke kursi tengah, membuatku terpaksa duduk jauh dibelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang kecuali aku dan Gary sudah dalam keadaan lumayan mabuk. Aku duduk dibelakang, disamping seorang pria yang keadaannya sudah mabuk berat, dan berbicara tentang sepak bola dengan suara yang sangat keras. Semua orang nampak asik dengan topik yang diangkat pria ini, jadi ada empat orang pria yang mabuk saling teriak satu sama lainnya dalam mini-van ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak begitu ingin ikut masuk dalam pembicaraan mereka, karena aku ingin konsentrasi mengawasi isteriku yang berada di depan. Aku tak mau Dave mengambil kesempatan dlam situasi ini. Sudut pandangnku sangat kurang menguntungkan dan aku harus membungkuk ke depan untuk dapat melihat apa yang terjadi dikursi depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya kulihat isteriku nampak bersandar ke tubuh Dave di belakangnya, yang berusaha memasang sabuk pengaman ke tubuh mereka berdua. Itu membuatnya harus meraih kedepan dan tangannya menyentuh payudara Dayu karenanya. Dave melakukannya lebih lama dari yang seharusnya, tapi Dayu hanya membiarkannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai memasuki jalanan yang jelek, membuat mini-van ini melompat-lompat dan yang berada didalamnya terguncang. Ditengah guncangan yang terjadi itu kuamati tangan Dave yang semula berada di dada Dayu bergeser ke pahanya. Keduanya asik mengobrol dan tertawa-tawa, tapi karena keberadaanku di belakang dan ditambah pula suar berisik para pria mabuk ini yang membicarakan sepak bola dengan sura yang keras membuatku dapat mendengar apa yang tengah dibcarakan Dayu dengan Dave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari pria mabuk ini menoleh padaku dan bertanya tentang team sepak boal favoritku. Aku berusaha untuk tetapa fokus pada kejadian di kursi depan, tapi aku tak ingin menarik perhatian para pria mabuk ini. Jadi kujawab pertanyaaan pria tersebut dan mulai masuk dalam perbicangan tentang sepak bola ini. Jalanan yang kami lalui bertambah semakin parah, dan aku harus susah payah menjaga posisiku agar tetap stabil dan pada perbincangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akhirnya aku bisa melirik ke arah depan lagi, keperhatikan Dayu dan Dave sudah tak memakai sabuk pengaman lagi. Tak ada yang kelihatan aneh. Tangan Dave masih berada dipinggang isteriku, meskipun sekarang posisi duduk Dayu agak lebih naik di pangkuan Dave dan terguncang naik turun. Kupikir guncangan tersebut disebabkan oleh buruknya kondisi jalan, namun saat mobil berhenti dilampu merah, kuperhatikan tubuh Dayu tetap bergerak naik turun. Aku tak bisa melihat ekspresi keduanya dan tiba-tiba saja sebuah prasangka buruk menyergap otakku, mungkin saat ini Dave sedang menyetubuhinya. Kecurigaanku semakin besar saat kuamati mereka berdua sama sekali diam tak saling bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisa perjalanan aku membungkuk ke depan dan mengamati tubuh isteriku terayun naik turun, menerka-nerka tentang kemungkinan kemungkin yang terjadi dikursi depan. Setelah sekitar dua puluh menitan, mobil berbelok arah dan sudah tampak resort di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang paling terakhir keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menyusul Dayu yang sudah berjalan didepan bersama Dave dan Gary. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, kuperhatikan kalau wajahnya tampak memerah dan dia sedikit berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey,” kataku, saat semua pria sudah berjalan menjauh didepan. “Apa yang sudah terjadi dikursi depan tadi?”&lt;br /&gt;“Apa? Apa yang sudah kamu lihat?” tanyanya, terdengar terkejut namun juga bersemangat.&lt;br /&gt;“Aku tak bisa melihat, tapi kuperhatikan kalau Dave terlihat sangat menikmati keadaannya,” jawabku mencoba berkilah.&lt;br /&gt;“Jangan marah, sayang, kami hanya bercanda saja,” dia mulai menjelaskan. “Dave terus mengeluh tentang celananya yang sangat sesak, jadi aku menyuruhnya untuk menurunkannya sedikit kalau dia mau. Sebenarnya aku cuma bercanda dan bermaksud menggodanya saja. Aku tak bermaksud agar dia benar-benar melakukannya, tapi dia sungguh-sungguh melakukannya. Andai saja kamu melihat betapa batang penisnya sungguh sangat besar ” terangnya dengan suara pelan namun punuh gairah&lt;br /&gt;“Sayang, batang penisnya itu sungguh besar. Aku menggeseknya dengan pantatku beberapa saat. Lalu dia sepertinya menarik penutup tubuh bawahku kesamping dan kepala penisnya menyelinap masuk ke dalam bibir vaginaku begitu saja. Aku rasa itu tak sengaja. Dan kamu tahu kondisi jalannya yang sangat parah kan? Tubuhku jadi terangkat naik turun dan itu membuat batang penisnya semakin masuk bertambah dalam, hingga akhirnya… kamu mungkin tak percaya sayang, batang penisnya jadi masuk semuanya! Tapi baru sebentar saja aku merasakan vaginaku terisi penuh, mobilnya menghantam gundukan yang besar dan batang penisnya jadi tercabut keluar begitu saja, lalu kubetulkan lagi penutup tubuh bawahku dan selesai, itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi wajahnya jadi bergairah dan menghiba disaat yang bersamaan. “Tak apa-apa kan sayang? Bukan masalah besar kan? Ini benar-benar kecelakaan dan lagipula dia tak sampai keluar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama sekali tak mampu bicara. Isteriku telah berterus terang dengan sangat gamblang kalau dia baru saja menyetubuhi seorang pria. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin membuat keributan besar di resort ini, di hadapan semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah… kalau dia tak sampai keluar, kurasa itu tak maslah,” akhirnya jawabku lirih.&lt;br /&gt;“Kamu sungguh suami yang sangat pengertian sayang!” teriaknya senang sambil memelukku. “Ayo, kita cari sesuatu untuk makan malam!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-6383041708939279595?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/6383041708939279595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=6383041708939279595' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/6383041708939279595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/6383041708939279595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/pesta-sex-yang-seru.html' title='Pesta Sex yang Seru'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-1639849911010439278</id><published>2009-03-01T22:53:00.002-08:00</published><updated>2009-03-01T23:05:05.360-08:00</updated><title type='text'>Sex Party dengan Cheerleader</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Sex Party dengan Cheerleader&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namaku Deny, aku seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak memiliki tampang yang cukup tampan atau badan yang atletis. Tetapi aku cukup lumayan untuk seorang cowok tidak terlalu jelek dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan. Tetapi yang sangat menarik dari diriku adalah kekayaan yang orangtuaku miliki. Setiap hari aku selalu berpergian dengan mengendarai Honda Estillo yang sangat gaul karena modifikasi yang aku lakukan, aku juga selalu mambawa HP Nokia 8250. Belum lagi sifatku yang royal terhadap setiap cewek cantik dan sexy, semakin membuatku dikejar cewek terutama para cewek matre.&lt;br /&gt;Di sekolahku terdapat berbagai macam ekstra kurikuler yang menarik, tetapi yang paling menarik untuk para cewek centil di sekolahku adalah ekstra kurikuler cheerleader, karena untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang dapat masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut adalah cewek-cewek yang memiliki tubuh seksi, tampang yang cantik dan keberanian dalam memakai baju minim di depan umum, karena para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas. Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak langsung hal ini membuat para cewek yang dapat masuk memiliki kebanggaan tersendiri karena berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang cantik dan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah mudah bagiku untuk mengajak mereka jalan dan “bermain” dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat “perek” cukup melekat dalam setiap anggota cheerleader, walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya karena menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota baru ini memiliki payudara dan pantat yang besar. Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok seperti hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang membuat payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menunjukkan pantat mereka yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat para perawan baru yang tersedia aku menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota baru yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka memiliki payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Melati adalah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat. Cewek ini adalah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang baru maupun yang lama. Mawar adalah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya bila dibanding Melati. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik adalah wajahnya yang manis dan cantik. Ia adalah cewek keturuna Jawa.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi aku belum akrab dengan mereka. Sehingga aku meminta bantuan salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang bernama Rani yang sebelumnya sudah sering aku nikmati tubuhnya, bahkan aku secara teratur berhubungan dengannya karena memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang aku mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang aku untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ini memang sensani yang belum pernah aku lakukan hanya sering aku bayangkan. Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh aku datang ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam minggu itu juga tetapi dengan syarat aku tidak pernah membahas kesepakatan ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan aku juga tidak boleh mengatakannya kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampai juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 aku segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat aku tetap terjebak kemacetan dan aku sampai di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya bila tidak macet aku hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk sampai ke villa tersebut. Sampai di sana, aku disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan mobil Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana aku langsung masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada saat itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah lama kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih. Melati dan Mawar langsung mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan mengatakan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja karena sudah sibuk dengan Melati dan Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, aku menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan aku mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya. Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, lalu aku mulai memuntir putingnya. Setelah itu aku juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya seperti halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka.&lt;br /&gt;“Ahhh… ahhh…” mereka berdua mulai mendesah saat puting mereka kuhisap.&lt;br /&gt;“Isep terus Den toked gue!” kata Melati.&lt;br /&gt;Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan aku semakin bersemangat menghisap puting mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan.&lt;br /&gt;“Ahhh,” aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara.&lt;br /&gt;Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya.&lt;br /&gt;“Ahhh… ahhh…” tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan… “Ahhh, ahhh…” keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mencium bibirnya dengan ganas dan melahap kedua putingnya, sambil aku gesek-gesekkan batang kemaluanku di atas liang kemaluannya, “Ahhh, Ahhh…” tubuh Melati mulai kembali menegang.&lt;br /&gt;“Den Ayo masukin batang kemaluan loe, gue udah nggak tahan,” aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan memasukkannya pelan-pelan, aku keluar-masukkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya, “Blessss,” dan “Ackhhh… Akchhhh…” Melati berteriak keras sekali karena kesakitan.&lt;br /&gt;Kudiamkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya sebentar dan mulai aku goyangkan pelan-pelan.&lt;br /&gt;Lama-lama Melati mulai tampak nikmat sambil terus mendesah, “Ahhh… Ahhh…”&lt;br /&gt;Aku pun berganti gaya dengan Melati di atas, tanpa disuruh Melati mulai memompa naik-turun batang kemaluanku dengan semangat, aku pun menggerakkan pantatku naik-turun sehingga terdengar bunyi “Cleb.. cleb…” yang cukup keras pada saat batang kemaluanku masuk ke liang kemaluannya dengan full-nya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahh, ahhh…” Melati mendesah-desah sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 7 menit kemudian Melati kembali meminta posisi kembali di bawah. Aku menyetubuhinya dengan sangat bernafsu, dan sektar 6 menit kemudian, “Ahhhhh, ahhhh… gue mau keluar Den…”&lt;br /&gt;“Tahan sedikit! gue juga…” kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan akhirnya,&lt;br /&gt;“Akhhh… ahhh…”&lt;br /&gt;Melati keluar duluan, dan tidak lama kemudian aku semakin mempercepat gerakanku, aku bertanya,&lt;br /&gt;“Mel, mau di luar apa di dalem?”&lt;br /&gt;“Di dalem aja,” jawabnya.&lt;br /&gt;Dan, “Crott… crott…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpelukkan sesaat dengan Melati dan melap keringat di sekujur tubuhnya dengan tanganku, Melati tampak sangat kelelahan. Tapi tiba-tiba Mawar membuatku telentang di atas ranjang, dengan ganasnya ia mulai membersihkan sisa sperma yang ada di ujung batang kemaluanku, dan terus menghisapnya dengan ganasnya. Tak lama kemudian batang kemaluanku kembali bangun dan siap tempur, staminaku tiba-tiba kembali pulih dan nafsuku kembali menggebu. Aku segera meremas pantat Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit aku habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, aku juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah karena foreplay yang kulakukan.&lt;br /&gt;“Masukkin kontol loe dong Den! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan…”&lt;br /&gt;Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir tempat tidur dengan posisi seperti mau merangkak. Aku mau melakukan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan aku masukkan sedikit, aku pegang dengan kuat kedua pahanya, dan secara tiba-tiba “Bless…” aku memasukkannya secara mendadak dan langsung seluruhnya, “Akhhh… akhhh…” Mawar berteriak dengan sangat keras karena selaput daranya robek mendadak. Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, karena pahanya telah aku tahan dengan kuat. Tidak lama kemudian Mawar mulai tenang, dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa lama kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, aku pun semakin mempercepat gerakanku.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh, ahhh…” Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari kaca besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku.&lt;br /&gt;Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari kaca besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama aku semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang aku lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, “Blesss, blesss…” aku dan Mawar sangat menikmatinya. Setelah melakukan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, aku mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara aku berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar dapat melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahh, ahhh,” Mawar terus mendesah selama aku setubuhi.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, “Ahhh,” Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, “Ahhh,” ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian,&lt;br /&gt;“Ahhhh, ahhhh… Den gue udah mau keluar lagi…”&lt;br /&gt;“Tahan sebentar! gue juga,” kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan, “Ahh, ahhh…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh…” Mawar mendesah panjang, dan aku pun mengeluarkan batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rani yang sejak tadi diam langsung menghisap batang kemaluanku dan membuka bajunya. Setelah agak lama aku kembali “on”, aku kembali bernafsu dan menelanjangi Rani dengan ganasnya. Kuhisap payudaranya dengan ganas dan kugigit lehernya sampai tampak merah-merah. Tanpa membuang waktu aku langsung memasukkan batang kemaluanku dan mulai menyetubuhinya dengan kedua pahanya di atas kedua pundakku.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah dan terasa olehku liang kemaluannya sudah basah, mungkin ia dari tadi sudah terangsang.&lt;br /&gt;Rupanya kamera yang tadi ia pegang telah diambil alih oleh Melati untuk merekam semua kegiatan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 6 menit menyetubuhi Rani, aku mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pingggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, sementara itu aku menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, dan setelah menyetubuhinya selama 15 menit, “Den, gue mau keluar,” dan… “Ahhh, ahhh,” Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Ia tidak sanggup meneruskan gaya tersebut, ia memilih melakukan doggy style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 5 menit melakukannya, ia kembali mengalami orgasme yang kedua, sementara aku terus menggenjotnya. Tidak lama kemudian aku juga mau keluar,&lt;br /&gt;“Ran, mao dimana?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Di mulut gue saja!”&lt;br /&gt;Ia langsung menghisap batang kemaluanku sambil mengurut-ngurut batang kemaluanku dengan jarinya dan “Ahhh…” aku keluarkan semua spermaku di mulutnya dan ia menelan seluruhnya. Ia terus menghisap batang kemaluanku hingga bersih dari sisa sperma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua kelelahan dan tertidur sebentar. Saat bangun, aku kembali bernafsu karena melihat 3 tubuh seksi tergeletak. Aku mulai kembali merangsang mereka dan mereka juga mulai merangsang diriku. Tubuh mereka kembali menegang dan aku pun mulai tambah bernafsu. Mereka bertiga berposisi seperti akan malakukan doggy style. Rani berada paling depan, Mawar di belakangnya, dan Melati berada di belakang mawar, sedangkan aku berada paling belakang dan mulai menyetubuhi Melati dari belakang, sedangkan Melati menjilat liang kemaluan Mawar, dan Mawar menjilat liang kemaluan Rani, sehingga semua dapat menikmati kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhhh,” terdengar mereka bertiga mendesah dan suara batang kemaluanku ketika memesuki liang kemaluan Melati yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian Rani mengalami orgasme disusul dengan Mawar. Tinggallah aku dan Melati meneruskan permainan kami.&lt;br /&gt;Tapi tak lama kemudian, “Ahhh, ahhh,” Melati pun mengalami orgasme, ia merasa kesakitan pada liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Tapi karena aku berum mengalami ejakulasi, Mawar berinisiatif dengan menggosokkan kedua payudaranya dengan baby oil sehingga tampak mengkilat batang kemaluanku dijepit di tengah kedua payudaranya dan aku bergerak maju-mundur dengan cepatnya.&lt;br /&gt;Sekitar 5 menit aku mau mengeluarkan spermaku dan, “Crott… crottt…” spermaku keluar di wajah Mawar tapi Rani segera memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan menelan seluruh spermaku walau agak terlambat karena sudah ada yang mengenai wajah dan rambut Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami menginap di villa itu, pada pagi harinya kami melakukannya lagi sampai 6 kali. Sungguh pengalaman ini sangat mengesankan dan terkadang sampai sekarang kami masih sering meneruskannya, walaupun berganti orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-1639849911010439278?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/1639849911010439278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=1639849911010439278' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1639849911010439278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1639849911010439278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/sex-party-dengan-cheerleader_920.html' title='Sex Party dengan Cheerleader'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-2523079428591931099</id><published>2009-03-01T22:53:00.001-08:00</published><updated>2009-03-01T22:57:30.157-08:00</updated><title type='text'>Sex Party dengan Cheerleader</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Sex Party dengan Cheerleader&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namaku Deny, aku seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak memiliki tampang yang cukup tampan atau badan yang atletis. Tetapi aku cukup lumayan untuk seorang cowok tidak terlalu jelek dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan. Tetapi yang sangat menarik dari diriku adalah kekayaan yang orangtuaku miliki. Setiap hari aku selalu berpergian dengan mengendarai Honda Estillo yang sangat gaul karena modifikasi yang aku lakukan, aku juga selalu mambawa HP Nokia 8250. Belum lagi sifatku yang royal terhadap setiap cewek cantik dan sexy, semakin membuatku dikejar cewek terutama para cewek matre.&lt;br /&gt;Di sekolahku terdapat berbagai macam ekstra kurikuler yang menarik, tetapi yang paling menarik untuk para cewek centil di sekolahku adalah ekstra kurikuler cheerleader, karena untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang dapat masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut adalah cewek-cewek yang memiliki tubuh seksi, tampang yang cantik dan keberanian dalam memakai baju minim di depan umum, karena para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas. Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak langsung hal ini membuat para cewek yang dapat masuk memiliki kebanggaan tersendiri karena berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang cantik dan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah mudah bagiku untuk mengajak mereka jalan dan “bermain” dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat “perek” cukup melekat dalam setiap anggota cheerleader, walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya karena menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota baru ini memiliki payudara dan pantat yang besar. Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok seperti hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang membuat payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menunjukkan pantat mereka yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat para perawan baru yang tersedia aku menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota baru yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka memiliki payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Melati adalah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat. Cewek ini adalah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang baru maupun yang lama. Mawar adalah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya bila dibanding Melati. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik adalah wajahnya yang manis dan cantik. Ia adalah cewek keturuna Jawa.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi aku belum akrab dengan mereka. Sehingga aku meminta bantuan salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang bernama Rani yang sebelumnya sudah sering aku nikmati tubuhnya, bahkan aku secara teratur berhubungan dengannya karena memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang aku mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang aku untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ini memang sensani yang belum pernah aku lakukan hanya sering aku bayangkan. Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh aku datang ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam minggu itu juga tetapi dengan syarat aku tidak pernah membahas kesepakatan ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan aku juga tidak boleh mengatakannya kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampai juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 aku segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat aku tetap terjebak kemacetan dan aku sampai di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya bila tidak macet aku hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk sampai ke villa tersebut. Sampai di sana, aku disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan mobil Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana aku langsung masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada saat itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah lama kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih. Melati dan Mawar langsung mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan mengatakan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja karena sudah sibuk dengan Melati dan Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, aku menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan aku mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya. Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, lalu aku mulai memuntir putingnya. Setelah itu aku juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya seperti halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka.&lt;br /&gt;“Ahhh… ahhh…” mereka berdua mulai mendesah saat puting mereka kuhisap.&lt;br /&gt;“Isep terus Den toked gue!” kata Melati.&lt;br /&gt;Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan aku semakin bersemangat menghisap puting mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan.&lt;br /&gt;“Ahhh,” aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara.&lt;br /&gt;Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya.&lt;br /&gt;“Ahhh… ahhh…” tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan… “Ahhh, ahhh…” keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mencium bibirnya dengan ganas dan melahap kedua putingnya, sambil aku gesek-gesekkan batang kemaluanku di atas liang kemaluannya, “Ahhh, Ahhh…” tubuh Melati mulai kembali menegang.&lt;br /&gt;“Den Ayo masukin batang kemaluan loe, gue udah nggak tahan,” aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan memasukkannya pelan-pelan, aku keluar-masukkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya, “Blessss,” dan “Ackhhh… Akchhhh…” Melati berteriak keras sekali karena kesakitan.&lt;br /&gt;Kudiamkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya sebentar dan mulai aku goyangkan pelan-pelan.&lt;br /&gt;Lama-lama Melati mulai tampak nikmat sambil terus mendesah, “Ahhh… Ahhh…”&lt;br /&gt;Aku pun berganti gaya dengan Melati di atas, tanpa disuruh Melati mulai memompa naik-turun batang kemaluanku dengan semangat, aku pun menggerakkan pantatku naik-turun sehingga terdengar bunyi “Cleb.. cleb…” yang cukup keras pada saat batang kemaluanku masuk ke liang kemaluannya dengan full-nya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahh, ahhh…” Melati mendesah-desah sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 7 menit kemudian Melati kembali meminta posisi kembali di bawah. Aku menyetubuhinya dengan sangat bernafsu, dan sektar 6 menit kemudian, “Ahhhhh, ahhhh… gue mau keluar Den…”&lt;br /&gt;“Tahan sedikit! gue juga…” kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan akhirnya,&lt;br /&gt;“Akhhh… ahhh…”&lt;br /&gt;Melati keluar duluan, dan tidak lama kemudian aku semakin mempercepat gerakanku, aku bertanya,&lt;br /&gt;“Mel, mau di luar apa di dalem?”&lt;br /&gt;“Di dalem aja,” jawabnya.&lt;br /&gt;Dan, “Crott… crott…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpelukkan sesaat dengan Melati dan melap keringat di sekujur tubuhnya dengan tanganku, Melati tampak sangat kelelahan. Tapi tiba-tiba Mawar membuatku telentang di atas ranjang, dengan ganasnya ia mulai membersihkan sisa sperma yang ada di ujung batang kemaluanku, dan terus menghisapnya dengan ganasnya. Tak lama kemudian batang kemaluanku kembali bangun dan siap tempur, staminaku tiba-tiba kembali pulih dan nafsuku kembali menggebu. Aku segera meremas pantat Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit aku habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, aku juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah karena foreplay yang kulakukan.&lt;br /&gt;“Masukkin kontol loe dong Den! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan…”&lt;br /&gt;Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir tempat tidur dengan posisi seperti mau merangkak. Aku mau melakukan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan aku masukkan sedikit, aku pegang dengan kuat kedua pahanya, dan secara tiba-tiba “Bless…” aku memasukkannya secara mendadak dan langsung seluruhnya, “Akhhh… akhhh…” Mawar berteriak dengan sangat keras karena selaput daranya robek mendadak. Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, karena pahanya telah aku tahan dengan kuat. Tidak lama kemudian Mawar mulai tenang, dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa lama kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, aku pun semakin mempercepat gerakanku.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh, ahhh…” Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari kaca besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku.&lt;br /&gt;Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari kaca besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama aku semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang aku lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, “Blesss, blesss…” aku dan Mawar sangat menikmatinya. Setelah melakukan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, aku mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara aku berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar dapat melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahh, ahhh,” Mawar terus mendesah selama aku setubuhi.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, “Ahhh,” Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, “Ahhh,” ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian,&lt;br /&gt;“Ahhhh, ahhhh… Den gue udah mau keluar lagi…”&lt;br /&gt;“Tahan sebentar! gue juga,” kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan, “Ahh, ahhh…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh…” Mawar mendesah panjang, dan aku pun mengeluarkan batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rani yang sejak tadi diam langsung menghisap batang kemaluanku dan membuka bajunya. Setelah agak lama aku kembali “on”, aku kembali bernafsu dan menelanjangi Rani dengan ganasnya. Kuhisap payudaranya dengan ganas dan kugigit lehernya sampai tampak merah-merah. Tanpa membuang waktu aku langsung memasukkan batang kemaluanku dan mulai menyetubuhinya dengan kedua pahanya di atas kedua pundakku.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah dan terasa olehku liang kemaluannya sudah basah, mungkin ia dari tadi sudah terangsang.&lt;br /&gt;Rupanya kamera yang tadi ia pegang telah diambil alih oleh Melati untuk merekam semua kegiatan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 6 menit menyetubuhi Rani, aku mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pingggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, sementara itu aku menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, dan setelah menyetubuhinya selama 15 menit, “Den, gue mau keluar,” dan… “Ahhh, ahhh,” Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Ia tidak sanggup meneruskan gaya tersebut, ia memilih melakukan doggy style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 5 menit melakukannya, ia kembali mengalami orgasme yang kedua, sementara aku terus menggenjotnya. Tidak lama kemudian aku juga mau keluar,&lt;br /&gt;“Ran, mao dimana?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Di mulut gue saja!”&lt;br /&gt;Ia langsung menghisap batang kemaluanku sambil mengurut-ngurut batang kemaluanku dengan jarinya dan “Ahhh…” aku keluarkan semua spermaku di mulutnya dan ia menelan seluruhnya. Ia terus menghisap batang kemaluanku hingga bersih dari sisa sperma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua kelelahan dan tertidur sebentar. Saat bangun, aku kembali bernafsu karena melihat 3 tubuh seksi tergeletak. Aku mulai kembali merangsang mereka dan mereka juga mulai merangsang diriku. Tubuh mereka kembali menegang dan aku pun mulai tambah bernafsu. Mereka bertiga berposisi seperti akan malakukan doggy style. Rani berada paling depan, Mawar di belakangnya, dan Melati berada di belakang mawar, sedangkan aku berada paling belakang dan mulai menyetubuhi Melati dari belakang, sedangkan Melati menjilat liang kemaluan Mawar, dan Mawar menjilat liang kemaluan Rani, sehingga semua dapat menikmati kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhhh,” terdengar mereka bertiga mendesah dan suara batang kemaluanku ketika memesuki liang kemaluan Melati yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian Rani mengalami orgasme disusul dengan Mawar. Tinggallah aku dan Melati meneruskan permainan kami.&lt;br /&gt;Tapi tak lama kemudian, “Ahhh, ahhh,” Melati pun mengalami orgasme, ia merasa kesakitan pada liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Tapi karena aku berum mengalami ejakulasi, Mawar berinisiatif dengan menggosokkan kedua payudaranya dengan baby oil sehingga tampak mengkilat batang kemaluanku dijepit di tengah kedua payudaranya dan aku bergerak maju-mundur dengan cepatnya.&lt;br /&gt;Sekitar 5 menit aku mau mengeluarkan spermaku dan, “Crott… crottt…” spermaku keluar di wajah Mawar tapi Rani segera memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan menelan seluruh spermaku walau agak terlambat karena sudah ada yang mengenai wajah dan rambut Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami menginap di villa itu, pada pagi harinya kami melakukannya lagi sampai 6 kali. Sungguh pengalaman ini sangat mengesankan dan terkadang sampai sekarang kami masih sering meneruskannya, walaupun berganti orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-2523079428591931099?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/2523079428591931099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=2523079428591931099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2523079428591931099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2523079428591931099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/sex-party-dengan-cheerleader_01.html' title='Sex Party dengan Cheerleader'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-8233782821112207587</id><published>2009-03-01T22:53:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T22:57:10.157-08:00</updated><title type='text'>Sex Party dengan Cheerleader</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Sex Party dengan Cheerleader&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namaku Deny, aku seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak memiliki tampang yang cukup tampan atau badan yang atletis. Tetapi aku cukup lumayan untuk seorang cowok tidak terlalu jelek dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan. Tetapi yang sangat menarik dari diriku adalah kekayaan yang orangtuaku miliki. Setiap hari aku selalu berpergian dengan mengendarai Honda Estillo yang sangat gaul karena modifikasi yang aku lakukan, aku juga selalu mambawa HP Nokia 8250. Belum lagi sifatku yang royal terhadap setiap cewek cantik dan sexy, semakin membuatku dikejar cewek terutama para cewek matre.&lt;br /&gt;Di sekolahku terdapat berbagai macam ekstra kurikuler yang menarik, tetapi yang paling menarik untuk para cewek centil di sekolahku adalah ekstra kurikuler cheerleader, karena untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang dapat masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut adalah cewek-cewek yang memiliki tubuh seksi, tampang yang cantik dan keberanian dalam memakai baju minim di depan umum, karena para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas. Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak langsung hal ini membuat para cewek yang dapat masuk memiliki kebanggaan tersendiri karena berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang cantik dan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah mudah bagiku untuk mengajak mereka jalan dan “bermain” dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat “perek” cukup melekat dalam setiap anggota cheerleader, walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya karena menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota baru ini memiliki payudara dan pantat yang besar. Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok seperti hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang membuat payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menunjukkan pantat mereka yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat para perawan baru yang tersedia aku menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota baru yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka memiliki payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Melati adalah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat. Cewek ini adalah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang baru maupun yang lama. Mawar adalah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya bila dibanding Melati. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik adalah wajahnya yang manis dan cantik. Ia adalah cewek keturuna Jawa.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi aku belum akrab dengan mereka. Sehingga aku meminta bantuan salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang bernama Rani yang sebelumnya sudah sering aku nikmati tubuhnya, bahkan aku secara teratur berhubungan dengannya karena memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang aku mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang aku untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ini memang sensani yang belum pernah aku lakukan hanya sering aku bayangkan. Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh aku datang ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam minggu itu juga tetapi dengan syarat aku tidak pernah membahas kesepakatan ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan aku juga tidak boleh mengatakannya kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampai juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 aku segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat aku tetap terjebak kemacetan dan aku sampai di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya bila tidak macet aku hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk sampai ke villa tersebut. Sampai di sana, aku disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan mobil Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana aku langsung masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada saat itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah lama kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih. Melati dan Mawar langsung mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan mengatakan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja karena sudah sibuk dengan Melati dan Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, aku menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan aku mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya. Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, lalu aku mulai memuntir putingnya. Setelah itu aku juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya seperti halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka.&lt;br /&gt;“Ahhh… ahhh…” mereka berdua mulai mendesah saat puting mereka kuhisap.&lt;br /&gt;“Isep terus Den toked gue!” kata Melati.&lt;br /&gt;Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan aku semakin bersemangat menghisap puting mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan.&lt;br /&gt;“Ahhh,” aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara.&lt;br /&gt;Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya.&lt;br /&gt;“Ahhh… ahhh…” tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan… “Ahhh, ahhh…” keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mencium bibirnya dengan ganas dan melahap kedua putingnya, sambil aku gesek-gesekkan batang kemaluanku di atas liang kemaluannya, “Ahhh, Ahhh…” tubuh Melati mulai kembali menegang.&lt;br /&gt;“Den Ayo masukin batang kemaluan loe, gue udah nggak tahan,” aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan memasukkannya pelan-pelan, aku keluar-masukkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya, “Blessss,” dan “Ackhhh… Akchhhh…” Melati berteriak keras sekali karena kesakitan.&lt;br /&gt;Kudiamkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya sebentar dan mulai aku goyangkan pelan-pelan.&lt;br /&gt;Lama-lama Melati mulai tampak nikmat sambil terus mendesah, “Ahhh… Ahhh…”&lt;br /&gt;Aku pun berganti gaya dengan Melati di atas, tanpa disuruh Melati mulai memompa naik-turun batang kemaluanku dengan semangat, aku pun menggerakkan pantatku naik-turun sehingga terdengar bunyi “Cleb.. cleb…” yang cukup keras pada saat batang kemaluanku masuk ke liang kemaluannya dengan full-nya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahh, ahhh…” Melati mendesah-desah sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 7 menit kemudian Melati kembali meminta posisi kembali di bawah. Aku menyetubuhinya dengan sangat bernafsu, dan sektar 6 menit kemudian, “Ahhhhh, ahhhh… gue mau keluar Den…”&lt;br /&gt;“Tahan sedikit! gue juga…” kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan akhirnya,&lt;br /&gt;“Akhhh… ahhh…”&lt;br /&gt;Melati keluar duluan, dan tidak lama kemudian aku semakin mempercepat gerakanku, aku bertanya,&lt;br /&gt;“Mel, mau di luar apa di dalem?”&lt;br /&gt;“Di dalem aja,” jawabnya.&lt;br /&gt;Dan, “Crott… crott…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpelukkan sesaat dengan Melati dan melap keringat di sekujur tubuhnya dengan tanganku, Melati tampak sangat kelelahan. Tapi tiba-tiba Mawar membuatku telentang di atas ranjang, dengan ganasnya ia mulai membersihkan sisa sperma yang ada di ujung batang kemaluanku, dan terus menghisapnya dengan ganasnya. Tak lama kemudian batang kemaluanku kembali bangun dan siap tempur, staminaku tiba-tiba kembali pulih dan nafsuku kembali menggebu. Aku segera meremas pantat Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit aku habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, aku juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah karena foreplay yang kulakukan.&lt;br /&gt;“Masukkin kontol loe dong Den! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan…”&lt;br /&gt;Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir tempat tidur dengan posisi seperti mau merangkak. Aku mau melakukan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan aku masukkan sedikit, aku pegang dengan kuat kedua pahanya, dan secara tiba-tiba “Bless…” aku memasukkannya secara mendadak dan langsung seluruhnya, “Akhhh… akhhh…” Mawar berteriak dengan sangat keras karena selaput daranya robek mendadak. Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, karena pahanya telah aku tahan dengan kuat. Tidak lama kemudian Mawar mulai tenang, dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa lama kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, aku pun semakin mempercepat gerakanku.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh, ahhh…” Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari kaca besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku.&lt;br /&gt;Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari kaca besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama aku semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang aku lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, “Blesss, blesss…” aku dan Mawar sangat menikmatinya. Setelah melakukan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, aku mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara aku berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar dapat melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahh, ahhh,” Mawar terus mendesah selama aku setubuhi.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, “Ahhh,” Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, “Ahhh,” ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian,&lt;br /&gt;“Ahhhh, ahhhh… Den gue udah mau keluar lagi…”&lt;br /&gt;“Tahan sebentar! gue juga,” kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan, “Ahh, ahhh…” aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh…” Mawar mendesah panjang, dan aku pun mengeluarkan batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rani yang sejak tadi diam langsung menghisap batang kemaluanku dan membuka bajunya. Setelah agak lama aku kembali “on”, aku kembali bernafsu dan menelanjangi Rani dengan ganasnya. Kuhisap payudaranya dengan ganas dan kugigit lehernya sampai tampak merah-merah. Tanpa membuang waktu aku langsung memasukkan batang kemaluanku dan mulai menyetubuhinya dengan kedua pahanya di atas kedua pundakku.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah dan terasa olehku liang kemaluannya sudah basah, mungkin ia dari tadi sudah terangsang.&lt;br /&gt;Rupanya kamera yang tadi ia pegang telah diambil alih oleh Melati untuk merekam semua kegiatan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 6 menit menyetubuhi Rani, aku mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pingggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, sementara itu aku menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhh,” Rani terus mendesah, dan setelah menyetubuhinya selama 15 menit, “Den, gue mau keluar,” dan… “Ahhh, ahhh,” Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Ia tidak sanggup meneruskan gaya tersebut, ia memilih melakukan doggy style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 5 menit melakukannya, ia kembali mengalami orgasme yang kedua, sementara aku terus menggenjotnya. Tidak lama kemudian aku juga mau keluar,&lt;br /&gt;“Ran, mao dimana?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Di mulut gue saja!”&lt;br /&gt;Ia langsung menghisap batang kemaluanku sambil mengurut-ngurut batang kemaluanku dengan jarinya dan “Ahhh…” aku keluarkan semua spermaku di mulutnya dan ia menelan seluruhnya. Ia terus menghisap batang kemaluanku hingga bersih dari sisa sperma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua kelelahan dan tertidur sebentar. Saat bangun, aku kembali bernafsu karena melihat 3 tubuh seksi tergeletak. Aku mulai kembali merangsang mereka dan mereka juga mulai merangsang diriku. Tubuh mereka kembali menegang dan aku pun mulai tambah bernafsu. Mereka bertiga berposisi seperti akan malakukan doggy style. Rani berada paling depan, Mawar di belakangnya, dan Melati berada di belakang mawar, sedangkan aku berada paling belakang dan mulai menyetubuhi Melati dari belakang, sedangkan Melati menjilat liang kemaluan Mawar, dan Mawar menjilat liang kemaluan Rani, sehingga semua dapat menikmati kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;“Ahhh, ahhhh,” terdengar mereka bertiga mendesah dan suara batang kemaluanku ketika memesuki liang kemaluan Melati yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian Rani mengalami orgasme disusul dengan Mawar. Tinggallah aku dan Melati meneruskan permainan kami.&lt;br /&gt;Tapi tak lama kemudian, “Ahhh, ahhh,” Melati pun mengalami orgasme, ia merasa kesakitan pada liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Tapi karena aku berum mengalami ejakulasi, Mawar berinisiatif dengan menggosokkan kedua payudaranya dengan baby oil sehingga tampak mengkilat batang kemaluanku dijepit di tengah kedua payudaranya dan aku bergerak maju-mundur dengan cepatnya.&lt;br /&gt;Sekitar 5 menit aku mau mengeluarkan spermaku dan, “Crott… crottt…” spermaku keluar di wajah Mawar tapi Rani segera memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan menelan seluruh spermaku walau agak terlambat karena sudah ada yang mengenai wajah dan rambut Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami menginap di villa itu, pada pagi harinya kami melakukannya lagi sampai 6 kali. Sungguh pengalaman ini sangat mengesankan dan terkadang sampai sekarang kami masih sering meneruskannya, walaupun berganti orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-8233782821112207587?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/8233782821112207587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=8233782821112207587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8233782821112207587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8233782821112207587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/sex-party-dengan-cheerleader.html' title='Sex Party dengan Cheerleader'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3263434340907713022</id><published>2009-03-01T04:34:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T04:36:04.755-08:00</updated><title type='text'>Nikmatnya Tubuh Penari Bali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Nikmatnya Tubuh Penari Bali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bulan November aku mengikuti prajabatan PNS, yah tak ada yang kukenal di prajabatan ini, karena itu aku berusaha untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Pagi itu adalah jam pertama, aku duduk di bangku kelas bagian tengah, kulirik kiri dan kanan. tak ada yanmg kukenal, namun ada satu yang menarik perhatianku, seorang gadis cantik duduk tak jauh dariku, dia nampak ramah dan selalu tersenyum, kulitnya sawo matang, namun bagiku dia terlihat yang paling cantik di kelas. Dia lalu memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya Ni Ketut Dede Ariyani, aku guru tari Bali, nama kamu siapa? kok ngeliatin terus sih?”&lt;br /&gt;Aku jadi salah tingkah, lalu aku menjawab,&lt;br /&gt;“Maaf ya mbok tut, nama saya Agus, abis ga ada yang dikenal sih…”&lt;br /&gt;“Sekarang kan udah kenal,emang umur kamu berapa? kok manggil mbok”&lt;br /&gt;“25 mbok, emang kenapa?”&lt;br /&gt;“oh, emang bener kamu manggil aku mbok, umur aku 28.”&lt;br /&gt;“Oh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dia bilang umurnya 28 tapi dia tidak terlihat setua itu, perawakannya lebih pendek dari aku dan badannya sintal. Sejak perkenalan itu kami sering ngobrol berdua pada waktu prajabatan selama 2 minggu itu, smsan dan telpon-telponan, dia juga sering ditengok sama cowok yang sama temen-temen aku dipanggil raksasa, Dede bilang sih itu tunangannya, aku kesel juga tapi apa daya aku cuma bisa senyum, tapi memang pada waktu itu aku belum merasakan apa-apa.&lt;br /&gt;Pada waktu sehari sebelum penutupan dia bilang begini,&lt;br /&gt;“Gus, nanti abis penutupan kita jalan-jalan yuk!?”&lt;br /&gt;“ayuk”, kataku dengan senang hati, “emang mau kemana mbok?”&lt;br /&gt;“yah, ke bioskop atau kemana gitu.”&lt;br /&gt;“oke..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat itu tiba, aku dah siap-siap untuk penutupan dan tak lupa aku membawa pakaian ganti, begitu selesai penutupan kami pergi ke bioskop, kami nonton dan sengaja memilih bangku paling pinggir, entah kenapa aku mulai berpikiran kotor, lalu aku memeluk dia, dia tidak menolak. Lalu aku beranikan diri untuk mencium dia, dia malah menyambut ciumanku dengan hangat. Kami berciuman lama sekali, aku melumat bibirnya dengan penuh nafsu, setelah beberapa menit dia berkata,&lt;br /&gt;“ternyata perasaan gak bisa bohong ya.”&lt;br /&gt;“iya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ragu lagi untuk memeluk dan menciumnya bahkan aku berani memegang payudaranya dari dalam bajunya sementara dia juga memegang dadaku, akhirnya kami selesai nonton film lalu aku berkata,&lt;br /&gt;“De..putusin cowok kamu ya, trus nikah ma aku.”&lt;br /&gt;“Ga bisa gus, aku ma dia dah lebih dari pacaran kami dah biasa begituan, tinggal dibantenin aja kami dah jadi suami istri…”&lt;br /&gt;Aku kecewa dan marah tapi ga bisa apa-apa, akhirnya aku bilang,&lt;br /&gt;“Terserah.”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah ngehubungi dia selama beberapa hari, akhirnya aku berpikir normal aku tidak mungkin masuk ke dalam kehidupannya, yah… aku akhirnya menghubungi dia lagi dan kami ngobrol seperti biasa tanpa ada masalah lagi dan pada suatu saat dia mengajak aku makan di ayam wong Solo.&lt;br /&gt;Aku sebagai orang yang lebih miskin dari dia jelas tidak menolak. Kami pergi kesana terus kami memesan meja di tempat bebas rokok yang sepi dan tertutup.&lt;br /&gt;Setelah selesai makan, aku dan dia yang duduk bersebelahan menumpahkan rasa kangen. Kami saling mencium, saling melumat dan saling memegang. Aku berkata padanya,&lt;br /&gt;“De, aku pingin buat cupang di leher kamu.”&lt;br /&gt;“Coba aja!”&lt;br /&gt;Aku mencoba menghisap lehernya untuk membuat cupang tetapi gagal, dia lalu tertawa sambil berkata,&lt;br /&gt;“He… he… he… bukan gitu caranya, nih aku contohin”, dia mulai beraksi. Entah bagaimana caranya dia mengisap, yang jelas rasanya aku melayang-layang, aku cuma mendesah,&lt;br /&gt;“Ah… ah…”&lt;br /&gt;“Tuh kan, dah merah”, kata dia sambil menunjuk leher aku.&lt;br /&gt;“Dasar… De, kita pulang yuk.”&lt;br /&gt;“ayuk.”&lt;br /&gt;Dede lalu membayar makanan sementara aku langsung menuju mobilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, pikiranku kacau karena cupang itu, aku langsung nge-sms dia,&lt;br /&gt;“De… aku kepingin cupangnya bukan di leher, aku pingin di dada, aku juga pingin buat cupang di dada kamu.”&lt;br /&gt;Aku kira dia marah, tapi dia malah ngebalas,&lt;br /&gt;“Gus, aku sayang ma kamu, kalau kamu buat cupang di dadaku boleh kok, selain itu sebagai tanda sayang aku, aku pingin 3d.”&lt;br /&gt;“Apaan tuh 3d?”, balasku.&lt;br /&gt;“Diputer, Dijilat trus Dicelupin.”&lt;br /&gt;“Hah!! Beneran? Atau becanda nih?”&lt;br /&gt;“beneran, masak aku main-main.”&lt;br /&gt;“Kapan kamu mau? Tapi aku belum pernah lho sayang, apa mesti pake pengaman?”&lt;br /&gt;“Aku pinginnya ga pake, tapi kalau kamu ragu lebih baik pake aja, waktunya nanti aja kalau ada kesempatan, gimana?”&lt;br /&gt;“Oke deh, met istirahat ya sayang…”&lt;br /&gt;“Istirahat apaan aku kan harus nari di Hotel sayang, nanti kalau aku ga balas berarti aku masih sibuk atau ada si dia sama aku.”&lt;br /&gt;“Ya deh, met kerja ya sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, ini adalah jadwal harian dia, dia adalah seorang penari Bali dan kadang dia nari di hotel kadang malah sampai ke luar negeri.&lt;br /&gt;Lama aku menunggu waktu itu, akhirnya aku mendapat kesempatan pelatihan 4 hari. Tetapi karena kecerdikan panitia pelatihan itu hanya 3 hari. Berarti aku hanya punya waktu 1 hari. Aku langsung nge-sms dia,&lt;br /&gt;“De… besok ga ngajarkan? Kita laksanakan rencana kita yuk?”&lt;br /&gt;“ayuk, nanti aku jemput dimana?”&lt;br /&gt;“Jemput aku ditempat pelatihan di Jalan Hayam wuruk.”&lt;br /&gt;“Oke!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya aku sudah menunggu dia di tempat pelatihan. Beberapa menit kemudian dia tiba. Aku langsung naik ke mobilnya dan ganti baju di dalamnya. Aku yang udah nafsu lalu bilang,&lt;br /&gt;“Kita mau kemana? ayuk”, Dede memakai baju yang agak ngepres di badannya, sementara di bagian bawah dia hanya mengenakan kain pantai, ketika aku lirik ternyata dia tidak mengunnakan apa-apa selain kain pantai dan tentu saja cd.&lt;br /&gt;“Jangan gitu, kita makan dulu yuk…”&lt;br /&gt;Kami lalu makan, selanjutnya kami menuju bungalow di Kuta, namun sebelumnya kami sudah membeli makan siang terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Sesampainya di kamar bungalow, dia lalu menutup pintu, aku yang udah nafsu langsung menyerbunya. Dia lalu berkata,&lt;br /&gt;“Ga jadi ah…”&lt;br /&gt;“Trus kita ngapain kesini?”&lt;br /&gt;“ngobrol sambil tiduran.”&lt;br /&gt;“Enak aja”, aku langsung menyerbu dia berusaha melepas bajunya dan kain pantainya, lalu dia bilang,&lt;br /&gt;“Sabar dong sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dede lalu mematikan lampu, lalu menutup korden yang tadi belum tertutup, aku memang udah nafsu liat kemolekan dia jadi ga memperhatikan itu. Akhirnya aku menyerbu dia, kali ini aku tidak menemuka perlawanan berarti, dia udah siap. Aku mencium dia dengan nafsu, lalu melepas bajunya dan kain pantainya, tubuhnya kini hanya ditutupi BH dan CD. Dia lalu bilang,&lt;br /&gt;“Gus… Aku pernah dioperasi di payudara dulu ada tonjolannya.”&lt;br /&gt;BHnya aku lepas lalu aku menciumi payudaranya dengan lembut,&lt;br /&gt;“ehm… ehm…”&lt;br /&gt;“Gus… ka… mu… be….bbener lembut… ah ah ahh..”&lt;br /&gt;Desahannya membuat aku bernafsu, lalu aku melepas bajuku dan celana ku sehingga aku telanjang di depan dia, CD diapun kulepas, dia lalu berkata,&lt;br /&gt;“Gus… pake kondom dulu ya sayang…”&lt;br /&gt;Dia lalu memakaikan aku kondom, aku yang masih awam langsung saja memasukkan punyaku ke dalam vaginanya. Beberapa menit kemudian aku udah keluar, yah karena aku belum pengalaman, dia melepas kondomku dan berkata,&lt;br /&gt;“Ga apa-apa kan baru pertama.”&lt;br /&gt;Belum berapa menit nafsuku naik lagi. Aku langsung menyentuh payudaranya, kali ini dia lebih pintar dia lalu berkata,&lt;br /&gt;“Gus… sekarang kamu di bawah ya, aku yang di atas.”&lt;br /&gt;aku rebah di bawah, dia pelan-pelan memasukkan penisku ke vaginanya,&lt;br /&gt;“uh… enak sekali…”, aku mendesah.&lt;br /&gt;Diapun mendesah,&lt;br /&gt;“Ah… ah… nikmat sekali….ah… ah…”&lt;br /&gt;Goyangannya betul-betul luar biasa, aku sampai merem melek, bodynya yang sintal bergoyang di atasku, aku memegang payudaranya sambil sesekali menciumnya,&lt;br /&gt;“ah… nikmat sekali rasanya”, ditengah-tengah kenikmatan itu tiba-tiba dia mengejang dan melepaskan vaginanya sambil terengah-engah.&lt;br /&gt;“Aku belum keluar kok dah selesai De?”&lt;br /&gt;“Cape… dan kayanya dah keluar Gus.”&lt;br /&gt;Aku langsung menindihnya dan memasukkan penisku ke vaginanya dan mengocoknya dengan cepat karena tanggung pkirku, akhirnya,&lt;br /&gt;“ah…”&lt;br /&gt;Spermaku tumpah, aku langsung menarik penis ku keluar dan langsung mengeluarka spermaku di perutnya. Dede lalu berkata,&lt;br /&gt;“Sekarang gantian, aku yang belum keluar nih.”&lt;br /&gt;“Yah…”&lt;br /&gt;Aku lalu memasukkan jariku ke vaginanya dan mengocoknya.&lt;br /&gt;“ah..ah…ah…ah…”, Dede mendesah keras.&lt;br /&gt;“gimana De, enak kan?”&lt;br /&gt;“enak banget… ah…ah… ah…”&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia memeluk aku erat sekali sambil mencium dada aku hingga cupang.&lt;br /&gt;Kamipun tertidur, dan sorenya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih kontak beberapa minggu, hingga ada satu kejadian jelek yang aku dan dia alami. Kami nonton di bioskop berdua dan disudut seperti biasa, selanjutnya kami berciuman, lalu tanganku bergerilya ke selangkangannya, tangan dia pun juga sama. Aku memasukkan tanganku ke vaginanya dan tangannya juga mulai mengocok penisku&lt;br /&gt;“Ah… ah… ah…” Desahan kami berdua berirama.&lt;br /&gt;Akhirnya tanganku terasa basah dan dia mengejang… Aku sama sekali belum keluar tapi film keburu selesai. Di perjalanan pulang akhirnya kami ribut, karena dia ingin pisah dariku dan kembali ke tunangannya. Aku berusaha membela diri tapi dia sudah berketetapan.&lt;br /&gt;Akhirnya kami berpisah dan aku tidak pernah bertemu dengan dia sampai akhirnya dia menikah dengan tunangannya yang juga penari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3263434340907713022?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3263434340907713022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3263434340907713022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3263434340907713022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3263434340907713022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/nikmatnya-tubuh-penari-bali.html' title='Nikmatnya Tubuh Penari Bali'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-781315001413339758</id><published>2009-03-01T04:29:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T04:30:25.692-08:00</updated><title type='text'>Ibu Kost Sexy</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Ibu Kost Sexy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu masih kuliah semester lima di Bandung sekitar 4 tahun yang lalu. Nama saya sebut saja Iwan dan berasal dari Jakarta dan waktu itu saya kos di dekat daerah Dago. Tempat kosnya lumayan bagus dan ibu kos saya waktu itu berumur sekitar 28 tahun. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan dia belum sempat dikaruniai anak. Untuk membiayai kehidupan sehari-harinya dia bekerja di salah satu bank swasta di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya kos di daerah Cihampelas dan karena ribut dengan salah satu anak kos, saya coba cari tempat kos lain. Rumah kos baru ini saya ketahui dari salah seorang teman yang masih saudara sepupu ibu kos saya. Waktu pertama kali saya datang ke tempat kos, ibu kos saya (sebut saja namanya Rita) agak ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat saudara sepupunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu untuk membelikan makanan di luar. Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian-pakaian dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumaHPun Mbak Rita cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar mandipun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan kemulusan pahanya terlihat jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi waktu saya sedang sarapan Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya, “Hayo, lihat apa kamu?” Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, “Ngga lihat apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih?” Mbak Rita balik bertanya, “Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini?”. “Ya suka dong Mbak, namanya juga laki-laki”. Waktu itu saya malu sekali dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri pandang ke arah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia berkata kepada saya. “Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah?” Dengan spontan saya berkata, “Boleh Mbak. Di mana?” “Ke kamar Mbak aja deh”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil. Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang berwarna coklat kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Wan, menurut kamu badanku bagus?” Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya. Pada waktu saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar, dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia terangsang secara perlahan-lahan. Mbak Rita mengeluarkan lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya. Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya. Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya minta Mbak Rita membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar menikmati apa yang saya lakukan. Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan seorang priapun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana pendek dan celana dalamku. “Kamu juga sudah terangsang yah Wan?”. “Iya dong Mbak, dari tadi juga sudah berdiri begini”, kataku sambil tertawa. Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan melakukan hal itu kepada saya. Waktu SMA saya pernah punya pacar tapi kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa lama kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya. “Ayo dong Wan, aku sudah tidak tahan lagi nih”. Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan Mbak Rita berkata, “Kamu tiduran saja, nanti Mbak akan mengajari kamu.” Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata, sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita secantik Mbak Rita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan gaya-gaya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang. Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari setelah pembantu tidur. Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah lagi keluar malam-malam dan itu lebih membuat kami lebih bebas melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Mbak Rita yang mengusulkan hal itu dan begitu sampai di rumah Mbak Rita langsung melucuti semua pakaian yang dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mulai sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga tidak mau lagi menerima uang kos dari saya dan uang kiriman orang tua dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia. Satu hal yang saya ingin ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa-apa lagi.. Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kami masih berlangsung sampai sekarang walaupun orang tuaku tidak menyetujui karena usianya yang jauh lebih tua dan statusnya yang janda. Saya sekarang bekerja di Jakarta dan bila akhir pekan saya selalu menghabiskan waktu saya di Bandung. Rencananya akhir tahun ini kami akan menikah walaupun orang tua saya tidak menyetujui.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-781315001413339758?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/781315001413339758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=781315001413339758' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/781315001413339758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/781315001413339758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/ibu-kost-sexy.html' title='Ibu Kost Sexy'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3750347037135572616</id><published>2009-03-01T04:28:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T04:29:09.282-08:00</updated><title type='text'>Cerita Seru Anak Kost</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Cerita Seru Anak Kost&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;aku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan perkawinan, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun, selama masa pacaran berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku, maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku tidak merasa sendirian di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari suamiku datang dari luar kota, dia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.&lt;br /&gt;Suamiku bertanya, "Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana."&lt;br /&gt;"Semua pada pulang karena liburan nasional, tapi yang bule nggak, karena perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target", balasku mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita santai di ruang tamu, "Nich sekali-kali kita reuni seperti di diskotik", kata suamiku, "Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya.."&lt;br /&gt;Sambil sedikit senyum, kujawab, "Kangen ya.. emang cuman kamu yang kangen.."&lt;br /&gt;Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.&lt;br /&gt;"Nich minum dulu obatnya biar nanti seru.." kata suamiku.&lt;br /&gt;Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.&lt;br /&gt;"Lho kok empat sih.. nanti over lho", kataku manja.&lt;br /&gt;"Ach.. biar cepat reaksinya", balas suamiku sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi langsung bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, dia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih montok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Auh.." erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak kuat aku menahannya. "Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich.." sambil mencari posisi yang tepat aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, "Bless..", batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. "Ach.. terus Mas.. aku kangen sekali..", dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku aneh sekali, aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa orang, seakan-akan semua lubang yang aku punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seakan-akan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali. Sampai akhirnya aku keluar terlebih dahulu, "Ach.. Mas aku keluar ya.. udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas", desahku mesra. "Aku juga ya.. ntar kamu agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich.." Mani kental yang hangat banyak sekali masuk ke dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, aku yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di mulut suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir. Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, aku pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika subuh aku terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi aku telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi aku tidak bertanya tentang kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi aku masih bertanya-tanya kenapa kok aku bisa pindah ke dalam sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks seperti semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi tapi aku cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda. Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan kalau obatnya sudah bereaksi kamu harus tidur, dan aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost aku bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar seperti di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangatlah keheranan, aku mengambil cucian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut seketika ketika melihat aku ada di kamarnya. Langsung aku seakan-akan tidak tahu harus berkata apa.&lt;br /&gt;"Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor", kataku dengan sedikit gugup.&lt;br /&gt;"Suamimu sudah berangkat lagi?" jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan seperti itu aku sangat kaget. Dan kujawab, "Kenapa?".&lt;br /&gt;Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di bagian vitalnya, si bule itu berkata, "Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang. Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat penuh nafsu aku telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka aku langsung memindahkan kamu ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula aku hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya aku meniduri kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rasa kaget aku mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa aku bisa pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit&lt;br /&gt;"Trus saya.. kamu apain", tanyaku dengan sedikit penasaran&lt;br /&gt;"Kutidurin kamu dengan penuh nafsu, sampai mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu", jawab si bule.&lt;br /&gt;"Oic.. bahaya nich, ntar kalo hamil gimana nich", tanyaku cemas.&lt;br /&gt;"Ya.. nggak pa-pa dong", jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. "Ach.. jangan dong.. aku masih capek semalaman", kataku tapi tetap saja dia meneruskan niatnya, aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang telah aku minum sewaktu ada suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh". Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya basah juga aku, karena masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, aku mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon", desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, aku berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, "Bless.." masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang kewanitaanku, aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja", ucapku tapi dia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama sampai akhirnya aku keluar.&lt;br /&gt;"Jhon.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon.." desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.&lt;br /&gt;"Aku juga mau keluar.. auh.." balasnya sambil mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, aku takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu dan akhirnya bertengkar, tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi. Dan akhirnya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi suamiku berkata, "Terusin aja nggak pa-pa kok, aku sayang sama istriku.. kalau istriku suka begini.. ya terpaksa aku juga suka.. ayo kita main bareng". Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun akhirnya si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan akhirnya dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali akhirnya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. "Bless..", batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. "Aduh.. pelan-palan Mas..", seruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung dan akhirnya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, dia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, "Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya si bule pun keluar, "Auch.. keluar nich.." ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu aku menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu saat aku ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. "Kalau kamu mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kamu jangan sampai disakiti olehnya". Sejak saat itupun bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3750347037135572616?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3750347037135572616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3750347037135572616' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3750347037135572616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3750347037135572616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/cerita-seru-anak-kost.html' title='Cerita Seru Anak Kost'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-2856731279444880890</id><published>2009-03-01T04:26:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T04:27:31.834-08:00</updated><title type='text'>Janda Muda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Janda Muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya Firman 23 tahun dan saat ini saya kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat saya jalan-jalan dengan teman-teman saya di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya sedang melintas di jalan Sudirman saya melihat seorang wanita dan saya menghentikan kendaraan saya lalu kami pun berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dengan ukuran bra sekitar 36 C akhirnya saya menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kami jalan pulang tanpa ada apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi saya via HP saya&lt;br /&gt;“Hallo, Firman ya?”&lt;br /&gt;“Siapa nih?”, tanya saya&lt;br /&gt;“Nia, masa lupa yang semalam kenalan..”&lt;br /&gt;“Oh, iya.. lagi dimana nih.”&lt;br /&gt;“Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?”&lt;br /&gt;“Ehmm, nggak ada tuh kenapa?”, jawab saya&lt;br /&gt;“Bisa jemput?”&lt;br /&gt;“Ya udah dimana?”&lt;br /&gt;“Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00″&lt;br /&gt;“Ok”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita langsung saya meluncur ke arah Blok M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya disana kami ngobrol sejenak lalu kami memutuskan untuk pergi.&lt;br /&gt;“Mau kemana nih?” tanya saya&lt;br /&gt;“Terserah kamu aja..”&lt;br /&gt;“Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?”&lt;br /&gt;“Ok”, jawabnya dengan santai.&lt;br /&gt;“Ga takut?”, tanya saya&lt;br /&gt;“Takut apa?”&lt;br /&gt;“Kalo diperkosa gimana?”&lt;br /&gt;Tapi dia dengan santainya menjawab, “Ga usah diperkosa juga mau kok.. he.. he..” sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku.&lt;br /&gt;Kemudian saya bertanya, “Bener nih?”&lt;br /&gt;Dia menjawab, “Siapa takut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai saya lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan saya menggoda dia.&lt;br /&gt;“Bener nih nggak takut diperkosa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia malah menjawab, “Mau perkosa aku sekarang?” ujarnya sambil membusungkan dadanya yang montok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu siapa yang memulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, saya ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BH nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya.&lt;br /&gt;“Ahh.. esst.. terus yang..”, Nia udah mulai meracau tidak jelas saat lidah saya turun ke dadanya diantara kedua bukitnya.&lt;br /&gt;Lidah saya terus menjalar di buah dadanya namun tidak sampai pada pentilnya.&lt;br /&gt;Nia mendesah-desah, “Man isep Man ayo Man gue pingin elo isep Man..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar pentilnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya.&lt;br /&gt;Akhirnya kepalaku ditarik Nia dan ditempelkannya teteknya ke mulutku.&lt;br /&gt;“Ayo Man isep Man jangan siksa gue Man..”&lt;br /&gt;Akhirnya mulutku menghisap tetek sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas-remas tetek sebelah kanannya.&lt;br /&gt;“Ohh.. aah.. esst.. enak Man terus sedot yang keras Man gigit Man ohh..”, racaunya.&lt;br /&gt;Sambil kusedot teteknya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nia pun tidak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah ‘adekku’ yang sudah berdiri tegak itu dan Nia terpana.&lt;br /&gt;“Gila gede banget Man punya elo..”&lt;br /&gt;Dan tanpa dikomando langsung Nia memasukan kontolku ke dalam mulutnya yang mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Nia menjilat-jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya.&lt;br /&gt;“Ah.. enak Ni terus Ni” aku pun menahan nikmat yang luar biasa.&lt;br /&gt;Akhirnya aku berinisiatif dan memutar tubuhku sehingga posisi kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir vaginanya Nia mendesah.&lt;br /&gt;“Ah.. enak Man esst.. terus Man..”&lt;br /&gt;Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya.&lt;br /&gt;“Ahh.. Man aku sampai Man..” sambil mulutnya terus mengelum penisku sedotan Niapun semakin cepat dan kuat pada penisku maka aku merasakkan denyut-denyut pada penisku.&lt;br /&gt;“Ni, gue juga mau sampai Ni ahh..”&lt;br /&gt;“Barengan ya..”&lt;br /&gt;Mendengar itu Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati penisku dan akhirnya..&lt;br /&gt;“Acchh.. ach..”, crot.. crot.. crott.., 8 kali penisku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya sehingga kamipun keluar secara bersamaan.&lt;br /&gt;Akhirnya Niapun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh penisku hingga bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih ya Man aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..”, kata Nia&lt;br /&gt;“Emang suami kamu kemana?”&lt;br /&gt;“Ga tau tiba-tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue”&lt;br /&gt;“Lho kamu dah punya anak?”&lt;br /&gt;“Udah umur setahun, Man”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nia memeluk saya dengan eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah saya, lalu saya cium bibirnya lembut dia pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memgang kemaluan saya yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis ‘adikku’ langsung berdiri dan mengeras.&lt;br /&gt;Kemudian Nia menaiki tubuh saya lalu menjilati habis seluruh tubuh saya mulai dari mulut hingga ujung kaki.&lt;br /&gt;“Ach..” desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku.&lt;br /&gt;Kemudian Nia mengulum penisku terlihat jelas dari atas bagaimana penisku keluar masuk mulutnya yang mungil itu.&lt;br /&gt;“Ah. sst.. enak Sayang terus sedot Sayang achh..” desahanku semakin mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Nia diatas tubuhku lalu aku menjilati vagina Nia dan kuisep klitoris Nia.&lt;br /&gt;“Ahh.. enak Man terus Sayang, aku Sayang kamu achh..” desah Nia meninggi.&lt;br /&gt;Kemudian Nia memutar tubuhnya kembali dan dia memegang ‘adikku’ yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang vagina setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia. Sehingga perlahan-lahan masuklah penis saya ke liang senggama Nia&lt;br /&gt;“Auw.. sst.. ohh.. geede banget sih punya kamu yang” lirih Nia.&lt;br /&gt;“Punya kamu juga sempit banget Yang, enak.. ah..” kataku.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan aku tekan terus penisku ke dalam vaginanya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Nia mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat penis saya seperti disedot-sedot.&lt;br /&gt;Nia berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang.&lt;br /&gt;“Ahh.. Sayang aku keluar Yang, ahh..” racaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu tubuh dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas penisku yang ada di dalam vaginanya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kugenjot Nia dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia mengalami orgasme yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini.&lt;br /&gt;“Ahh.. Sayang aku keluar lagi Sayang ahh..” Desah Nia.&lt;br /&gt;“Kamu lama banget sih Sayang” desah Nia sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar.&lt;br /&gt;“Ahh terus Sayang sstt enak Sayang terus..” racaunya.&lt;br /&gt;“Iya aku juga enak Sayang terus Sayang ahh.. enak Sayang mentok banget ah..” racauku tak kalah hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah aku menggenjot Nia selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari bagian penisku.&lt;br /&gt;“Sayang, aku mau keluar Sayang”&lt;br /&gt;“Mau di dalam atau diluar Sayang?” kataku.&lt;br /&gt;“Bentar Sayang aku juga mau keluar lagi nih ahh..” desah Nia.&lt;br /&gt;“Di dalem aja Sayang biar aku tambah puas” desah Nia lagi.&lt;br /&gt;“Ahh.. sst.. Sayang aku keluar Sayang ahh..” racauku&lt;br /&gt;“Barengan Sayang aku juga sampai ah.. ahh.. oh..” desah Nia.&lt;br /&gt;“Ahh.. Sayang aku keluar Sayang ahh.. sst.. ohh..” desahku.&lt;br /&gt;“Aahh” menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali.&lt;br /&gt;“Emmhh..” saat itu juga si Nia mengalami orgasme.&lt;br /&gt;“Makasih ya Sayang” kata Nia sambil mencium bibirku mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar mandi dan didalam kamar mandi pun kami sempat ‘main’ lagi ketika kami saling membersihkan punya pasangan kami masing-masing tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada maka aku duduk di ws dan Nia duduk di atasku dengan posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali penisnya kedalam vaginanya.&lt;br /&gt;“Bless.. ahh.. sst.. enak Sayang ahh..” racaunya mulai menikmati permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu maka aku suruh memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas penisku dan aku suruh Nia menungging dengan berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika dia menungging langsung aku genjot maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya yang mengayun-ayun.&lt;br /&gt;“Ah.. Man aku mau keluar Man..” desahnya.&lt;br /&gt;“Man aah..”, terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi penisku.&lt;br /&gt;Karena kondisi Nia yan lemas maka aku memutuskan untuk melepaskan penisku dan Nia melanjutkannya dengan mengulum penisku hingga akhirnya..&lt;br /&gt;“Ni aku mau keluar Sayang.. ah..”, Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah penisku sehingga terlihat penisku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Nia menyedot penisku maka.. “Ah.. Ni..” akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan aku lihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan penisku dengan menjilati sisa-sisa seluruh sperma yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami saling membersihkan tubuh kami masing-masing dan kami kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat dan kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami dan kami saling mencium dan meraba serta ngobrol-ngobrol sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju kami masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini diturunkan kami masih sering melakukan hubungan intim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-2856731279444880890?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/2856731279444880890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=2856731279444880890' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2856731279444880890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2856731279444880890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/janda-muda.html' title='Janda Muda'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-1955178526503600302</id><published>2009-03-01T04:08:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T04:19:08.051-08:00</updated><title type='text'>Nafsu yang membara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Nafsu yang membara &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya cerita ku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya, meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe, hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di malang, Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak karena usia perkawinanku baru berjalan 4 bulan dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik, tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan Susu yang tak terlalu gede tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis. Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang, mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat kuat sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu memuaskan tempikku, meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang puas!&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit, aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul 15.00 tadi, padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi. “He..eh” aku pun Cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hallo!” suara perempuan mengagetkan ku dari lamunan.&lt;br /&gt;“Ya !” jawabku sambil berdiri. Sejurus aku memandang kearah perempuan itu, Cantik!&lt;br /&gt;“Nona Rinelda ?” dia bertanya sambilmengulurkan tangan mempersilahkan aku kembali duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda, dia memakai jam gede di tangan kanannya, dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkan ku pada teman SMP ku di Malang, ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model, setelah berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu Modelnya. Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja, aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di jalan sebelum rumahku , sekedar anda tahu bahwa sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari Ibu ku. Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya, mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-teman ku memng mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.&lt;br /&gt;“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !” Ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.&lt;br /&gt;“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah pukul 18.30. aku langsung mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.&lt;br /&gt;“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” ku dengar suara BuDhe Tatik dari dalam kamarnya.&lt;br /&gt;“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.” kerja yang benar jangan melawan sama atasan terima saja perintah atasan karena mencari pekerjaan itu sulit dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang kamu kerjakan” kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku. Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok apalagi jika berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahun an, cukup seksi dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS, dia pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau teman-temannya. Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke kamar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek. Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti didongong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis, sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kubuka pintu kamarku, betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantat nya bergerak maju mundur..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Och…u..o..” suara yang keluar dari mulut BuDhe. Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya, badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku. Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil duduk akhirnya PakDhe menarik kontolnya dari dalam Tempik BuDhe, Yak ampun ternyata kontol nya lumayan gede lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku, akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang kerja, pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku, namun ternyata PakDhe tidak peduli dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku, namun saat itu PakDhe hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangan nya memegang kursi di hadapannya “ayo mas cepet keburu tempiknya kering” pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak mendengar dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat. Kulihat kali ini PakDhe mengeloco kontolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut. akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka menmbelakangi kamarku. Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tangan ku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai, ku tekan pada itilnya “ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini. Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.&lt;br /&gt;“Tempikmu… ue.nak .Tik pe… res… kontol ku” kata kata terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.&lt;br /&gt;“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.&lt;br /&gt;“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah berteriak.Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot dengan lebih giat kali ini tangan nya memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu dan akhirnya laki-laki itupun menekan kontolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut. Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada kontol dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum, “hek” aku kaget setengah mati segera ku tutup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku, beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi. Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi, “yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno. Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar dan memiliki batang kontol yang kokoh tegak berdiri dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan kontol laki-laki, tapi terkadang aku merasa ada yang kurang dan memang aku butuh kontol yang sebenarnya, Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu. Kulihat jam didinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besiok aku kan mulai kerja! Sialan gara-gara kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa? “ah sialan!” umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam, pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar, aku langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi, terkadang aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan altivitasku sendiri, aku merasa adalah suatu vyang lumrah karena aku menumpang disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar, sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali, kulihat senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku “terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat kontol yang gede milik PakDhe. “ahh” rupanya tangan ku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya, tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya, “sialan!” pikirku dalam hati. Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiran ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku, kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.&lt;br /&gt;“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,&lt;br /&gt;“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk. Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu sampai atas lulutnya wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.&lt;br /&gt;“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.&lt;br /&gt;“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.&lt;br /&gt;“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan” katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.&lt;br /&gt;“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,&lt;br /&gt;“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,&lt;br /&gt;“Ada yang bias saya Bantu mbak?” Tanya nya dengan sopan. Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.&lt;br /&gt;“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Bu Rifda Miranti? pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan. Aku cuma mengangguk.&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya, ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling “Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.&lt;br /&gt;“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu” katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar. Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini, tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran, kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku, tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita&lt;br /&gt;“Rinelda?”&lt;br /&gt;“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kea rah datangnya suara tadi,&lt;br /&gt;“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kenbali bertanya&lt;br /&gt;“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!” sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar ya” kata Agatha. Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik, berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.&lt;br /&gt;“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar. Ternyata didalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya “ nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda” kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka” aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda. Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,&lt;br /&gt;“Rif, kami perlu kerja di dalam studio” kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera. Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha. Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut, ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya, ku coba untuk mendekat pada ruangan itu, aku semakin penasaran lerja macam apa kok suaranya seperti… Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi… “Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya, tertulis didepan pintu ruangan tersebut.&lt;br /&gt;“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati. Didalam ruangan itu terdapat banyak Foto diatas meja.&lt;br /&gt;“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.&lt;br /&gt;“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku. “ah..ya..” dia menunjuk kearah belakangnya. Aku langsung bergerak ke sana, masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….” Suara khas air&lt;br /&gt;yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samara-samar suara laki-laki.&lt;br /&gt;“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu terdengar suara wanita tertawa, segera lu ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi, setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu rifda sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini, saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian, kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf bu” kataku,&lt;br /&gt;“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya, “ini bu?” kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri “ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF. Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.&lt;br /&gt;“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin karena target penjualan kita adalah kaum Pria” kata nya sambil membenahi pakaianya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi” , aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya;&lt;br /&gt;“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,&lt;br /&gt;“Kenapa?” dia balik bertanya,&lt;br /&gt;“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,&lt;br /&gt;“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya” katanya sambil menunjuk sebuah televise berukuran raksasa di belakangku, betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku, ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di&lt;br /&gt;sebuah ruangan kosong yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu, setengah tak percaya kembali kulihat kea rah bu Rifda, dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di layer tersebut, aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar, tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci! Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan adegan Agatha dan laki-laki itu dihadapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau tapi itu tak akan berguna karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.&lt;br /&gt;“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam. Aku pun telah paham bahwa aku tak bias berbuat apa-apa, saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu dan tanpa kusadari dia telah menarik tangan ku kebelakang dan mengikatnya dengan tangkas, aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu” katanya, sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku, Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang, dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak, dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,&lt;br /&gt;“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari layer raksasa dhadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.&lt;br /&gt;‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?” tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menikan volume pada remote controlnya.&lt;br /&gt;“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya. Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu, tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.&lt;br /&gt;“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.&lt;br /&gt;“Tapi kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha tak terselesaikan.&lt;br /&gt;“Jangan munafik Rin kamu past terangsang kan?” lagi suara Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…&lt;br /&gt;“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak&lt;br /&gt;“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!” kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha, kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya sementara laki-laki itu menekan-nekan kontolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu, cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…&lt;br /&gt;“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!” nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah namun si lelaki itu terus mengocok kontolnya yang masih menegang itu sambil tangannya memegang bongkahan pantat Agatha, aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku, seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha. Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata&lt;br /&gt;“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang aku rasakan.&lt;br /&gt;“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!” lalu dia menekan kembali remote di tangannya kea rah layer raksasa di dan… “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!&lt;br /&gt;Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Rifda, dia sedang sibuk mengulum kontol seorang laki-laki disebuah ruangan yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus, ku lihat Pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya, sementara tangan kiri&lt;br /&gt;BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.&lt;br /&gt;“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati kontol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.&lt;br /&gt;“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.&lt;br /&gt;“Maksudmu?” tanyaku,&lt;br /&gt;“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu, belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal berbuat dengan orang lain seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kontol mu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !” kali ini BuDhe nampak gemas memegang kontol besar itu dengan kedua tangannya, kontol Pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe yang kulihat semalam kelihatan kokoh berdiri dan lebih berotot apalagi kepala kontol Pria ini nampak besar dan mengkilap karena sinar dari kamera, nampak sekali bahwa pria itu sangat menikmati emutan mulut BuDhe, mendengar suara Budhe dan laki-laki itu saling ah..uh.. membuat aku jadi terangsang, aku jadi salah tingkah karenanya, ku toleh ke arah Rifda ternyata wanita itu sedang sibuk memasukan sesuatu kebawah tubuhnya kutahu dia sedang mencari kenikmatan di tempiknya mengetahui aku melihatnya wanita itu mendekati aku dang menunjukan sebuah tongkat kecil yang mirip… kontol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang” katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.&lt;br /&gt;“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya” aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini, Rifda mengosok-gosokkan kontol mainan itu ke arah selakanganku, aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar! Dia membuka resleting celanaku, sekali lagi aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu. Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai, diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari layer didepanku&lt;br /&gt;“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!” kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengakang memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak. Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya. Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.&lt;br /&gt;“Wah ternyata Jembut kamu tebal juga Rin” kata Rifda kemudian tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya, kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya, sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Rifda sedang sibuk meng emek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan mennjadi sangat terang, dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini. Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.&lt;br /&gt;“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini” ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe! tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Rifda.&lt;br /&gt;“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini” kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang. Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitar ku saat ini, saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku dengan menggerakan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe, laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.&lt;br /&gt;“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !” kata Rifda sambil melihatku, tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut kontol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang, sementara tangan PakDhe meremas-remas susu Rifda yang Cuma terbuka pada putingnya sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“U… uh” kata Rifda gemas mengocok kontol di tangannya.&lt;br /&gt;“Sudah, langsung aja masukin kontolmu pak!”&lt;br /&gt;“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?” Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda. Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya memnbelakangi tubuh PakDhe, dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang kontol yang dipegangnya kearah tempik Rifda yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.&lt;br /&gt;“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!” kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan kontolnya lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak karena gerakan tubuhnya sementara kontol PakDhe yang sedang berusaha memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.&lt;br /&gt;“Ah….” kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe kemudian menarik kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir kontol itu menggelantung.&lt;br /&gt;“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kea rah ku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.”Tunggu giliranmu”.&lt;br /&gt;“Betapa nikmat kalau kontol itu bersarang pada tempikku” kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol. Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka, andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!” teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri –kanan mengimbangi sentakan PakDhe.&lt;br /&gt;“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda yang diterjang kontol gede itu seolah bersorak senang. Saat ku sedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit kutari tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan, namun diluar kesadaran ku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan mennghentikan ku, yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu. Aku butuh keprluan biologis itu! Aku butuh kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi! Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dab Rifda didepanku, Rifda nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”&lt;br /&gt;“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si kontol menerobos tempik Rifda.&lt;br /&gt;Kulihat tongkat mainan persis kontol yang diletakkan dimeja oleh Rifda, tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda, kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!&lt;br /&gt;Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini, kali ini aku bermaksud memasukkan kontol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…&lt;br /&gt;“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda setiap PakDhe menarik kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum, sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya. Kukeluarkan pelan-pelan kontol mainan dari dalam tempikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah kontol besar seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi, yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan kontol, kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku, aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan, aku tak pedulikan itu aku Cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan! Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang kontol laki-laki itu.&lt;br /&gt;“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… kontolmu… auh… Rudi… say… ang… eh… ” Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe. Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan kontolnya kemulut Rifda.&lt;br /&gt;“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ” tampak mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah Pisang yang besar, aku segera bangkit dan menghampiri mereka, yaah aku tak rela jika kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.&lt;br /&gt;“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!” Rifda tertawa setelah kontol dimulutnya terlepas setelah laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak kontol besar setengah mengacum itu mengarah padaku.&lt;br /&gt;“Wao… ” Tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.&lt;br /&gt;“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !” kata Rifda&lt;br /&gt;seolah senang dengan apa yang kuperbuat, kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur, kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,&lt;br /&gt;“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermain kan kontol dengan mulut.&lt;br /&gt;“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.&lt;br /&gt;Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu bahwa mulutku sangat hebat dal;am hal ciuman bibir dan mengulum kontolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.&lt;br /&gt;“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini! “Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala kontolnya, sambil memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.&lt;br /&gt;“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda, matanya&lt;br /&gt;merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya. Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan kontolnya dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe Rudi pelan-pelan menarik kontolnya dari mulutku, yah PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda, aku ragu apakaha aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini, namun PakDhe ternyata langsung menarik pantatku hingga tuibuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan kontolnya berada tepat didepan tempikku, mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan kontol PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.&lt;br /&gt;“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..” kata PakDhe sambil menarik kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku tertarik.&lt;br /&gt;“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot kontolnya itu keluar masuk. Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat&lt;br /&gt;“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol&lt;br /&gt;luar dalam namun ennaak sekali, sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini, aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku. Saat sibuk menikmati sodokan kontol di tempikku sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat sehingga memudahkan kontol gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya, tak berapa lama Rifda sudah memekik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah Rud… aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya. sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu&lt;br /&gt;“Rin… torok… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah” PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan kontolnya ke milikku yang memang masih peret, dia menarik kontolnya dan mengeluarkan pejunya pada Susuku dan wajahku&lt;br /&gt;“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala kontolnya.&lt;br /&gt;“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme! Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan kontolnya yang mulai mengecil, saat kumandang Rudi yang mengocok kontolnya sendiri dia tersenyum padaku dan akhirnya kontol yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku, aku tahu dia ingin posisi anjing nungging, kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi, tak nerapa lama kontol Rudi sudah digesekgesekkan pada pantatku yang putih mulus,&lt;br /&gt;“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku nakal, aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini, akhirnya Rudi pun memasukan kontolnya ke dalam tempikku.&lt;br /&gt;“A… euh… ah… em… ya… ” kontol yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku. Pantas Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.&lt;br /&gt;“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur kontolnya sementara tangannya meremas susuku dan bibirnya mencium punggungku, cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang, kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan kontolnya dari depan&lt;br /&gt;“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ” nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah ku lakukan dengan mantan suamiku dulu. Sensansi yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini, sentakannya sangat mantab dan sodokkan kontolnya sangat luar biasa&lt;br /&gt;“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… kontol… Ter… us… sh… ” kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar biasa dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini. Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…&lt;br /&gt;“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas! Jeritku dalam hati ini kontol yang aku harapkan setiap masturbasi, sementara Rudi tetap mengocok kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,&lt;br /&gt;“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach” akhirnya Rudi menarik kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan Spermanya ke mukaku.&lt;br /&gt;“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up muka ku yang tampak ceria!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku menikmati semua ini, semua kulakukan dengan senang hati. Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan Agatha adalah Teman SMPku, sehingga aku bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-1955178526503600302?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/1955178526503600302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=1955178526503600302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1955178526503600302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1955178526503600302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/nafsu-yang-membara.html' title='Nafsu yang membara'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3382723087024310055</id><published>2009-03-01T04:03:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T04:05:12.968-08:00</updated><title type='text'>Putri Keraton</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Putri Keraton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesaat pintu kamar hotel kukunci segera kupeluk Vera yang diam pasrah dengan mata tertutup rapat.. kukecup lembut keningnya tepat di belakang pintu kamar hotel, turun sedikit kecupan kuarahkan ke mata kanan, kiri, hidung dan pipi.. Dengan tangan kiri kuangkat dagunya perlahan sempat Vera membuka matanya dan memandang sayu, sebelum tertutup kembali. Semakin dekat bibirku ke bibirnya desah nafas hangat yang memburu menerpa sebagian wajahku, kemudian dengan lembut kuletakkan bibirku di atas bibirnya yang merekah membuka basah siap dan pasrah. Kecupan lembut tersebut menambah riak gelombang birahi untuk semakin memuncak dan dengan perlahan kujulurkan lidahku untuk menyentuh ujung lidahnya yang tersentak berdetak sebelum maju perlahan menelusuri panjang lidahku ditambah dengan hisapan lembut membuat lenguhnya muncul perlahan disertai dengan tubuh yang melemas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhmmhh..”, desahnya saat kulepaskan bibirku dari pagutannya yang sedikit mulai liar..&lt;br /&gt;Perlahan kususupkan jari jemariku mulai dari punggung ke tengkuk dan terus naik ke atas menyibakan rambut sebahunya dan secara bersamaan Vera menengadah memberikan lehernya yang jenjang untuk kukecup.. jilat perlahan mulai dari leher sebelah kiri menuju ke telinga belakang kiri diiringi dengan nafasku yang semakin memburu.. dan berakhir dengan lenguhan panjang dari Vera.&lt;br /&gt;“Aaagghh.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kulepaskan blazer biru tuanya sehingga segera nampak pangkal lengannya yang mulus oleh karena Vera menggunakan lengan buntung dan kembali kukecup pangkal lengan sebelah kiri tersebut sementara jari jemari tangan kananku mengusap lembut pangkal lengan yang satunya dan berakhir dengan genggaman tangan kami yang menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Elmoo.. aagghh”, desah Vera bergetar&lt;br /&gt;Matanya kembali memandangku sayu dan perlahan dalam pelukanku kutuntun dia untuk mendekati ranjang. Kubukakan kancing demi kancing bajunya sementara Vera terus memandangku sayu seolah mengatakan lakukanlah.., dan segera setelah seluruh kancing baju tersebut terbuka, kudapati dadanya yang sangat putih mulus dengan bra berwarna gading dengan renda-renda kecil di bagian atasnya.. Kukecup.. kujilat seluruh bidang dada yang tidak tertutup bra, kuhirup dalam-dalam bau harum lembut yang semakin santer menerpa hidungku membuatku melayang untuk senantiasa memperlakukannya secara lembut dan bersama menari di atas ombak gelora cinta yang menjilat bak lidah api.. berakhir dengan dekapan eratku pada Vera. Kubuka tali pengait branya dan segeralah tersembul buah dada yang selama ini mungkin hanya dilihat oleh suaminya, tidak besar dengan puting berwarna merah muda yang menjungkit menantang untuk di sentuh. Kulanjutkan untuk membuka risleting roknya sebelum perlahan ku baringkan Vera di atas ranjang yang empuk.. sementara suhu ruangan masih belum terasa dingin oleh karena hembusan lembut udara ac belum cukup lama untuk menyejukkan udara kamar.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Vera hingga saat ini masih bersikap pasif dan pasrah seperti layaknya putri keraton yang menerima keadaannya.. dan sekarang kutindih tubuhnya dengan sebagian tubuhku dan kembali kupermainkan leher jenjang kanannya hingga ke belakang telinga dengan iringan rintihan Vera yang mendesah lembut laksana irama jazz. Kecupankupun terus turun menuruni garis lehernya secara perlahan untuk kembali mendaki bukit gunung kembar yang mungkin selama ini hanya mengenal sentuhan seorang lelaki, sementara aku adalah lelaki ke dua yang beruntung untuk bisa menyentuh dan menghisapnya dengan lembut.. di iringi belaian ringan jari-jariku mengusap seluruh permukaan kulit bukit kembar tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentakan tubuh Vera diiringi dengan gerak reflex tangan yang berusaha menangkap tanganku dan menekannya secara kuat ke payudaranya disertai dengan tekukan lututnya serta mata terpejam dengan kuat dan rapat menandakan gejolak dalam birahinya yang tak tertahankan berusaha menerobos keluar. Ketelusuri lekuk tubuhnya untuk menggapai tepi celana dalamnya dan segera kuturunkan dibantu oleh Vera yang mengangkat pinggulnya. Oh.. indah sekali bentuk rambut halus hitam yang tertata rapi bagaikan hamparan rumput hitam dengan panjang yang seragam dan terawat baik. Tekanan ringan pada kedua pinggulnya serta hisapan lembut di pundaknya kembali menyentakan Vera disertai dengan jeritan lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arrgghh..”, diiring dengan tekanan pinggul Vera untuk melawan ke atas. Jilatan demi jilatan kembali merayap menuruni belahan tengah buah dadanya, menuju ke perut dan secara reflekpun Vera mempersiapkan jalanku dengan membentangkan kedua belah pangkal pahanya dengan gerakan alami. Tanpa kesulitan dan dengan perlahan kecupan bibirku bisa sampai di belahan tengah bibir bawahnya yang disambut dengan mengalirnya cairan putih bening kental dalam jumlah cukup banyak berkelok-kelok seperti anak sungai membasahi rerumputan akibat terbukanya bendungan yang menjadi tanggul dari cairan tersebut. Jilatan sedikit kasar untuk mengangkat cairan tersebut dan diakhiri dengan hisapan kuat untuk membersihkan seluruh aliran kental anak sungai ini terasakan bagai dibetotnya sesuatu yang ada di dalam dan meluluh lantakan tulang belulang di tubuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“El.. mo..”, jeritan Vera diiringi dengan gerak liar pinggulnya dan tarikan kuat mencengkram bed cover yang belum diangkat saat kulakukan hisapan kuat tadi.&lt;br /&gt;“El.. mo.. masukkan aku ngga kuat lagi”, pintanya dalam nada bergetar mengharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kubuka kaos yang sedari tadi belum kulepaskan demikian juga seluruh pakaian yang masih menyelemuti tubuhku. Ketika aku mulai menindih tubuh mulus Vera, sensasi kulit nan lembut menyengat seluruh saraf sensitive di tubuhku dan mengakibatkan urat-urat di penisku menyembul dengan kuat memberikan guratan biru tegas membekas. Secara reflek Vera kembali menekukkan lututnya dan bebas membuka memberikan jalan bagi penisku untuk segera memasuki relung vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vera kembali memandangku sayu dan berkata perlahan, “Lakukanlah.. aku rela bersamamu”.&lt;br /&gt;Perlahan kuarahkan penisku untuk bisa mulai menelusuri lorong kenikmatan dengan relungnya yang kuyakin akan menjepit kuat dan ketika kujumpai ujung lorong tersebut perlahan kuturunkan penis tersebut untuk mulai menerobos lorong kenikmatan membor layaknya paku bumi diiringi dengan mata Vera yang terus meredup dan terpejam seiring dengan gigitan pada sudut bibirnya untuk menambah sensasi kenikmatan yang mulai berjalan. Sebaliknya kurasakan juga sodokan perlahan penisku serasa membuka lipatan-lipatan lunak yang tak berujung terus ke dalam diikuti dengan jepitan kuat sesudahnya memberikan sensasi yang tak terkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaakkhh..”, erangan panjang Vera disertai dengan mengejang kakunya seluruh tungkai kaki Vera yang panjang mengakhiri perjalanan penisku untuk mencapai lorong yang paling dalam sementara remasan kuat di bed cover menandakan perjalanan kenikmatan Vera yang masih belum berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dada kenyal tepat berada di bawah dada bidangku dan bisa kurasakan kehangatannya yang terus berdenyut mengalir membawa gelombang birahi bertalu-talu. Sunggingan senyum manis Vera menghias ujung bibirnya ketika mata bening itu bertatapan dengan mataku dalam jarak yang begitu dekat diiringi dengan lenguh nafasnya yang tetap memburu semakin menggila dan kedutan halus malu-malu dilakukannya dengan tetap memandangku diiringi dengan senyum manisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat.. teruskan”, pujiku untuk menambah kepercayaan dirinya bahwa apa yang dilakukannya bukanlah suatu hal yang tabu dan memang diperlukan untuk dapat menambah nikmatnya hubungan kami. Pujianku memberikan keberaniannya untuk segera melakukan manuver tersebut dan seiring dengan kembali terpejamnya mata lentik tersebut, remasan kuat berirama mengurut penisku yang membangkitkan seluruh titik saraf di tubuhku untuk terpusat pada gerakannya.. remasannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kulakukan perlawanan dengan menggenjot penisku untuk mengimbangi remasannya diiringi dengan lenguh nafas yang terus memburu seperti derak bantalan rel kereta yang dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhshshshhshhs..”, dengus nafasku tak dapat kekendalikan&lt;br /&gt;“Uuugghh.. uugghh..”, Vera tak kalah serunya merintih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buliran keringat sebesar jagung mulai membasahi keningku dan menetes di dadanya, demikian juga butiran keringat Vera mulai membasahi tubuhnya khususnya di pundaknya sehingga geraian rambut yang basah dan menempel pada pundaknuya menambah pesona memompa birahiku untuk mendaki mencapai puncaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakanku semakin seirama dengan hentakan pinggul Vera apakah demikian kuatnya ikatan emosi sehingga tak terlalu lama bagi kita untuk menyatukan irama gerakan kami akupun tak tahu namun hentakan menghunjam semakin kuat dan cepat dan berakhir dengan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ellmmoo”, teriakan Vera sesaat sebelum aku mencapai puncaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Vera mengejang sesaat sebelum akhirnya membujur lemas diam tak bergerak, wajah ayunya meninggalkan buliran keringat halus yang membentuk guratan halus ketika kuraba menuruni leher jenjangnya dan berkilap tertimpa cahaya lampu kamar. Tak bosan kupandang wajahnya yang memang ayu. Tak lama Vera mulai membuka matanya dan memandangku kembali dengan senyum khasnya, sebagai balasannya ku angkat penisku perlahan dan secara reflek Vera berusaha menahanku untuk tetap berada di dalamnya, namun tetap kuangkat perlahan dan segera kubalikan tubuh lemas Vera. Kupandang punggung halusnya dengan beberapa helai rambut yang tetap menempel basah oleh keringat, kuraba perlahan menyingkap helai-helai rambut tersebut untuk mendapatkan punggungnya secara utuh. Buliran keringat nampak jelas pada kedua belah bahunya menggodaku untuk kembali menjilatnya dan terus merayap ke atas menelusuri leher jenjangnya dan membasahi rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar tengkuknya dengan air liurku.&lt;br /&gt;Rintihan nikmat kembali terdengar seiring dengan bangkit kembalinya gelora gairah yang sempat mendatar tadi setelah mencapai puncaknya, “Eegghh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan jari-jariku yang merayap naik turun menelusuri seluruh lekuk tubuh Vera segera memicu kembali adrenalinku terlebih rintihan nikmat tersebut semakin cepat memburu dan hanya membutuhkan waktu yang teramat singkat untuk segera membangkitkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kutindih tubuh Vera dari belakang dan kuarahkan kembali penisku yang sedari tadi tetap menegang, sementara belahan kaki yang tampak sangat indah tersebut kembali terbuka lebar menyisakan lubang yang masih terbuka dan berdenyut halus dengan lendir yang membasahi sekelilingnya. Kuingin memasukinya kembali secara perlahan dan menikmati sensasi kenikmatan saat kumasuki relungnya tersebut secara perlahan dengan jepitan yang kurasakan lebih kuat lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“El.., cee.. pat lakukan, aku tak tahan.. Eeell”, rintihnya perlahan namun terdengar jelas.&lt;br /&gt;Perlahan namun pasti terus kudorong masuk penisku hingga mencapai jarak terjauhnya dan segera kuayunkan berirama.&lt;br /&gt;Gerakanku kali ini diimbangi dengan lenguhannya tiap kali ujung penisku menyentuh mulut rahimnya, “Arrkkh.., terus El.. arrkkhh”.&lt;br /&gt;Semakin lama genjotanku semakin kuat bertenaga seiring dengan memuncaknya sensasi yang kurasakan mulai menumpuk di ujung penis untuk menyemburkan sperma yang sedari tadi tertahan, dan jepitan liang vagina Verapun semakin mantap kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butiran keringat bak pasir di tepi pantai yang membasahi pundaknya kembali keluar dengan derasnya yang segera berubah membesar menyerupai butiran jagung tersebar merata hingga ke punggungnya.. berkilap tertimpa cahaya lampu. Hingga ketika tiba saatnya, ujung penisku berdenyut kencang dan dalam 1.. 2.. tusukan terakhir aku hunjamkan sekuat tenaga dan sedalamnya yang diiringi dengan teriakan Vera disertai gelengan kepalanya yang ke kiri dan ke kanan dengan cepat dan.. srett.. srett.. srett.. semburan maniku menelusuri panjang penisku dan menerjang masuk menabrak dinding rahimnya melemparkan puncak kenikmatan hingga keujungnya dan jatuh demikian terjal dalam kelelahan nikmat yang tak berujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaacchh..”, jeritan terakhir Vera sebelum dia kembali terjatuh dan diam dalam kelelahan yang teramat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluh yang bercucuran bercampur jadi satu ketika tubuhku ambruk dan menindih tubuh mulus Vera, bau harum keringat segera membuaiku dalam mimpi terindah bersama Vera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanks Ver”, ucapku sesaat sebelum ku terlelap&lt;br /&gt;“Thanks juga El”, sahutnya lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luluh lantak rasanya tubuhku malam itu dan terkuras habis staminaku setelah sebelumnya banyak tersita oleh urusan dinas namun apa yang kuberikan saat itu memberikan makna dan kesan yang sangat mendalam di lubuk hati Vera, oleh karena baru kali ini dia merasa begitu dihargai dan diperlakukan manja sebagaimana layaknya seorang istri yang memiliki kedudukan sama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3382723087024310055?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3382723087024310055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3382723087024310055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3382723087024310055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3382723087024310055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/03/putri-keraton.html' title='Putri Keraton'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-1263494666727827194</id><published>2009-02-28T23:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-28T23:59:51.613-08:00</updated><title type='text'>Kolam Renang Ancol</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Kolam Renang Ancol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal disuatu kompleks perumahan kelas menengah di Jakarta Timur , tidak terlampau besar , kurang lebih dihuni oleh 150 keluarga kelas menengah keatas .&lt;br /&gt;Hanya beda 1 jalan dari rumah , dipojokan terdapat rumah yang sangat asri yang ditempati oleh keluarga pak Juli seorang pengusaha tanggung yang kegedean lagunya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarin deh dia belagu terus yang penting bokinnya cing...kutilang ( kurus tinggi langsing ) , kulitnya kuning , rambutnya hitam abis dan matanya tuh...geunit pisan .&lt;br /&gt;Dikompleks diantara Bapak - bapak muda pembicaraan mengenai bokinnya Pak Juli enggak pernah kering , giliran yang rumahnya ketiban arisan Ibu-ibu kompleks pastilah sang Bapak selalu stand by dirumah .&lt;br /&gt;Enggak lain enggak bukan soalnya Mbak Candra begitu namanya , terkenal kalau pakai baju paling berani , pakai rok mini baju rendah belahannya dan paling sering ngongkong duduknya .&lt;br /&gt;Yang lebih gile lagi kalau dia tahu sang Bapak ada dan ngelirik doi , secara sengaja dia pamerin CD nya yang sumpah jembutnya sebagian betebaran nongol keluar dari pinggiran CD-nya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu , rumah gue yang ketiban rejeki ngadain arisan , so pasti gue pura -pura repot bantuin bokin nyiapin segalanya , tau dong gue musti tampil keren abis , jeans Versace dan baju gombrong Guess sengaja gue lepas kancing atasnya , biar sexy katanya .&lt;br /&gt;Bener aja , gue liat si Mbak Candra duduk dipojokan menghadap kamar kerja gue yang pintunya gue buka setengah aja .&lt;br /&gt;Sambil menghadap komputer secara nyamping gue bisa melihat kearah ruang keluarga , khususnya kearah doi duduk .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sundel banget , doi sore itu pakai rok mini hitam kontras dengan kulitnya dan pakai baju beige yang ketat , tapi bahannya alus banget . Gue masa bodo deh denger ibu - ibu berkicau yang penting gue bisa liat terus Mbak Candra yang sesekali juga ngelirik gue , kalau bertatapan gue senyum doi juga dong .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah doi buka jepitan pahanya , asli coy celana dalemnya yang krem keliatan , tengahnya keliatan item pasti karena jembutnya yang lebat , dan duile itu jembut gimana sih koq pada berurai keluar .&lt;br /&gt;Tiba - tiba doi ngedipin gue , terus gue bales ngedip sambil julurin lidah , eh dia malah senyum senyum dan sambil meremin matanya seperti orang kalau lagi keasyikan di toi .&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gue makin nekad , sekarang gue ngadep kedia sambil ngangkang dan secara atarktif gue usap-usap kontol gue dari luar celana ,&lt;br /&gt;terus gue kasih kode supaya dia menuju kamar mandi , belagak kencing lah .&lt;br /&gt;Doi ngangguk , terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi .&lt;br /&gt;Gue dan doi tahu banget , dikamar mandi luar masih dipakai sama ibu Agus yang gendut dan beser melulu .&lt;br /&gt;" Mas , ini ibu Candra mau numpang kekamar mandi yang disini " bini gue dengan polos ngajakin doi kekamar mandi yang ada diruang kerja gue .&lt;br /&gt;" Ya nih Pak Luki , abis kamar mandinya masih lama rasanya dipakai Ibu Agus "&lt;br /&gt;" Numpang ya , abis udah enggak tahan kebanyakan minum " biasalah doi basa-basi biar enak dikupingnya bokin .&lt;br /&gt;" Silahkan Bu , tapi enggak papa khan saya nerusin kerja dikomputer , maklum Bu belum jadi pengusaha seperti Pak Juli "&lt;br /&gt;" Ah Pak Luki bisa aja " kata doi sambil nyelonong kekamar mandi gue .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar otaknya juga pinter dalam hal berselingkuh , doi buka pintu kamar mandi setengah dan bilang " Pak Luki , ledengnya rusak ya ? " bokin gue masih ada lagi disitu . " Mas coba liat dulu deh , bantuin Ibu Candra , malu-maluin aja kamar mandinya " bokin gue setengah ngomel . " Biar dibantu sama Mas Luki ya Bu , dia yang sering pakai kamar mandi itu " terus bokin balik lagi kekamar tengah , soalnya bokin musti tanggung jawab dong sama rakyat arisannya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan belagak males - malesan gue berdiri , eits kontol gue masih ngaceng lagi , ah cuek deh .&lt;br /&gt;Mbak Candra ngelirik juga dan secara refleks doi ngeraba selangkangannya , anjir....terang aja itu tenda celana gue makin tinggi ,&lt;br /&gt;"Hayo , celananya kenapa tu" dia berbisik waktu gue masuk kekamar mandi .&lt;br /&gt;"Kamu sih bikin aku horny , jadi aku yang sengsara deh , mana pakai jean lagi " gue nekad ngomong gitu sambil ngeraba paha mulusnya . Gilanya doi bukannya marah malah bilang " Ya , kalau dibagian itu sih belum asyik "&lt;br /&gt;" Abis yang mana dong kalau asyik " gue masih setengah berbisik menyelusurin pahanya kearah memeknya yang bejembut gila .&lt;br /&gt;" Nah yang itu baru asyik , kamu juga kalau saya gituin juga asyik lah " gantian doi yang ngelus kontol gue dari luar sambil coba - coba buka retsleitingnya . Busyet gila juga ini perempuan , mana bau Isei Miyakenya merangsang banget .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue enggak tahan , " Mbak ngentot yuk " kata gue edan-edanan . " Ayo , kapan dong , mending berani lagi " tangannya sekarang udah masuk kedalam jeans gue dan mulai narikin halus kontol gue .&lt;br /&gt;" Eh , siapa takut apalagi kalau ngentotnya bareng Mbak " gue sekarang udah berhasil masukin jari kedalam memeknya yang basah dan lembab . " Besok ya , kekolam renang Ancol , jam 10 "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi banget nih si Mbak , kenapa kekolam renang sih , emangnya gue kecebong .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok jam 10 kurang seperempat gue udah stand by diparkiran kolam renang Ancol , gue telepon dia dengan no yang dikasih kemarin secara rahasia .&lt;br /&gt;" Mbak , aku udah sampe nih , kamu dimana " gue rada was was juga kalau doi enggak dateng .&lt;br /&gt;" Ini aku baru mau masuk Ancol , tungguin ya , kontolnya udah ngaceng lagi belum " sialan ngetest gue kali , tapi koq kedengarannya rame banget sih ada yang cekikikan dibelakangnya .&lt;br /&gt;Mati gue , jangan - jangan gue mau dijebak , siapa tau dia bawa bokin gue juga .&lt;br /&gt;" Kamu sama siapa sih , koq rame banget , gue jadi bisa enggak ngaceng lagi nih "&lt;br /&gt;" Janjinya gimana sih , katanya mau ML eh kamu bawa orang lain " setengah kesel gue ngomong ditelpon .&lt;br /&gt;" Pasti deh janjinya , pokoknya asyik banget kamu nantinya " dia ngalemin gue .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak sampai 10 menit , mobil Honda putihnya mendarat persis disamping mobil gue .&lt;br /&gt;" Surprise , nah ketauan ya enggak ngajak - ngajak kita " suara 2 Ce temennya Candra teriak bareng .&lt;br /&gt;Waduh pucet banget gue , karena ternyata yang diajak juga tetangga gue , Mbak Rina bininya pak Joko dan Mbak Ita bininya&lt;br /&gt;pak Raja . Salah tingkah abis gue . " Eh , kaget ya , take it easy aja , khan udah kenal , asyik-asyik aja deh pak Luki , eh kalau diluar Mas Luki dong " Mbak Ita yang mungil dan putih ( persis banget Kris Dayantie ) itu nyerocos aja membuat suasana jadi enggak tegang . " Enggak deh kita bilangin sang istri " si Rina yang body dan facenya seperti Dian Nitami nambahin , ya gue makin&lt;br /&gt;ngerasa siep banget dong . Tapi kewaspadaan tetap dipertahankan jangan lengah man .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah basa basi bentar , " Udah ya , pokoknya enggak ada yang boleh tahu selain kita - kita ya Mas " Rina sekarang yang&lt;br /&gt;membuat gue makin PD . " Pokoknya enjoy aja deh , kita bertiga udah kompak berat lho " Candra tanpa sungkan ngegandeng gue&lt;br /&gt;menuju loket . " Khan gue yang janjian sama Mas Luki , elo pada jangan ngiri ya , entar juga kebagian " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala jalan sekarang si Rina , doi pesen kamar ganti dan bilas keluarga . Sekalian pesan ban renang 2 buah yang guede banget .&lt;br /&gt;Ampun , ide apalagi sih . Seolah kita sekeluarga enteng aja mereka ngajak gue masuk bareng keruang ganti dan bilas .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denngan tenang mereka buka rok , baju dan terus BH , sialan mereka tenang aja seolah gue enggak ada disitu .&lt;br /&gt;Gila aja kalau gue enggak ngaceng liat Candra , Rina dan Ita yang umurnya sekitar 30 an pada memamerkan bodynya .&lt;br /&gt;" Eh , Mas Luki mau berenang atau mau nonton kita streap tease " kata si Ita sambil buka BH putih transparantnya .&lt;br /&gt;" Ya terang mau berenang dong , tapi aku maunya sih bilas dulu ah , masak langsung berenang " gue akal - akalan supaya mereka juga mau berbulat ria , tanggung amat baru liat toket dan setengah body .&lt;br /&gt;Gue buka baju dan celana , begitu tinggal CD mereka teriak bareng " Asyik ya , udah ngaceng "&lt;br /&gt;" He eh abis kalian sih begitu merangsang dan mempesona " kata gue sembarang siap - siap mau buka CD gue .&lt;br /&gt;" Ah enggak fair nih , masak jadi aku duluan yang telanjang , barengan dong jadi aku enggak malu "&lt;br /&gt;" Hu...maunya tuh , ya Candra kamu khan yang punya ide , kamu dulu dong...mana jembutnya aduh udah pada keluar tu "&lt;br /&gt;kata si Ita sambil narikin jembutnya Candra yang nongol terus dari pinggiran CD .&lt;br /&gt;" Aku sih Ta prinsip , sekali buka celana pantang kalau enggak di......"&lt;br /&gt;" Joss !!!!! " Ita dan Rina seperti koor nerusin apa maunya si Candra .&lt;br /&gt;" Ia deh , gue juga malu khan kalau keluar kamar ganti nanti swempaknya ada tenda mancung ". Cari pembenaran dong .&lt;br /&gt;" Bisa bubar orang dikolam nanti , elo pada mau ya gue jadi tontonan " gue belagak memelas sambil nunjukin si Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya enggak kaku , gue datengin si Candra yang masih berdiri dekat gantungan baju , gue peluk doi dengan kedua tangan dibagian pantatnya , gue cium bibirnya ala French kissing , lidah saling ketemu .&lt;br /&gt;" Wow , nafsu nih ya " si Ita ngeledek . Asyik banget deh pantat si Candra yang nonggeng gue remes - remes , tempelin abis mekinya dengan kontol gue , Candra langsung horny pingggangnya digoyang yang otomatis mekinya berputar diatas kontol gue .&lt;br /&gt;Sekitar 3 menit adegan itu gue pertahankan , sebenarnya gue udah nafsu banget mau langsung masukin kontol gue kememeknya&lt;br /&gt;Candra yang gue yakin udah basah . Sabar cing gue musti cool dong , pasang strategi soalnya masih ada 2 nonok lain menanti .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan gue melorot , dengan tetap mata memandang dia tangan gue pindah berputar meremas perlahan toketnya yang pentilnya&lt;br /&gt;relatif masih belum gede . " Eh elo jangan ngiri , sementara belum dapat giliran elo pada meremas sendiri aja dulu " masih sempat juga Candra ngeledek temannya yang terpana melihat gue yang sambil meremas toketnya sambil usaha jongkok depan dia , pakai gigi gue tarik perlahan CD nya . " Enak ya Can remasannnya Mas Luki ? " Rina bertanya tanpa arah karena gue tau dia juga tanpa&lt;br /&gt;sadar meremas dan memilin pentil toketnya .&lt;br /&gt;" Kita suruh buka sendiri ya " Ita protes narik sedikit CDnya sambil tangannya ngobel memeknya sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sini dong sayang , tangan gue enggak sampe kalau elo pada jauh - jauh " Gue enggak bisa ngomong panjang lagi karena Candra narik kepala gue kearah nonoknya minta dijilat , setelah CDnya melorot sampai dengkul kakinya .&lt;br /&gt;Anjir....kesampean juga gue jilatin dan rasain nonoknya Candra yang jembutnya gilaaaaaa !!!!!&lt;br /&gt;Itilnya agak gembung , merah banget , gue tahu setelah berupaya keras menepis bulu jembutnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ruang ganti sunyi , sambil ngejokil abis liang kenikmatannya Candra gue solider untuk pelorotin CD nya Rina dan Ita barengan , dan inilah pemandangan matanya pemirsa sekalian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candra , toketnya 34 bentuknya bagus banget , pentilnya agak gede kecoklatan , kulit seluruh bodynya coy kuning kencang mengkilat , bagian pantat ada sedikit selulit , jembutnya...khan udah tau elo pada en bulu keteknya idem ditto.&lt;br /&gt;Yang jelas enggak rapi , serabutan menutup semua bagian memeknya mendekati puser .&lt;br /&gt;Sambil ngedorong pantatnya kedepan supaya lidah gue bisa lebih dalam masuk kelobang nonoknya , dia terus mendesah ,&lt;br /&gt;kaki kananya ngegesek pelan kontol gue dari luar CD , sambil usaha masuk dari samping CD .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina , yang gue pelorotin pakai tangan kanan , toketnya gede agak panjang seperti pepaya , kulitnya sawo matang , maklum Jawa&lt;br /&gt;Solo sepertinya , bulu ketek anti cukur , serabutan disekitar susunya yang 36 . Pentilnya agak masuk kedalam .&lt;br /&gt;Pahanya kencang , tinggi sekitar 170cm , jembutnya keriting rapi , diatur sekitar lobang nonoknya ( Sering berbikini kali..)&lt;br /&gt;Lobang nonoknya memanjang , dibawah lipatan perut ada bekas jahitan Caesarnya .&lt;br /&gt;Doi terus meremas susunya sambil liatin tangan gue yang lagi berusaha nurunin CD pinknya .&lt;br /&gt;Supaya cepat , doi ikut ngebantu nurunin CDnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ita , siimut , tinggi sekitar 158 lah , jembutnya paling jarang jadi bagian dalam memeknya yang merah muda gampang keliatan ,&lt;br /&gt;toketnya kecil kenceng ukuran 32 , perutnya rata , paling kalem keliatannya tapi tangannya aktif terus megangin bokongnya sendiri , jangan - jangan doi paling hobby dibol dari belakang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngimpi apa gue liat tetangga gue pada telanjang bulet , elo elo yang belum ada pengalaman maen sama bini orang , gue anjurin deh elo cari mereka bertiga , enggak resek , berpengalaman dan tahu penuh apa enaknya ML .&lt;br /&gt;Kalau mau orgy cari yang sehati , kompak istilahnya dan enggak egoist , artinya mereka berupaya menikmati SEX sepenuhnya tanpa ada rasa sungkan , rilex dan terbuka .&lt;br /&gt;Hal ini juga gue buktikan sebelumnya dengan 2 sahabat mahasiswi yang kompak , tapi ya kita harus konsider atas kebutuhan jajannya lah , jangan merki . Kurang yakin kemampuan ya modalin VIAGRA yang paling mahal Rp. 150.000 / pil 100 mg .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya kamu pada mandi dulu deh dishower " kata gue pelan , sambil menjilat sisa juicenya Candra yang ada disekitar bibir gue .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candra enggak bereaksi , dia nuntun gue ketempat duduk , pas gue duduk dia jongkok didepan gue dan brebet dia tarik CD gue ,&lt;br /&gt;dia pandangin seluruh kostruksi kontol gue , enggak pakai komentar yang basi seperti cerita bokep yang lain ,&lt;br /&gt;" Aduh gede amat kontolnya , atau sok ngebandingin sama kontol Co yang lain , itusih kuno , tipu....!!! Jangan mau elo dibohongin sama yang bikin cerita , itukan cuma kebanggaan semu , yang penting gocekannya bukan gedenya , emangnya mau modal berat aja...tipuuuuu......"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jangan kelamaan Can , langsung maenkan , tunjukan kecanggihannya , apa perlu gue nih yang terjun " Rina sewot ngeliatin Candra yang masih memandang kontol gue sambil ngurut dari arah palkon kepangkalnya , tanpa komentar sambil tangan kirinya kasih kode enggak perlu , langsung kontol gue mulai dijilatin perlahan .&lt;br /&gt;Seluruh kepala kontol gue ( helmnya ) dijilat berputar , doi tau bagian yang paling enak yaitu dibagian bawah Palkon sekitar sambungannya . Cairan bening gue dijilatin sambil matanya memandang arah mata gue , seolah butuh pengakuan atau komentar&lt;br /&gt;Gue cuma bisa angkat 2 jempol , bravo go ahead Can .&lt;br /&gt;Selanjutnya cepet banget lidahnya bergeser enggak berhenti menari disekitar batang kontol , begitu dikemot kedalam mulutnya yang memang sexy dia keluarin cadangan ludahnya , jadi rasanya kontol gue berenang didalam air ludah , enggak ada rasa gigi Cing , belajar dari banci Taman Lawang kali .&lt;br /&gt;Gue udah seperti kura - kura yang dibalik , kaki gue kelayapan , gue tumpangin diatas pundaknya sambil kalau gue udah enggak tahan kepala si Candra gue bekep abis sama paha gue .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Rina - Ita sini dong , gue mau nih megangin tetek dan nonok kamu " Enggak sampai 2 kali order mereka langsung nyamperin gue dan Candra . Si Rina nyodorin susu pepayanya minta gue isap dan siimut Ita ngangkat kaki sebelah keatas bangku , berdiri disamping gue dan minta dirojok nonoknya dengan telunjuk gue yang masih bebas karena belum ada order .&lt;br /&gt;Gue pegang nonoknya yang merah sudah rada becek , maklum turunan Cina , begitu telunjuk gue masuk dia yang gerakin pinggulnya maju mundur kaya lagi ngentot aja gayanya .&lt;br /&gt;Doi merem melek ngerasain bulu - bulu yang ada ditangan gue , tangannya ngusap pentil susu gue secara beraturan .&lt;br /&gt;Bibirnya ngejilatin bagian dalam kuping gue yang rada caplang , kadang ngemut juga bagian gelambir telinga ogud , terus berbisik&lt;br /&gt;supaya enggak kedengaran sama yang lain " Mas Luki , pejunya jangan diabisin semua ya , kamu mau enggak ngerasain bokongnya Ita " ...Busyet bener khan doi doyan dibool , buktinya begitu gue pindahin jari kelobang pantatnya udah rada longgar ,&lt;br /&gt;gila kali pak Raja , doyan bener sodomi bokinnya yang imut .&lt;br /&gt;Gue cuma ngangguk dan nyodorin bibir gue buat ngerasain juga ciumannya si Ita .&lt;br /&gt;Wangi banget deh si Ita , bau Kenzonya makin ngerangsang gue .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar adil nonoknya Rina yang jembutnya rapi gue rojok juga , masih agak kering tapi mantap itilnya tebal , karena ngerasa agak dicuekin kali , enggak sabar si Ita sekarang jongkok dibelakang Candra , tangan kanannya ngelus tetek dan pentilnya Candra dan tangan kirinya berusaha ngobok - ngobok nonoknya Candra yang makin basah , soalnya gue liat kadang - kadang si Ita jilatin jarinya yang basah berlendir , apalagi kalau bukan juicenya Candra yang asyik banget rasanya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candra makin asyik aja nyepong gue , badannya menggeliat - geliat karena keasyikan dikobel Ita , gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra , entar gue timpa juga deh boolnya Candra , gue berandai andai .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue cuma bisa teriak kecil " Ngentot.....gila ngentot enak bener sama kamu pada , Candra uhhhh...uhhhh....abis ini gue entotin elo ya , gue nggak mau ngentotin kamu dari belakang , gue mau ngentot sambil terus ngeliatin nonok kamu yang jembutnya gila.."&lt;br /&gt;" Rina , gue mau ngentotin kamu sambil duduk biar gue bisa terus meres tetek kamu yang sexy banget " gue ngomong terus ngaco .&lt;br /&gt;" Ta , gue ngentotin kamu dari belakang ya Ta , gue pengen ngentot dilobang pantat Ta , abis elo sexy banget sih goyangnya "&lt;br /&gt;Elo gue saranin deh kalau lagi ngentot musti sering - sering ngomong yang vulgar , Ce jenis apapun makin nafsu dengernya ,&lt;br /&gt;dan elo gue jamin makin nafsu kalau Ce yang bukan Cabo atau Pecun teriak ngomong vulgar juga . Wuih ai jamin dah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas Luki , nanti pejunya buat Rina juga ya , jangan disemprot semua kemulutnya Candra " Rina sambil narik perlahan rambut gue juga turut berharap dengan memandang nafsu kerah kontol gue yang udah abis dikemot Candra ." Terus gue kebagian apa dong , gue mau juga dong ngerasain pejunya Mas Luki " Ita protes ke Rina pura - pura belum minta jatah dari gue .&lt;br /&gt;Enggak tahan gue tarik kontol gue yang enggak begitu gede dari mulutnya Candra , gue dudukin si Rina kebangku ,&lt;br /&gt;gue kangkangin pahanya yang juga seperti si Dian Nitami , penasaran gue sih mau liat dalemnya .&lt;br /&gt;Gue jilat itilnya yang udah rada ngegelambir , gile cing juicenya asyik banget rasanya , banyak banget dan meleleh ke bagian lobang pantatnya . Tanggung gue jilat sekalian lobang pantatnya yang berwarna coklat , yang didalamnya masih juga bejembut .&lt;br /&gt;Candra bantuin ngisepin teteknya Rina , tangannya ikut bantu ngedorong kepala gue supaya makin masuk ngejilatin nonoknya Rina&lt;br /&gt;yang rapi tercukur jembutnya . " Ah gila Candraaaaa.......Mas Luki enak banget ya jilatannya , aduh mama.....mama....aku ndak&lt;br /&gt;tahan nih ,.....Candra elo apain sih pentil aku....enakkkkkk Can...." Rina meronta - ronta yang membuat toketnya bergelantungan kekiri dan kekanan , pemandangan semakin horny cing .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh kemana si imut Ita , doi kalem aja , pantat gue diangkat pelan sampai ketinggiannya sejajar kepala gue yang berada didaerah selangkangan Rina , doi duduk menyelinap melalui selangkangan gue sekarang jadi duduk menghadap kontol gue yang terayun bebas . Cepat dan tangkas dia hisap kontol gue dengan mulutnya yang mungil , maju mundur berupaya menelan habis seluruh batang kontol gue . Sesekali dia pindah mengulum biji peler gue yang jembutnya lumayanlah , wuih cing asyik banget.......&lt;br /&gt;Saking imutnya seprti kancil dia menyelinap melalu selangkangan bergerak menuju arah belakang , dia remas - remas pantat gue..&lt;br /&gt;Gue kaget , tiba tiba ada rasa aneh geli - geli asyik dilobang pantat gue yang sedikit berjembut ,....ih apaan sih ...&lt;br /&gt;Anjir .....rupanya lidahnya Ita yang menari disekitar lubang pantat yang kadang - kadang dia coba julurin masuk .&lt;br /&gt;Nah sekarang gue enggak heran kenapa Homo doyan dimonon , rupanya emang enak kalau bool kita dimasukan sesuatu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta.....terus Ta....entar gantian deh gue jilatin anus kamu yang merah jambu.....terus Ta...asyik..., enak gila....." gue sejenak melupakan tugas ngejilatin nonoknya Rina .&lt;br /&gt;" Mas Luki....Rina hampir nih....lagi dong jilatin....tanggung dikit lagi Mas...aduh tega ya...." Rina mengharap gue bertindak .&lt;br /&gt;Langsung gue sosor lagi nonoknya , gue jilat abis lelehan juicenya yang mengarah kelobang pantatnya , gue jilat terus ...menuju&lt;br /&gt;bolnya dan Rina makin menggeliat - geliat seperti ayam yang dipotong tanggung .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas.....entotin aku dong , sebentar aja deh pasti keluar " Rina mengangkat kepala gue sambil berharap benar .&lt;br /&gt;Gua bertindak gentle dong , jangan buat dia kecewa , secara berlutut gue pegang batang kontol gue yang masih basah karena&lt;br /&gt;campuran ludahnya Candra dan Ita . Ita sigap pindah tempat disisi kiri Rina , sementara si Candra tetap pada posisinya dikanan&lt;br /&gt;Rina sambil terus meremas toket pepayanya Rina .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemuanya kelihatan menanti apa yang akan terjadi , " Candra - Ita , gue ngentotin Rina duluan bukan berarti elo pada gue nomor duakan , gue janji deh elo semua satu persatu akan gue entotin juga "&lt;br /&gt;" Okay Mas , buat kita enggak ada masalah yang penting kita bener - bener ML " Candra memberi semangat .&lt;br /&gt;Gue salut abis sama si Candra , solidaritasnya tinggi , tidak egois , pantas dia jadi kepala gang .&lt;br /&gt;" Ya Mas Luki , khan Mas Luki nantinya bisa ganti namanya jadi Mas Cipto ( Cicip roto ) " si Ita ikut nimpalin .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan gue arahin kontol gue yang bentuknya agak mengarah kekiri kepalanya , enggak sulit masukin nonoknya Rina ,&lt;br /&gt;tapi buat menghargai doi gue pura - pura merasa susah dong .&lt;br /&gt;Blebessss......gile cing , emang bener ngentot tu enak banget .&lt;br /&gt;Gue tolak pinggang pakai tangan kiri , kontol gue yang 15 cm maju - mundur terus , meliuk kiri kanan , berputar mencari itil dan G spotnya Rina .........." Mas Luki ,......ya..ya...yang disitu yang marem Mas " Rina bergetar , semua bagian bodynya yang enak - enak ada yang bertanggung jawab , nonok - toket kiri dan kanan , lobang pantat ada koordinator lapangannya ( KorLap )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Enak ya kontolnya Mas Cipto ..eh Mas Luki ....,...terus Rin ..goyang terus Rin...nikmatin abis...jangan ditahan - tahan " Candra&lt;br /&gt;tetap memilin pentilnya Rina sambil matanya nafsu melihat kontol gue yang bekerja dimemeknya Rina .&lt;br /&gt;" Ayo terus Mas Luki ...bikin si Rina puas ,...sini dong tangannya yang satu " Candra bernasehat sambil minta jatah dirojer nonoknya . Kalau mau jujur seharusnya gue musti muasin Candra duluan , disamping memang target utamanya khan dia tadinya ,&lt;br /&gt;enggak pakai dua kali lagi gue masukin jari tengah gue kedalam nonoknya yang sudah semakin basah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aghhhhhh....agh....... aku dapet Can...aku dapet Ta......, Mas....ini ya Mas rasanya enaknya ngentot " Rina makin mengelinjang .&lt;br /&gt;" Mas....nanti lagi ya....Massss.......asu....asu.....peline kui lho Mas..., maremmmmmm" hu...keliatan aslinya deh si Rina , keluar Jawanya . Gue tancep lebih dalam kontol gue , tanpa gerakan lagi gue pendam habis....dan emang bener enaknya Ce Solo ,&lt;br /&gt;tau enggak lo...tiba-tiba gue merasa ada sesuatu yang berputar - putar cepat dibagian kepala dan batang ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aduh..aduh apaan nih Rin , aduh...gila asyik - asyik...." gue senyum sambil terus tancepin kontol gue .&lt;br /&gt;" Nah , baru tau dia ...makanya jangan main - main sama Ce Solo " Rina nyubit perut gue sambil senyum lebar ngeledek .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan gue tarik keluar kontol gue yang masih ngaceng abis , keliatan makin berurat kayaknya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Waduh Candra , enggak salah deh kita janjian sama Mas Luki " kata Rina sambil balik meres toketnya Candra dan Ita .&lt;br /&gt;" Bener ya Rin , enak banget ya ngentotnya....ih kamu keringetan banget deh " Ita melap keringat disekitar leher sampai perutnya Rina .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hayo ,sekarang siapa nih yang bertanggung jawab mengeluarkan peju gue " dengan pura - pura marah gue liat kearah Candra .&lt;br /&gt;Soalnya seperti gue bilang , Candra adalah target utama , jadi dia musti tau dong .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elo ngebayangi enggak sih Candra seperti siapa , tidak lain adalah paduan antara Iis Dahlia dan Cut Keke , nafsuin khan .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-1263494666727827194?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/1263494666727827194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=1263494666727827194' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1263494666727827194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1263494666727827194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/kolam-renang-ancol.html' title='Kolam Renang Ancol'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3679114301571849447</id><published>2009-02-28T23:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-28T23:52:59.649-08:00</updated><title type='text'>Enaknya ABG SMU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Enaknya ABG SMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Senen di bulan Oktober 2006, aku keluar dari rumah agak telat yaitu jam&lt;br /&gt;06.45 pagi. Kuperhatikan anak2 sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan&lt;br /&gt;itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan2 ke sekolahnya&lt;br /&gt;masing2.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan ( tempat ini pasti&lt;br /&gt;dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat&lt;br /&gt;ini ), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan&lt;br /&gt;tangannya. Setelah kulihat dibelakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil&lt;br /&gt;kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan&lt;br /&gt;karena dia seorang diri disekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta&lt;br /&gt;kubuka kacanya sambil kutanyakan, mau kemana dik ? Kulihat anak sekolah itu agak&lt;br /&gt;cemas dan segera menjawab pertanyaanku, Paaaak boleh saya ikut sampai di SMA&lt;br /&gt;--------- (Maaf, nama sekolahnya terpaksa Blogger hapus), dari tadi kendaraan umum&lt;br /&gt;penuh terus dan saya takut terlambat ? dengan wajah yang penuh harap. Yaaa…OK&lt;br /&gt;lah….naik cepat kataku. Terima kasih paaak…katanya sambil membuka pintu mobilku.&lt;br /&gt;Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira2 10 Km dan selama perjalanan kuselingi&lt;br /&gt;dengan pertanyaan2 ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU&lt;br /&gt;di --------- dan bernama War--- (maaf, namanya disamarkan oleh Blogger).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi badannya kira2 155 cm, warna kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin&lt;br /&gt;karena matanya agak sayu. Penampilan nya sangat sederhana tanpa make-up, maklum&lt;br /&gt;saja perempuan tinggal di desa dan katanya orang tuanya adalah seorang petani.&lt;br /&gt;Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah --------- dan War---&lt;br /&gt;segera memberikan aba2..Ooom……sekolah saya ada di depan itu, katanya sambil&lt;br /&gt;jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan&lt;br /&gt;sekolahnya dan sambil menyalamiku War--- mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil turun dari mobil, War--- masih sempat bertanya..Oooom….besok pagi saya boleh ikut lagi..nggak Oom, lumayan Oom….bisa naik mobil bagus kesekolah dan sekalian&lt;br /&gt;menghemat ongkos…boleh yaa..Oom ? Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi&lt;br /&gt;kupandangi wajahnya, lalu kujawab…boleh boleh saja War--- ikut Oom, tapi jangan&lt;br /&gt;bergerombol ikutnya yaaa. Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, War--- sudah ada dipinggir jalan dan&lt;br /&gt;melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku. Dalam setiap perjalanan dia&lt;br /&gt;makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman2&lt;br /&gt;sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah&lt;br /&gt;pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, War--- bilang tidak&lt;br /&gt;apa2 tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih&lt;br /&gt;jauh soal pacarnya. War--- juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah&lt;br /&gt;kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di&lt;br /&gt;Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian di hari Jum'at, waktu War--- akan naik dimobilku kulihat&lt;br /&gt;wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan War--- duduk tanpa&lt;br /&gt;banyak bicara. Karena penasaran, kusapa dia, War---….., habis nangis yaaaa…,&lt;br /&gt;kenapa…..? coba War--- ceritakan….siapa tahu Oom bisa membantu. War--- tetap&lt;br /&gt;membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga nggak mau&lt;br /&gt;mengganggunya dengan pertanyaan2, tetapi kemudian dia berkata…Oom, saya habis&lt;br /&gt;ribut dengan Bapak dan Ibu, lalu dia diam lagi. Kalau War--- percaya pada Oom,&lt;br /&gt;tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu, kataku&lt;br /&gt;tetapi War--- saja tetap membisu. Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya,&lt;br /&gt;tiba2 War--- berkata, Oom…boleh nggak War--- minta waktu sedikit buat bicara&lt;br /&gt;disini, mumpung masih belum sampai di sekolah. Mendengar permintaannya itu,&lt;br /&gt;segera saja kuhentikan mobilku dipinggir jalan dan kira2 jaraknya masih 2 Km&lt;br /&gt;dari sekolahnya.&lt;br /&gt;Ada apa War…? Kataku. War--- tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk&lt;br /&gt;memulai berbicara. Ayoo..lah War (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus&lt;br /&gt;terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Blogger diganti jadi 3 huruf terdepan),&lt;br /&gt;jangan takut atau ragu…ada apa sebenarnya, tanyaku lagi. Begini….Oom, kata&lt;br /&gt;War---, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang&lt;br /&gt;tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan&lt;br /&gt;hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak&lt;br /&gt;boleh mengikuti ulangan2. Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama&lt;br /&gt;sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah.&lt;br /&gt;Alasan orang tua nya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan&lt;br /&gt;yang terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah&lt;br /&gt;karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikawinkan dengan&lt;br /&gt;tetangganya.&lt;br /&gt;Aku tetap diam untuk mendengarkan cerita nya sampai selesai dan karena War---&lt;br /&gt;juga terus diam, lalu kutanya…..teruskan cerita mu sampai selesai War. Dia tidak&lt;br /&gt;segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil&lt;br /&gt;mengusap air matanya dia berkata…Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin War---&lt;br /&gt;ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat kekantornya dan War--- juga harus&lt;br /&gt;ke sekolah, serta lanjutnya lagi… kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya&lt;br /&gt;ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya.&lt;br /&gt;Setelah diam sejenak, lalu War--- berkata lagi…Oom, kalau ada dan tidak&lt;br /&gt;keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya&lt;br /&gt;janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya.&lt;br /&gt;Mendengar cerita War--- walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan&lt;br /&gt;segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan&lt;br /&gt;padanya. Lho Oom, kok banyak benar…..saya takut tidak dapat mengembalikannya,&lt;br /&gt;katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya.&lt;br /&gt;War---….ambilah…nggak apa apa kok, sisanya boleh kamu belikan buku2 atau apa&lt;br /&gt;saja….., saya yakin War--- membutuhkannya dan segera kupegang tangannya sambil&lt;br /&gt;meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan…War---…ini nggak usah kamu&lt;br /&gt;beritahukan kepada siapa2, juga jangan kepada orang tuamu….dan…War--- nggak&lt;br /&gt;perlu mengembalikannya.&lt;br /&gt;Belum selesai aku menyelesaikan kata2ku, tiba2 saja dari tempat duduknya dia&lt;br /&gt;maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata…..terima kasih banyak Oom…,&lt;br /&gt;Oom..sudah banyak menolong saya. Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar…bukan&lt;br /&gt;karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah&lt;br /&gt;dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa kontolku menjadi tegang&lt;br /&gt;dan sementara War--- masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk&lt;br /&gt;membelai rambutnya dan kucium hidungnya.&lt;br /&gt;Ayoo…War…sudah lama kita disini, nanti kamu terlambat sekolahnya. War--- tidak&lt;br /&gt;menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya.&lt;br /&gt;Ketika sudah sampai didepan sekolah nya sambil membuka pintu mobil, War---&lt;br /&gt;berkata..Oom.., terima kasih yaaa..ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar&lt;br /&gt;cerita War---. Kalau besok gimana…?, kataku. Boleh….oom, jawabnya cepat.&lt;br /&gt;Lho..besok kan masih hari Sabtu dan War--- kan harus sekolah, jawabku.&lt;br /&gt;Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…hari Sabtu kan pelajarannya tidak&lt;br /&gt;begitu padat dan kurang penting, kata War---. Oklah…kalau begitu…War, kita&lt;br /&gt;ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke kantor setelah War--- turun, masalah War--- terasa&lt;br /&gt;mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai dikantor.&lt;br /&gt;Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Boss ku&lt;br /&gt;dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu&lt;br /&gt;malamnya kukatakan pada Istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor&lt;br /&gt;dan kalau selesainya telat terpaksa harus nginap dan pulang pada hari Minggu.&lt;br /&gt;Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku,&lt;br /&gt;aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat War--- tetap memakai baju&lt;br /&gt;seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap&lt;br /&gt;seperti habis menangis. Lalu kutanya…War…habis perang lagi yaaaa…?, soal apa&lt;br /&gt;lagi….?. Oom, ceritanya nanti saja deh….katanya agak malas. Kita mau kemana&lt;br /&gt;Oom…? Tanyanya.&lt;br /&gt;Lho…..terserah War--- saja….Oom sih ikut saja. Oom….saya kepingin ketempat yang&lt;br /&gt;agak sepi dan nggak ada orang lain…., jadi kalau kalau War--- nangis, nggak ada&lt;br /&gt;yang melihatnya kecuali Oom. Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku&lt;br /&gt;berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan War---, dan&lt;br /&gt;segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang kearah Kuningan ada sebuah&lt;br /&gt;lapangan Golf dan Cottage CPN. Segera saja kukatakan padanya..War---….tempat&lt;br /&gt;yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi……bagaimana kalau&lt;br /&gt;kita ke CPN saja..? Dimana itu Oom dan tempat apaan…?tanya War---. Aku jadi agak&lt;br /&gt;susah menjelaskannya, tapi kujawab saja…tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit&lt;br /&gt;diluar Cirebon dan…..begini saja deh..War…, kita kesana dulu dan kalau War---&lt;br /&gt;kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi. Setelah sampai&lt;br /&gt;ditempat dan mendaftar di receptionist dan memesan minuman ringan serta&lt;br /&gt;mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada&lt;br /&gt;War---…gimana War….kamu mau disini..? lihat saja tempatnya sepi ( maklum saja&lt;br /&gt;masih pagi-pagi. Receptionist nya saja seperti terheran-heran, sepertinya&lt;br /&gt;berfikir kok ada tamu pagi2 sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota ).&lt;br /&gt;Setelah mobil kuparkir didepan kamar, sebelum turun kutanya dia&lt;br /&gt;kembali…War…gimana…mau disini ? atau mau cari tempat lain ? War--- tidak segera&lt;br /&gt;menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku kearah&lt;br /&gt;pintu kamar motel. Segera setelah sampai didalam, dia langsung duduk di tempat&lt;br /&gt;tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia tetap diam saja,&lt;br /&gt;aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di&lt;br /&gt;pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat&lt;br /&gt;dan tiba2 saja War--- memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil&lt;br /&gt;terisak-isak. Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan&lt;br /&gt;kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, War---…..coba&lt;br /&gt;tenangkan dirimu…..dan ceritakan semua masalah mu pada Oom….., siapa tahu Oom&lt;br /&gt;bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu. War--- masih saja memelukku tapi&lt;br /&gt;senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia kearah&lt;br /&gt;tempat tidur dan perlahan kuterlentangkan War--- ditempat tidur dan kurangkulkan&lt;br /&gt;tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil&lt;br /&gt;kukatakan….War---…cobalah ceritakan masalahmu itu…..dan biar Oom bisa mengetahui&lt;br /&gt;permasalahanmu itu.&lt;br /&gt;War--- tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil&lt;br /&gt;menyeka airmatanya dia membuka matanya dan memandang kearahku yang jaraknya&lt;br /&gt;antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali.&lt;br /&gt;Oom….., katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi.&lt;br /&gt;War…..,kataku sambil kucium pipinya dan kuusap usapkan jari2 tangan kananku&lt;br /&gt;dirambutnya….cerita lah.&lt;br /&gt;Lalu War--- mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal&lt;br /&gt;kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang&lt;br /&gt;pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang&lt;br /&gt;sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya dan dia juga&lt;br /&gt;menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangga nya yang sudah&lt;br /&gt;punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah&lt;br /&gt;War--- dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikawinkan pada&lt;br /&gt;bulan Maret akan datang. War--- katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin&lt;br /&gt;kawin, apalagi kawin dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. War--- punya&lt;br /&gt;keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau kemana. War--- juga&lt;br /&gt;menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu,&lt;br /&gt;apalagi dia sudah terlanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan&lt;br /&gt;dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punyanya pacarnya itu sudah masuk&lt;br /&gt;ke memeknya apa belum, karena belum apa2 sudah keluar katanya.&lt;br /&gt;Jadi….gimana..Oom…, apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya&lt;br /&gt;setelah menyelesaikan ceritanya. War---……., kataku sambil kembali kuelus-elus&lt;br /&gt;rambutnya dan kucium pipinya didekat bibirnya…..War---….masalahmu kok begitu&lt;br /&gt;rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu. Begini saja War…..sebaiknya&lt;br /&gt;kamu minta kepada orangtua mu untuk menunda perkawinan itu sampai kamu selesai&lt;br /&gt;sekolah. Bilang saja…kalau ujian SMA mu hanya tinggal beberapa bulan lagi.&lt;br /&gt;Katakan lagi….sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun&lt;br /&gt;di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah. War….sewaktu kamu&lt;br /&gt;mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah2an&lt;br /&gt;saja orangtuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;Kalau orangtuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan&lt;br /&gt;sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian. Setelah selesai memberikan&lt;br /&gt;saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya…War…..bagaimana pendapatmu&lt;br /&gt;dengan saran oom ini ?&lt;br /&gt;Seraya saja War--- bangkit dari tidurnya dan memelukku erat2 sambil menciumi&lt;br /&gt;pipiku dan berkata..Ooom….terima kasih…atas saran oom ini…belum terpikir oleh&lt;br /&gt;saya sebelumnya hal ini….Oom sangat baik terhadap War---….entah bagaimana&lt;br /&gt;caranya saya membalas kebaikan Oom, dan terasa airmatanya menetes dipipiku.&lt;br /&gt;Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan War--- terlentang dan kulihat dari&lt;br /&gt;matanya yang tertutup itu sisa airmatanya dan segera kucium kedua matanya dan&lt;br /&gt;sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan kehidungnya dan terus turun kepipi&lt;br /&gt;kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya. Karena War--- masih&lt;br /&gt;tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan&lt;br /&gt;lahan kugeser ciumanku kearah bibirnya, dan tiba2 saja War--- menerkam dan&lt;br /&gt;memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup. Aku&lt;br /&gt;berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan kedalam mulutnya dan War---&lt;br /&gt;mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badan nya lagi dan tangan&lt;br /&gt;kananku segera kuletakkan tepat diatas buah dadanya yang terasa sangat kenyal&lt;br /&gt;dan sedikit kuremas. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta War--- bukan&lt;br /&gt;saja mencium bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu-satu kancing baju SMU nya&lt;br /&gt;berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus&lt;br /&gt;tertutup Bh putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar. Ketika kucoba membuka&lt;br /&gt;baju sekolahnya dari tangan kanannya, War--- kelihatannya tetap diam dan malah&lt;br /&gt;membantu dengan membengkokkan tangannya. Setelah berhasil melepas baju dari&lt;br /&gt;tangan kanannya, segera kucari kaitan Bhnya dibelakang dan dengan mudah&lt;br /&gt;kutemukan serta kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman,&lt;br /&gt;kadang dibibir dan sesekali diseluruh wajah bergantian. Bhnya pun dengan mudah&lt;br /&gt;kulepas dari tangan kanannya dan ketika kusingkap Bhnya, tersembul buah dada&lt;br /&gt;War--- yang ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan putting&lt;br /&gt;susunya berwarna kecoklatan. Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan&lt;br /&gt;tetek kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus kebawah dan&lt;br /&gt;sesampainya di teteknya, kujilati tetek War--- yang menantang itu dan sesekali&lt;br /&gt;kuhisap puting teteknya, sementara War--- meremas remas rambutku seraya&lt;br /&gt;terdengar suara lirih ….aaaaahhhh….aaaaaahh…. Oooomm….sssssshhhh….aaaahhh. Aku&lt;br /&gt;paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta merta kontolku&lt;br /&gt;semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap&lt;br /&gt;tetek War---, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah badan&lt;br /&gt;War---. Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus elus memeknya, terasa&lt;br /&gt;sekali ada bagian Cd yang basah. Sambil masih tetap menjilati tetek War---,&lt;br /&gt;kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping Cdnya untuk mencari bibir&lt;br /&gt;memek nya dan ketika dapat dan kuelus, badan War--- terasa menggelinjang dan&lt;br /&gt;membukakan kakinya serta kembali terdengar aaaaahhh…..ssssshhhh……ssssshhh….&lt;br /&gt;aaaaahhh. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War--- mengerang lirih&lt;br /&gt;seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di memeknya dan sekarang kugunakan&lt;br /&gt;untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera&lt;br /&gt;kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada&lt;br /&gt;kaitan sekaligus resleting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka kaitan&lt;br /&gt;dan resletingnya, sehingga roknya menjadi longgar dibadan War---.&lt;br /&gt;Lalu perlahan lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut War---&lt;br /&gt;seraya tanganku berusaha menurunkan rok nya. Roknya yang sudah longgar itu&lt;br /&gt;dengan mudah ku turunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War--- mengenakan Cd&lt;br /&gt;warna merah muda dan kulihat juga memeknya yang menggunung didalam Cdnya.&lt;br /&gt;Badan War--- menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat ciumanku&lt;br /&gt;mencapai Cd diatas gunungan memeknya itu, gelinjang badan War--- semakin keras&lt;br /&gt;dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya yang lirih sambil&lt;br /&gt;meremas-remas rambutku agak keras serta sesekali memanggil ..sssssssshhhh…&lt;br /&gt;aaaaahh….. sssshhht….. ooom….. aaaahhhh. Sambil kujilati lipatan pahanya,&lt;br /&gt;kuturunkan Cd nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan&lt;br /&gt;memek War--- masih belum banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan&lt;br /&gt;memeknya dan basah. Setelah berhasil melepas Cd nya dari kedua kaki War--- yang&lt;br /&gt;masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War--- sambil&lt;br /&gt;merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan pelan kujulurkan lidahku dan kujilati&lt;br /&gt;belahan memek nya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan&lt;br /&gt;dengan jilatanku itu, tiba2 War--- bangun dari tidurnya dan berkata&lt;br /&gt;Jaaa…ngaaan…Ooom, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;Karena takut War--- akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan kupeluk&lt;br /&gt;War--- serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya untuk&lt;br /&gt;menenangkan dirinya. War--- tidak memberikan komentar apa apa, tapi kami kembali&lt;br /&gt;berciuman dan War--- sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif&lt;br /&gt;menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju&lt;br /&gt;dan Bh War--- yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War--- sepertinya&lt;br /&gt;mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan memiringkan badannya agar&lt;br /&gt;bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk&lt;br /&gt;melepas baju dan celanaku sendiri. Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku&lt;br /&gt;termasuk Cdku, lalu dengan harap harap cemas karena aku takut War--- akan&lt;br /&gt;menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu disamping kiri atau kanan&lt;br /&gt;badan War---, sekarang aku naik diatas badan War---. Perkiraanku ternyata salah,&lt;br /&gt;setelah aku ada di atas badan War---, ternyata dia malah memelukkan kedua&lt;br /&gt;tangannya di punggungku sambil sesekali menekan nekan. Dalam posisi begini,&lt;br /&gt;terasa kontolku agak sakit karena tertindih diantara badanku dan paha War---.&lt;br /&gt;Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi yang enak,&lt;br /&gt;tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War--- malah merenggangkan&lt;br /&gt;kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak kusia2kan, segera saja&lt;br /&gt;kutaruh kedua kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan&lt;br /&gt;sekarang terasa kontolku berada di atas memek War---. War--- masih memelukkan&lt;br /&gt;kedua tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku.&lt;br /&gt;Sambil masih tetap kujilat dan ciumi selluruh wajahnya, kuturunkan tanganku&lt;br /&gt;kebawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan lahan kuelus memek War--- yang&lt;br /&gt;menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang bibir memeknya dengan jariku&lt;br /&gt;dan kurasakan kedua tangan War--- serasa mencekeram di punggungku dan ketika&lt;br /&gt;jari tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam memeknya, terasa memek&lt;br /&gt;War--- sangat basah dan kurasakan badan bawah War--- bergerak perlahan lahan&lt;br /&gt;sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba&lt;br /&gt;bagian dalam memek nya dan sesekali ku permainkan kelentitnya dengan jari2ku&lt;br /&gt;sehingga War--- sering berdesis&lt;br /&gt;sssssssssshh……..sssssssshhhh…..aaaaaahhhh….ssssshhh sambil kurasakan jari kedua&lt;br /&gt;tangannya menusuk punggungku. Setelah sekian lama kupernainkan memeknya dengan&lt;br /&gt;jariku, kemudian kulepaskan jariku dari memek War--- dan kugunakan tangan&lt;br /&gt;kananku untuk memegang kontolku serta segera saja kontolku kuarahkan ke memek&lt;br /&gt;War--- sambil kugosok gosokan keatas dan kebawah sepanjang bagian dalam memek&lt;br /&gt;War---, serta kembali kudengar desis suara nya ssssssshhhh… sssshhhh… ooooom……&lt;br /&gt;aaaaaaahh….sssssshhhh dan pantatnya diangkat naik turun pelan pelan. Karena&lt;br /&gt;kulihat War--- sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan&lt;br /&gt;tanganku dan kutujukan kontolku kearah bawah bagian memek nya dan setelah kurasa&lt;br /&gt;pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan pelan kontolku kedalam memek&lt;br /&gt;War---. Kuperhatikan wajah War--- agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit&lt;br /&gt;serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat didekat&lt;br /&gt;telingaku…. Aduuuhh … oooomm….Jangaaaannn …..sakiiittt…., Asiihh….takuuut…Oom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan kontolku&lt;br /&gt;dan kuelus elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan ..tidak….apa&lt;br /&gt;apa….. sayaaaang…. Oom …. pelan pelan saja….kok, untuk menenangkan ketakutan&lt;br /&gt;War---. War--- tidak segera menanggapi kata2ku dan tetap diam saja dengan tetap&lt;br /&gt;masih memelukkan kedua tangannya di punggungku. Karena dia diam saja dan&lt;br /&gt;memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan lahan, kutusukan kembali&lt;br /&gt;kontolku ke dalam memeknya dan terdengar lagi War--- berkata lirih didekat&lt;br /&gt;telingaku….aduuuuhh…..sakiiittt…. ooom,….. Asihhh….. takuuuuut, padahal&lt;br /&gt;kurasakan kalau War--- mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan lahan.&lt;br /&gt;Mendengar kata2nya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan kontolku tapi&lt;br /&gt;masih tetap ditempatnya yaitu dilubang memeknya, dan kembali kuciumi bibir dan&lt;br /&gt;wajahnya serta kuelus elus rambutnya sambil kubisiki….takut…apa…sayang…….War---&lt;br /&gt;tidak segera menjawab pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan&lt;br /&gt;ciumanku dibibirnya dan War--- mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan&lt;br /&gt;lidahku yang kujulurkan kedalam mulut nya dan kurasakan War--- mulai memindahkan&lt;br /&gt;kedua tangannya dari punggungku ke atas pantatku. Aku tetap bersabar menunggu&lt;br /&gt;dan tidak terburu buru untuk menusukkan kontolku lagi. Tetap dengan masih&lt;br /&gt;menghisap lidahku, kurasakan kedua tangan War--- sedikit menekan pantatku, entah&lt;br /&gt;perintah supaya aku menusukkan kontolku ke memeknya atau hanya perasaanku saja.&lt;br /&gt;Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi War---&lt;br /&gt;selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat&lt;br /&gt;War--- berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua&lt;br /&gt;tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan&lt;br /&gt;tapi pasti, kembali kutekan kontolku kedalam memeknya, tapi War--- tidak kuberi&lt;br /&gt;kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan&lt;br /&gt;kontolku makin kutekankan kedalam memeknya serta kulihat mata War--- menutup&lt;br /&gt;rapat2 seperti menahan sakit. Karena kontolku belum juga menembus memeknya, lalu&lt;br /&gt;sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan kedalam memek War---&lt;br /&gt;dan…….bleeeeeessssss….terasa kontolku sepertinya sudah menembus memek War--- dan&lt;br /&gt;aaaaaahhhh……..sakiiiiit….ooom….,kudengar suara War--- sambil seperti menahan&lt;br /&gt;rasa sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk sementara tidak kugerakkan&lt;br /&gt;pantatku dan setelah kulihat War--- mulai tenang dan kembali mau menciumi&lt;br /&gt;wajahku, lalu perlahan lahan kutekan kontolku yang sudah menembus memek nya&lt;br /&gt;supaya masuk lebih dalam lagi. Aaaaaaahhh…..oom….pelan..pelaaaan.., kudengar&lt;br /&gt;War--- berkata lirih…Iyaaaa….sayaaaang…ooom….pelah…pelan…., jawabku serta&lt;br /&gt;kubelai rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kudiamkan sebentar, lalu kugerakkan pantatku naik turun sangat pelan&lt;br /&gt;agar War--- tidak merasa kesakitan, dan ternyata berhasil, wajah War---&lt;br /&gt;keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan kontolku keluar masuk memek&lt;br /&gt;War--- sedikit kupercepat dan belum berapa lama terdengar suara&lt;br /&gt;War---…..ooom……oooooom.. aaaaaduuuuhhh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ooommm…aaaaaaahhh…..aaaadddduuuuuhh…aaaaaahh…ooom…, sambil kedua tangannya&lt;br /&gt;mencengkeram punggungku dengan kuat dan menciumi keseluruhan wajahku dengan&lt;br /&gt;sangat bernafsu dan badannya berkeringat, lalu War--- berteriak agak keras&lt;br /&gt;aaaaaaaaaaaaaaaahhhh….oooomm…..aduuuuuhhhhh…..lalu War--- terkapar dan terdiam&lt;br /&gt;lemas dengan nafas terengah engah. Rupanya Aku yakin kalau War--- sudah mencapai&lt;br /&gt;orgasmenya padahal nafsuku baru saja akan naik. Karena kulihat War--- sepertinya&lt;br /&gt;sedang kelelahan dengan kedua matanya tertutup rapat, jadi timbul rasa&lt;br /&gt;kasihanku, lalu sambil kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya dengan&lt;br /&gt;lembut, tapi War--- tidak bereaksi dan tanpa kuduga di gigitnya bibirku yang&lt;br /&gt;sedang menciumnya seraya berkata lirih….Oooom…..nakal…yaaaaa…., War--- baru&lt;br /&gt;sekali ini..merasakan hal seperti tadi…., sambil mencubit punggungku. Aku tidak&lt;br /&gt;menjawab komentarnya tapi yang kuperhatikan adalah nafasnya sudah mulai teratur&lt;br /&gt;dan secara perlahan lahan aku mulai menggerakkan kontolku lagi keluar masuk&lt;br /&gt;memek War---. Kuperhatikan War--- mulai terangsang lagi, War--- mulai menghisap&lt;br /&gt;bibirku dan mulai mencoba menggerakkan pantatnya pelan2 dan gerakannya ini&lt;br /&gt;membuat kontolku seperti di pelintir pelintir keenakan. Gerakan kontolku keluar&lt;br /&gt;masuk semakin kupercepat dan demikian juga War--- mulai makin berani mempercepat&lt;br /&gt;gerakan putaran pantatnya, sambil sesekali kedua tangannya yang dipelukkan&lt;br /&gt;dipinggangku berusaha menekan sepertinya menyuruhku untuk memasukkan kontolku&lt;br /&gt;kedalam memeknya lebih dalam lagi dan kudengar War--- mulai bersuara lagi&lt;br /&gt;..aaaaaaahh…..aaaaahh….ooooohhh….oommm…aaaaaaaaah….dan tidak terasa akupun mulai&lt;br /&gt;berkicau …..aaaaaaacchhh….aaaaaahhh…Siiiihh…..enaaaakk….. teruuuuuus….Siiiih.&lt;br /&gt;Ketika nafsuku sudah mulai memuncak dan kudengar juga nafas War--- semakin&lt;br /&gt;cepat, dengan perlahan lahan kupeluk badan War--- dan segera kubalik badannya&lt;br /&gt;sehingga sekarang War--- sudah berada diatasku dan kupelukkan kedua tanganku di&lt;br /&gt;pantatnya, sedangkan wajah War--- ditempelkan diwajahku. Dengan sedikit makan&lt;br /&gt;tenaga, kucoba menggerakkan pantatku naik turun dan setiap kali pantatku naik,&lt;br /&gt;kugunakan kedua tanganku menekan pantat War--- kebawah dan bisa kurasakan kalau&lt;br /&gt;kontolku masuk lebih dalam di memek War---, sehingga setiap kali kudengar suara&lt;br /&gt;nya sedikit keras …aaaaahhh….oooooh. Dan mungkin karena keenakan, sekarang&lt;br /&gt;gerakan War--- malah lebih berani dengan menggerakkan pantatnya naik turun&lt;br /&gt;sehingga kedua tanganku tidak perlu menekannya lagi dan setiap kali pantatnya&lt;br /&gt;menekan kebawah sehingga kontolku serasa masuk semuanya di memek War---,&lt;br /&gt;kudengar dia bersuara keenakan ….aaaaahhh…..aaaaaaah disertai nafasnya yang&lt;br /&gt;semakin cepat, demikian juga aku sambil berusaha menahan agar maniku tidak&lt;br /&gt;segera keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan War--- semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya semakin ditekankan&lt;br /&gt;kewajahku sehingga kudengar nafasnya yang sangat cepat itu didekat telingaku dan&lt;br /&gt;aduuuuuh…..aaaaaaahhh…..aaaahhh…ooommm….War---…..mauuuuu…keluaaaaaar…aaaaaaah.&lt;br /&gt;Tungguuuuu….. Waaaaarrrr…….kitaaaa….samaaa….samaaaaaa… ooom…. Jugaaaaa …&lt;br /&gt;mauuuu….. Aaaaaaaaaaahhhhh..aaaaaaaaaahhhhhh….Ooooooommm…..teriak War--- sambil&lt;br /&gt;mengerakkan pantatnya menggila dan akupun karena sudah tidak tahan menahan&lt;br /&gt;maniku dari tadi segera kegerakkan pantatku lebih cepat dan&lt;br /&gt;ccrreeetttt……ccrreeeeeett….ccccrrreeeeeett…dan aaaaaaaaahhhh…siiiiiiihh…. oooom&lt;br /&gt;keluaaaaaaaar…… sambil kutekan pantat War--- kuat2&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3679114301571849447?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3679114301571849447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3679114301571849447' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3679114301571849447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3679114301571849447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/enaknya-abg-smu.html' title='Enaknya ABG SMU'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-4505702580445086076</id><published>2009-02-25T06:49:00.001-08:00</published><updated>2009-02-25T06:49:44.855-08:00</updated><title type='text'>MIMPI BASAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Mimpi Basah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue pingin kasih tau buat kamu kalo dua malem ini gue selalu mimpi basah. Mimpinya kayak di film-film bokep. Bener gue gak bohong. Yang beda, wajah orangnya gak jelas. Tapi yang jelas yang gue **** bukan cowok karna gue bukan penyuka sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua malem ini gue sering on fire. Maksudnya, gue sering fantasi sex. Mungkin udah pada denger kan namanya istilah phone sex. Kegiatan ngesek lewat telpon. Maaf, bukan gue bicarain hal-hal jorok ini. Tapi kegiatan ini bener-bener kejadian. Gue sering lakuin ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gue punya temen cewek yang kenal lewat telpon juga. Satu kampung sama gue. Dia sering teplon malem-malem ato pagi-pagi sekali. Kebetulan satu operator, jadi murah. Awalnya sih gue gak ada maksud untuk obrolin masalah-masalah pribadi. Ibarat air, semuanya mengalir begitu saja hingga jadilah phone sex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malem kemarin, pas semua orang tidur, waktu itu gue juga abis tik. Masih capek dan udah mo tidur. Eh gak taunya ada panggilan masuk. Ida telpon. Gue trima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘ada apa, kamu belum tidur ya?’ tanya gue yang masih merem melek. Di kamar gak ada sapa-sapa. Hanya gue sama bantal guling yang gue peluk-peluk. Dingin sekali. &lt;br /&gt;Biasanya dia bakal tanya-tanya. Tapi kali ini dia mo crita soal pacar-pacarnya. Mantannya yang katanya masih gak bisa dilupain. Walaupun udah putus lama, Ida ini masih terus dibayangin sama wajah mantan pacarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu gue, cewek kalo udah lengket biasanya karena dua, pertama kena pelet, kedua diperet-peret alias negsek beneran. Wah, bagi yang baru pertama, apalagi cewek ya, wah itu gak bisa dilupain. Kecuali si ceweknya emang udah gak bener. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahirnya gue tanya-tanya. Dia cerita apa saja yang telah dilakuinnya sama cowoknya. Mulai dari peluk-pelukan hingga cium bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘selain itu lho ngapain lagi,’ tanya gue. Kalo hanya cium-cium gak mungkin lah. Pasti di mana-mana udah ada bekas-bekas jari-jari tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘ya gitu dech….!’ lanjutnya. Nah benerkan. Pasti lebih. Setelah itu gue terus nanya. Lalu gue nanya-nanya soal miliknya. Wah jangan deh, ini vulgar banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sejaman lebih ngobrol, akhirnya gue tidur. Dalam mimpi gue kaget kenapa gue bisa lakuin seperti yang gue tonton di bokep-bokep.Malem ini juga sama. Padahal gue gak nonton bokep dan sejenisnya. Tiba-tiba gue mimpi lagi. Dan basah deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas Subuh, cewek fantasi gue telpon. Wah gue pun mulai beraksi. Sok bilang di sini dingin. Trus nanya baju waktu tidur biasa pake apa. Nanya juga kalo cewek mimpi, biasanya mimpi apa. Wak udah deh pokoknya gue giring dia masuk jurang neraka. Bukan juran yang bikin dia megap-megap karena mo kelelep.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-4505702580445086076?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/4505702580445086076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=4505702580445086076' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/4505702580445086076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/4505702580445086076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/mimpi-basah.html' title='MIMPI BASAH'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-2833321739365601437</id><published>2009-02-25T06:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T06:47:09.818-08:00</updated><title type='text'>Cerita Selingkuh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Cerita Selingkuh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tidak seperti biasanya, karena bisa sedikit santai setelah terlepas dari pekerjaan yang sangat menyita waktu dan tenaga.&lt;br /&gt;Jadi sebisa mungkin aku manfaatkan waktu hari ini untuk sekedar melepas penat dan segala lelah di hari-hari yang telah lewat.&lt;br /&gt;Maka ditemani motor butut ku, aku pun melenggang meninggalkan pekarangan rumah, untuk sekedar jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di pikiranku hanya bertujuan mencari tempat yang agak tenang, sunyi dan damai untuk melepas lelah. Maka motorpun kuarahkan ke sebuah sisi kota tempat peristirahatan yang jarang ku singgahi..&lt;br /&gt;Setelah sampai suasana disini benar-benar sejuk, tenang dan sunyi. Serta masih cukup natural dihiasi pepohonan dan beberapa rumah saja. Serta aliran sungai yang adem ayem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah motor ku parkir ditempat yang cukup nyaman, aku pun melenggang bermaksud menuju ke tepian sungai untuk sekedar mengagumi ciptaan-Nya. Sesaat ketika hampir mendekati muara sungai, mata yang liar memperhatikan kiri-kanan, mendadak tertuju kesebuah rumah, dimana disana sepertinya terdapat sosok wanita yang aku kenal.&lt;br /&gt;Saking penasarannya, ku dekati sosok tersebut untuk pastikan aku tidak salah orang..dan ternyata benar, dia adalah teman sekolahku dulu waktu dibangku eS eM A , yang pernah duduk satu kursi dalam satu kelas bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tahu, dia sekarang sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Lalu ku dekati dia saat dia juga kaget melihat ku.&lt;br /&gt;"Hai, kamu Rina kan? Tumben kamu disini? Ini rumah siapa?", tanya ku!&lt;br /&gt;"Iya aku Rina. Kamu Toni kan? Teman sewaktu sekolah dulu?", jawabnya penuh semangat yang ku jawab dengan anggukan kepala. "Ini rumah istirahat yang di beli suami ku, jadi kadang kami santai disini kalau ada waktu", dia melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu mana suami dan anak mu?" ku tanya lagi, karena sejak tadi aku tidak melihat suami maupun anak-anaknya disana.&lt;br /&gt;"oh, suami ku lagi pergi belanja sama anak-anak, mungkin sorean baru kesini", jawabnya menepis rasa penasaranku.&lt;br /&gt;"Mari Ton, masuk dulu biar aku buat kan secangkir teh". Tawaran yang tidak bisa aku tolak, karena tidak mau dibilang sombong, apalagi ya sekedar mengenang masa nostalgia tidak ada salahnya ngobrol-ngobrol sebentar didalam, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahnya cukup besar dan nyaman, diruang tamu itu terdapat beberapa sofa high end, juga tv 32 inci aku rasa. Serta beberapa peralatan home theater dan beberapa foto tunangan dia.&lt;br /&gt;Setelah dibiarkan sendirian menikmati ruangan tamu yang ada, akhirnya Rina datang dengan secangkir teh panas ditangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya begitulah, percakapanpun mulai seru diawali dengan cerita-cerita semasa sekolah dulu, dan hal-hal lain semasa ada tugas dari sekolah dan teman-teman sekolah dsb.&lt;br /&gt;Lalu cerita mulai merambah ke soal keluarganya, tentang suaminya, yang katanya sangat sayang sama dia dan anak-anak, hanya saja kadang menyebalkan karena alasan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya pembicaraan makin seru aja, rasa-rasanya aku jadi betah ngobrol sama dia ini. Apalagi orangnya gak membosankan dan selalu saja bisa cari topik baru untuk dibicarakan.&lt;br /&gt;"Kamu tahu, aku dan suamiku kadang sering menyewa film yang beralur cerita romantis, seperti Titanic itu", saat topik mulai beralih ke film favoritnya." dan ada satu film yang sangat kami sukai sama-sama".&lt;br /&gt;"Oya? Apa judulnya? Siapa tahu aku juga sudah pernah nonton. Atau bisa ku sewa nanti", jawabku seadanya.&lt;br /&gt;"Tapi kamu janji ya jangan cerita siapa-siapa, karena ini rahasia ku dan suamiku", pintanya sambil menyorongkan tangan kanannya dan memintaku untuk menggapai tangannya untuk menjalin janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah begitu tangan ini saling bersentuhan dan saling menggenggam, kami berdua sama-sama terdiam dan tidak dapat berkata-kata. Mungkin sama-sama merasakan getaran yang sama dalam hati.&lt;br /&gt;Apakah aku telah mulai menanam benih cinta? Atau perasaan lainnya terhadap dia, aku tidak tahu.&lt;br /&gt;Memang ini dosa sekali, dan sangat tidak benar jika sampai jatuh cinta pada teman sekolah yang statusnya sudah menikah dan punya keluarga. Apalagi sampai tercipta istilah selingkuh. Benar-benar diluar kehendakku.&lt;br /&gt;"Judulnya...judulnya.."jawab dia begitu gugup saat mata kami saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat jawaban itu keluar, diluar kulihat sesosok pria berdiri dengan tatapan mata hambar didampingi dua anaknya, menatapku dan Rina dengan tajam nan liar yang sedang berpegangan tangan.&lt;br /&gt;Akupun sangat kaget dan secepat kilat melepaskan tangan Rina.&lt;br /&gt;"Ton, kenalkan ini..ini mas Adi, suamiku", Rina berbicara gugup memperkenalkan suaminya padaku.&lt;br /&gt;Belum sempat aku bicara, kulihat mimik muka suaminya yang benar-benar sedang dibakar api cemburu. Tanpa peduli kehadiranku dia segera mendekati arah kanan ruangan dimana terletak sebuah pentungan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat gelagat ini, aku segera ambil langkah seribu,&lt;br /&gt;"Rin, sepertinya aku harus segera pergi" tanpa peduli Rina yang lagi tegang, serta suaminya yang mulai mengambil pentungan, dan siap mengejarku, tidak ku pedulikan lagi. Aku hanya terus lari..lari..dan lari menuju motor bututku... tetapi ...brak...!! tersandung batu..dan..dan..aku...aku..terbangun dari mimpi buruk ku..&lt;br /&gt;Kemudian menyadari bahwa aku masih diatas kasur..&lt;br /&gt;Walah rupanya film selingkuh yang ku tonton kemarin malam berimbas kebawa mimpi malam ini :) ..(kalau benaran..udah dosa tingkat berapa ya jika terjadi begitu) :)&lt;br /&gt;Ya itulah cerita tentang selingkuh ku dalam...mimpi..!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-2833321739365601437?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/2833321739365601437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=2833321739365601437' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2833321739365601437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2833321739365601437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/cerita-selingkuh.html' title='Cerita Selingkuh'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3899563854941692342</id><published>2009-02-25T06:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T06:39:59.089-08:00</updated><title type='text'>Rahasia Sex Manjur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Rahasia Sex Manjur  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengetahuan.&lt;br /&gt;Pengetahuan adalah kekuatan seksual. Sebagian masyarakat mempercayai hal yang keliru tentang seks. (Wanita yang tidak mencapai orgasme saat hubungan seksual adalah frigid. Pria yang ejakulasi cepat memiliki masalah keintiman. Pria yang kehilangan ereksinya pada saat bercinta adalah marah kepada pasangannya. Dan sebagainya). Tidak adanya informasi seksual dan mis-informasi jelas akan menimbulkan kesalahpahaman, melukai perasaan dan menurunkan kenikmatan seksual.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2.Keberanian.&lt;br /&gt;Seks memerlukan sedikit keberanian. Jangan biarkan rasa takut dan malu membatasi perilaku seks Anda. Rasa takut akan kegagalan, terlihat “tolol” atau tidak dapat memenuhi harapan sendiri atau pasangan Anda, dapat menghentikan pasangan mencoba teknik baru dan mencoba posisi yang berbeda atau meminta jenis percintaan yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kebebasan.&lt;br /&gt;Kebebasan seksual adalah kebebasan dari tirani “harus”. Seks adalah tentang “keinginan,” bukan “keharusan”. Apa yang Anda dan pasangan Anda inginkan ? Itu yang menjadi masalah, bukan apa yang Anda pikir harus Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keterlibatan.&lt;br /&gt;Kepuasan yang paling tinggi terjadi karena keterlibatan dengan pasangan Anda. Jika Anda terlalu sibuk memperhatikan potensi Anda sendiri, Anda tidak akan mampu terlibat dalam pengalaman seks yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kepercayaan.&lt;br /&gt;Seks yang terbaik jika dua orang merasa cukup aman satu sama lainnya untuk menjadi lemah. Untuk mengatasi penghalang, hampir setiap orang memerlukan keyakinan bahwa dirinya diterima secara penuh oleh pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Keseluruhan.&lt;br /&gt;Dalam seks, seperti dalam kehidupan, mereka yang mampu dan berbagi akan meningkatkan pengalamannya sendiri dan pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Komunikasi.&lt;br /&gt;Jika Anda mengatakan apa yang Anda inginkan secara akurat tanpa menyebabkan sakit hati, Anda adalah komunikator yang efektif. Hal tersebut mungkin jauh lebih penting di tempat tidur dibandingkan di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Konteks Cinta.&lt;br /&gt;Seks yang paling memuaskan terjadi jika pasangan mencintai satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kemauan mencari bantuan.&lt;br /&gt;Kadang kadang pasangan mengalami kesulitan seksual yang tidak dapat mereka atasi sendiri. Jangan biarkan masalah tersebut merusak hubungan Anda. Pasangan dengan sikap yang baik akan mencari bantuan profesional untuk mendapatkan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Kesehatan yang baik.&lt;br /&gt;Rawatlah diri Anda dalam setiap bidang kehidupan, termasuk seks. Jika Anda merasa sehat, Anda merasakan segala hal secara lebih menyenangkan dibandingkan saat Anda sedang sakit atau mengalami gangguan fisik. Sebagian gangguan fisik tidak dapat dihindari. Tetapi kebiasaan pribadi yang baik akan meningkatkan kemampuan Anda untuk tetap sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Egalitarianisme.&lt;br /&gt;Seksisme menempatkan orang dalam kategori simplistik dan terbatas. (Pria harus memulai seks. Wanita harus bersikap pasif, dan sebagainya). Sikap seks yang sempit akan membatasi pengalaman erotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Sensualitas.&lt;br /&gt;Seks jauh lebih menyenangkan dibandingkan orgasme. Ini adalah proses erotik yang dapat dinikmati pada tiap stadium. Jika kedua pasangan terpusat pada kenikmatan sensual, mereka mengalami seks secara lebih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Humor.&lt;br /&gt;Kita menganggap seks terlalu serius. Seks seharusnya menyenangkan dan kadang kadang lucu. Pasangan yang dapat tertawa terhadap momen yang keliru akan menderita lebih sedikit kecemasan dibandingkan orang yang tidak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3899563854941692342?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3899563854941692342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3899563854941692342' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3899563854941692342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3899563854941692342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/rahasia-sex-manjur.html' title='Rahasia Sex Manjur'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-7592164635586773073</id><published>2009-02-25T06:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T06:19:43.038-08:00</updated><title type='text'>Sentuhan pertama begitu menggoda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Sentuhan pertama begitu menggoda &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Lia, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Asalku sendiri dari Bandung dan di Jakarta aku kost di sebuah rumah kost wanita di Jakarta Selatan. Ada sekitar 12 orang kost di tempatku dan sebagian besar masih kuliah seperti aku walaupun ada juga yang sudah bekerja. Aku cukup beruntung karena berasal dari keluarga yang berkecukupan, malah mungkin dapat dibilang cukup berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membedakan aku dengan wanita-wanita normal lainnya adalah sejak kecil aku tidak pernah tertarik pada pria. Sebenarnya banyak pria yang suka denganku sejak aku masih SMU. Teman-temanku juga banyak yang heran mengapa aku belum punya pacar juga, karena menurut mereka aku cantik. Aku selalu bilang kalau belum ada yang kusuka dan aku belum mau cepat-cepat pacaran. Ada juga yang pernah bercanda dan bilang kalau mungkin aku seorang lesbian. Sebenarnya temanku itu betul, tapi aku tidak berani mengakuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku malu sekali bila ada yang tahu kalau aku seorang lesbian. Orangtuaku juga pasti marah besar dan kecewa bila tahu keadaanku yang sebenarnya. Apalagi mereka juga tergolong sangat religius dan aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Bandung. Baru sejak aku kuliah dan pindah ke Jakarta aku dapat menyalurkan keinginanku yang sudah bertahun-tahun kupendam dan kadang sangat menyiksa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di SMU aku pernah punya teman dekat wanita. Kami sering pergi berdua dan aku suka sekali sama dia. Tapi sampai hari ini pun perasaan itu tidak pernah kuutarakan kepadanya karena aku tahu dia bukan seorang lesbian sepertiku dan aku tidak mau merusak persahabatanku dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertamaku dengan wanita dimulai sekitar satu tahun lalu. Di tempat kostku ada seseorang yang kebetulan juga kuliah di kampus yang sama denganku walaupun dia beda fakultas, sebut saja namanya Tasya. Tasya tidak punya kendaraan, jadi dia sering ikut mobilku ke kampus. Kami juga sering pergi ke mall atau nonton bersama, sehingga dalam waktu yang singkat hubungan kami menjadi cukup dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya anaknya sangat cantik (dia sekali-sekali melakukan pemotretan sebagai model dan pernah menjadi cover girl di salah satu majalah remaja), kulitnya putih mulus dan badannya juga tinggi langsing. Sebenarnya sejak dari awal aku kenal dia aku sudah suka dia, tapi sekali lagi, perasaan itu kusimpan dalam-dalam karena aku tidak tahu apakah dia juga seperti aku atau seperti gadis normal lainnya. Yang kutahu dia belum pernah punya pacar cowok juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam hari kami sering main ke kamar masing-masing untuk ngobrol atau nonton film. Kamar Tasya juga ada kamar mandinya dan biasanya dia hanya melilitkan handuk setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian di depanku. Mungkin karena aku wanita juga, jadi dia tidak malu-malu, pikirku. Di kamar biasanya Tasya hanya mengenakan baju kaos longgar tanpa BH atau celana dalam lagi. Aku sering mencuri-curi pandang ke kemaluannya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat. Hampir seluruh badannya ditumbuhi bulu-bulu halus dan ini menambah keseksian dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa bulan kami dekat, aku masih belum tahu kalau dia juga seorang lesbian sepertiku. Aku baru tahu setelah dia sendiri mengaku kepadaku. Kejadiannya sekitar 7-8 bulan yang lalu. Waktu itu aku sedang baca majalah di kamar dan Tasya main ke kamarku, katanya mau nonton VCD di kamarku. Sambil dia nonton, aku pergi mandi dan waktu aku selesai mandi aku sengaja keluar tanpa mengenakan apa-apa. Hal ini tidak pernah kulakukan sebelumnya karena sebenarnya aku cenderung pemalu dan tidak biasa memamerkan tubuh telanjangku ke orang lain. Aku hanya mau melihat reaksi Tasya saja kalau melihat aku dalam keadaan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu aku keluar kamar mandi, dia cukup kaget melihatku. Matanya terus memandangi tubuhku dari atas ke bawah dan dia berkomentar kalau badanku seksi dan dia suka buah dadaku yang menurutnya walaupun tidak begitu besar tapi kelihatan kencang. Tidak tahu kenapa, saat itu aku tidak merasa malu walaupun Tasya terus memandangku, dan malah aku sengaja berlama-lama mengeringkan rambutku sambil menghadap ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku mengenakan baju tidur putih yang bahannya cukup tipis tanpa mengenakan apa-apa lagi seperti yang biasa dilakukan Tasya. Aku duduk bersila di depannya dan kami mulai mengobrol seperti biasanya. Karena posisi dudukku dan baju tidurku yang cukup pendek, Tasya dapat melihat kemaluanku dengan jelas, dan kuperhatikan dia beberapa kali melihat ke arah situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kami pun berlanjut dan Tasya menanyakan aku apakah aku pernah pacaran dengan wanita, karena dia heran kenapa sampai saat ini aku belum pernah punya pacar cowok. Aku bilang belum dan aku tidak melanjutkan jawabanku lagi. Hal yang sama kutanyakan ke Tasya dan jawabannya sungguh di luar dugaanku. Tasya mengaku kalau sebenarnya dia adalah seorang lesbian dan dia pernah punya pacar wanita sewaktu di SMU. Terus terang, pernyataan itu membuat hatiku berbunga-bunga karena dia adalah wanita pertama yang kusuka dan kebetulan juga seorang lesbian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranikan untuk berterus terang ke Tasya kalau aku juga seperti dia dan bahwa sudah lama aku memendam perasaan padanya. Tasya tersenyum dan mengatakan bahwa dia juga punya perasaan yang sama, tapi juga tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepadaku sebelum dia yakin kalau aku juga suka sama dia. Tasya kemudian merebahkan kepalanya di pangkuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membelai rambutnya, kami terus ngobrol dan menyesalkan kenapa selama ini masing-masing selalu berpura-pura dan tidak berani berterus terang. Aku bilang kalau aku takut dia malah menjauhiku kalau tahu aku seorang lesbian, karena sampai hari itu pun aku juga tidak tahu kalau Tasya seperti aku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Tasya mengajakku naik ke ranjang. Kami berciuman lama sekali, dan itulah pengalaman pertamaku berciuman dengan seseorang. Tasya kelihatan sudah cukup ahli dan tangannya mulai turun dan memegang buah dadaku. Aku sudah mulai terangsang dan aku minta dia untuk melepaskan baju tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berdiri, Tasya melepaskan baju kaos yang dikenakannya, tetapi masih mengenakan celana dalamnya. Kemudian dia menarik baju tidurku ke atas sehingga aku tidur telentang di hadapannya tanpa mengenakan apa-apa lagi. Tasya kemudian mulai menciumi buah dadaku dan menjilati kedua putingku. Aku sudah sangat terangsang dan kemaluanku mulai basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman Tasya mulai turun dan dia kemudian membuka kedua kakiku lebar-lebar. Rambut kemaluanku disibakkan dan Tasya mulai menjilati klitorisku. Aku terus mengerang sambil memejamkan mata. Hanya dalam selang waktu beberapa menit aku menikmati ciuman pertamaku, sentuhan seorang wanita dan sekarang pertama kalinya juga seseorang menjilati kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya terus memainkan lidahnya di kemaluanku dari atas ke bawah dan beberapa kali menghisap klitorisku seperti menghisap sedotan. Aku orgasme beberapa kali dan sepertinya Tasya tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk bernapas dan terus memainkan lidahnya dan menjilatiku dengan semakin bernafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas menjilatiku, dia memintaku untuk melakukan hal yang sama kepadanya. Aku mulai dengan menjilati buah dadanya yang lumayan besar dan putingnya yang berwarna merah kecoklatan. Putingnya juga besar dan sepertinya sensitif sekali, karena Tasya langsung mendesah-desah dengan keras begitu aku menjilati putingnya. Tasya memintaku untuk menjilati kemaluannya, tapi aku masih belum puas bermain-main dengan putingnya yang seksi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilatanku terus turun sampai ke kemaluannya. Celana dalamnya belum kulepaskan, dan di sebelah kiri kanan celananya terlihat rambut kemaluannya yang lebat. Aku mulai dengan menjilati sebelah kiri dan kanan selangkangannya. Tasya terus mendesah dan membuka kakinya lebih lebar lagi. Dia memintaku untuk melepaskan celananya, dan sambil pantatnya diangkat sedikit, kulepaskan celana dalamnya perlahan-lahan, dan terlihatlah dengan jelas kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulanjutkan dengan menjilati kemaluannya, matanya dipejamkan dan kedua tangannya ditaruh di atas kepalaku sambil sedikit menekan-nekan dan mengarahkan jilatanku ke klitorisnya. Ternyata menjilati kemaluan wanita sangat nikmat, lebih dari yang selama ini kubayangkan. Aku membuka bibir kemaluan Tasya dan kujilati bagian dalamnya yang berwarna kemerahan. Tasya sudah sangat basah dan semakin keras mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Tasya memintaku untuk bangun dan melakukan posisi 69 dengan tubuhku berada di atas tubuhnya. Kami saling menjilati kemaluan satu sama lain sampai akhirnya kami beberapa kali orgasme. Setelah lelah, kami berciuman kembali dan tidur berpelukan sepanjang malam. Aku benar-benar menikmati pengalaman pertamaku ini, apalagi dengan orang secantik dan selembut Tasya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah malam itu, kami sering bercinta. Kadang-kadang aku menginap di kamarnya atau dia di kamarku. Memang kami tidak berani untuk tidur bersama setiap malam untuk menghindari omongan teman-teman kost lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percintaan kami berakhir dua bulan yang lalu waktu Tasya beserta keluarganya pindah ke Australia. Aku sangat kehilangan dirinya dan tidak tahu apakah aku akan mendapatkan orang seperti dirinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku sangat kesepian dan kadang-kadang timbul keinginan untuk menceritakan keadaanku yang sebenarnya ke orang lain, mungkin saja dengan begini aku akan lebih mudah mendapatkan teman wanita. Tapi sepertinya saat ini aku belum siap dan aku terlalu takut orangtuaku akan kecewa dan marah besar kalau mereka tahu satu-satunya anak wanitanya adalah seorang lesbian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-7592164635586773073?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/7592164635586773073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=7592164635586773073' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/7592164635586773073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/7592164635586773073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/sentuhan-pertama-begitu-menggoda.html' title='Sentuhan pertama begitu menggoda'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-8313271821681207827</id><published>2009-02-25T06:16:00.001-08:00</published><updated>2009-02-25T06:16:59.510-08:00</updated><title type='text'>Yang Besar dan Yang Kecil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Yang Besar dan Yang Kecil&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marissa (24 tahun, selanjutnya disebut Risa) adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Yogyakarta. Setelah semester 6 ini dia libur selama sekitar satu bulan. Dia mengisi waktu dengan melakukan kerja praktek pada sebuah industri di sebuah kota di Jawa Tengah. Karena tidak mempunyai saudara atau teman di kota tersebut, maka oleh direksi industri tersebut dia dititipkan ke rumah kontrakan salah satu karyawati yang bernama Gia Amalia (23 tahun, selanjutnya disebut Gia). Kebetulan Gia tinggal sendirian di rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Risa telah tiba di rumah Gia dan langsung dijamu dengan makan malam. Mereka berdua berbincang-bincang mengenai banyak hal. Selesai makan malam pun mereka masih asyik berbincang-bincang. Selama berbincang-bincang tersebut Risa sesekali melirik kedua payudara Gia yang berukuran 40. Kedua payudara Gia yang dilapisi bra berwarna hitam dan kaos putih ketat itu membuat iri Risa. Dia iri karena kedua payudaranya hanya berukuran 32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Ris?” Tanya Gia yang rupanya memperhatikan lirikan mata Risa.&lt;br /&gt;“Nggak kok.” Elak Risa sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Jujur saja. Aku tahu apa yang kau pikirkan.”&lt;br /&gt;“Bener mbak. Nggak apa-apa kok.” Risa masih mengelak. Dia juga menyebut Mbak kepada Gia meskipun dia lebih tua dari Gia. Risa sendiri yang minta untuk memanggil Gia dengan sebutan Mbak ketika tiba di rumah Gia karena alasan senioritas. Gia telah bekerja sedangkan dia masih kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu heran ya? Kenapa kedua payudaraku lain dengan kedua payudaramu?”&lt;br /&gt;“Iya. Diapakan mbak? Pakai obat ya mbak?” Tanya Risa yang rambut lurus cepaknya berwarna kemerah-merahan.&lt;br /&gt;“Pakai oil.” Jawab Gia singkat.&lt;br /&gt;“Boleh minta?”&lt;br /&gt;Gia hanya mengangguk dan berdiri dari kursi menuju kamarnya.&lt;br /&gt;“Nggak usah sekarang mbak. Besok saja. Risa sudah ngantuk. Mau tidur. Besok kan mulai kerja.” Cegah Risa yang juga berdiri dari kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gia yang rambut panjangnya berombak dan hitam serta diikat membalikkan tubuhnya dan membereskan meja makan dibantu oleh Risa sambil membicarakan masalah-masalah pekerjaan besok. Setelah itu mereka berdua menonton televisi. Hanya sebentar Risa menonton televisi. Gia menyuruh Risa tidur di kamar yang telah disiapkannya. Dia sendiri juga menyusul tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risa yang masih lelah karena perjalanan dari Yogya berusaha tidur. Bayangan kedua payudara Gia yang besar membuatnya sulit tidur. Akhirnya setelah beberapa saat dia pun tertidur. Pagi harinya dia terbangun. Dia lalu menuju dapur. Disana telah ada Gia yang tingginya sama dengan tingginya, yaitu sekitar 165 cm. Beratnya saja yang beda. Beratnya sekitar 48 kg. Sedangkan berat Gia sekitar 50 kg. Dia sedang membuat teh. Risa menghampirinya. Gia yang menyadari kedatangan Risa lalu berbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana? Bisa tidur nggak?” Tanya Gia.&lt;br /&gt;“Nggak bisa mbak. Ingat payudara Mbak sih.” Jawab Gia sambil tersenyum yang dibalas oleh Gia dengan senyuman. Kemudian lanjutnya.&lt;br /&gt;“Boleh nggak mbak, Risa lihat kedua payudara mbak?”&lt;br /&gt;Tanpa menunggu persetujuan Gia, Risa sudah membuka ikatan kimono tidur berwarna coklat yang dipakai Gia. Rupanya tubuh berkulit sawo matang tersebut hanya memakai celana dalam berwarna putih. Gia juga membuka ikatan kimono tidur berwarna hitam yang dipakai Risa. Sama dengan dirinya. Risa yang berkulit putih mulus juga hanya memakai celana dalam berwarna kuning. Mereka berdua menjatuhkan kimono masing-masing ke lantai. Dan Risa langsung membelai payudara kanan Gia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Gia lalu membalikkan tubuh Risa. Dibelainya tato bergambar kepala cewek di punggung sebelah kanan Risa. Dia lalu membelai paha kiri Risa dengan tangan kirinya.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Lalu diturunkannya celana dalam yang dipakai Risa sampai terlepas dari tubuhnya. Kemudian giliran Risa yang menurunkan celana dalam yang dipakai Risa sampai terlepas juga dari tubuhnya. Risa lalu jongkok dan membelai belahan kedua payudara Gia dengan tangan kanannya.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Tangan kiri Gia lalu memegang tangan kanan Risa dan diremaskannya ke payudara kirinya.&lt;br /&gt;“Ooohh..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Risa lalu mundur dan duduk di kursi sambil menarik tubuh Gia. Sambil duduk dia menjilati payudara kanan Gia.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Tangan kirinya membelai vagina Gia. Tangan kirinya lalu meremas payudara kanan Gia dan lidahnya menjilati puting payudara kanan Gia.&lt;br /&gt;“Ooohh..aahh..oohh..eehmm..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Risa membalikkan tubuh Gia. Dari belakang kedua tangannya lalu membelai kedua payudara Gia dan dilanjutkan dengan meremas kedua payudara Gia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeehmm..oohh..” Desah Gia.&lt;br /&gt;“Sudah Ris. Nanti kita terlambat. Kita kan belum mandi dan sarapan.” Kata Gia sambil melepaskan diri dari jamahan Risa. Kemudian Gia masuk ke kamar mandi yang tepat berada di samping dapur. Risa mengikutinya.&lt;br /&gt;“Bolehkah aku ikut mandi dengan mbak?” Tanya Risa yang masih berdiri di pintu kamar mandi.&lt;br /&gt;Gia yang sedang mandi di bawah pancuran hanya menganggukan kepala sambil tersenyum menantang. Risa kemudian bergabung mandi dibawah pancuran. Dia langsung disambut dengan Gia yang menempelkan tubuhnya ke tubuh Risa. Dia mematikan pancuran dan tangan kirinya membelai vagina Risa dan tangan kanannya memeluk pinggang Risa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooohh..aahh..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Kemudian Gia semakin merapatkan tubuhnya yang basah ke tubuh Risa yang juga basah. Kedua payudaranya menempel di kedua payudara Risa yang kecil.&lt;br /&gt;“Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.&lt;br /&gt;Bibirnya ditempelkan juga ke bibir Risa. Mereka berdua berciuman dan saling berjilatan lidah. Tiba-tiba Risa terpeleset. Untung dia bisa cepat menguasai tubuhnya sehingga dia tidak merasa kesakitan. Tapi dia tidak segera berdiri. Dia ingin Gia menolongnya. Dengan harapan dia dapat menarik tubuh Gia supaya ikut terjatuh. Ternyata Gia mengambil selang pancuran dan airnya disemprotkan ke vagina Risa. Hanya sebentar. Dia lalu berjongkok dan menyabuni vagina Risa dengan sabun. Diciumnya juga bibir Risa yang membalas dengan hebatnya. Lama sekali Gia menyabuni vagina Risa sambil sesekali jari tengah tangan kanannya dimasukkan ke vagina Risa. Sementara tangan kirinya menuangkan sabun cair ke dalam bathtub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Gia menarik tubuh Risa untuk masuk ke dalam bathtub. Mereka berdua lalu saling mengusapkan busa sabun ke tubuh mereka. Sesekali mereka berdua berciuman sambil saling menjilatkan lidah. Mereka berdua juga saling berpelukan dan menempelkan kedua payudara mereka.&lt;br /&gt;“Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.&lt;br /&gt;Kemudian Risa membersihkan busa sabun yang berada di kedua payudara Gia dengan kedua tangannya. Dijilatinya puting payudara kanan Gia.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Perlakuan Risa membuat tubuh Gia semakin naik dan menjadikan dia berdiri dengan bersandar pada dinding kamar mandi. Risa sudah tidak lagi menjilati puting payudara kanan Gia. Kini dia membersihkan busa sabun di vagina Gia dengan air. Lalu dia menghisap vagina Gia dengan lidahnya.&lt;br /&gt;“Aaaghh..oohh..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Gia hanya bisa meremas-remas sendiri kedua payudaranya dengan kedua tangannya. Sesekali tangan kiri Risa juga meremas payudara kiri Gia.&lt;br /&gt;“Ooohh..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Mulutnya naik kembali ke atas dan menghisap payudara kiri Gia sambil jari tengah tangan kanannya mengocok vagina Gia.&lt;br /&gt;“Oooughh..aahh..oouhh..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Dia lalu menempelkan kedua payudaranya ke kedua payudara Gia.&lt;br /&gt;“Ooouhh..”&lt;br /&gt;Dipeluknya Gia sambil menjilati lehernya. Tangan kiri Gia juga meremas pantat Risa.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Mereka berdua sama-sama mendesah.&lt;br /&gt;Risa kemudian menyodorkan payudara kanannya yang kecil ke mulut Gia yang mau saja menghisapnya.&lt;br /&gt;“Oooughh..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Tetapi hanya sebentar. Gia menuntun Risa untuk membungkuk dengan kedua tangan berpegangan pada dinding kamar mandi. Digesek-gesekannya kedua payudaranya ke punggung Risa.&lt;br /&gt;“Ooouhh..” Desah Gia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua kemudian sadar bahwa mereka akan bekerja. Sehingga akhirnya mereka menyudahi permainannya. Mereka berdua kemudian mandi sambil sesekali masih saling membelai tubuh mereka. Terutama Risa yang sering membelai kedua payudara Gia bergantian. Dia terpesona dengan kedua payudara Gia yang besar.&lt;br /&gt;Sore harinya ketika pulang dari bekerja. Permainan mereka berdua berlanjut kembali.&lt;br /&gt;“Mbak. Minta oilnya dong.” Kata Risa.&lt;br /&gt;“Sini.” Kata Gia sambil menarik Risa ke kamarnya.&lt;br /&gt;“Buka semua pakaianmu.” Lanjut Gia.&lt;br /&gt;Risa hanya menurut saja. Dia membuka semua pakaiannya. Ternyata Gia juga membuka semua pakaiannya. Kecuali celana dalam. Gia lalu mengambil sebuah botol dari lemarinya. Botol yang bertuliskan Breast Oil. Kemudian dihampirinya Risa yang sedang melepas miniset yang dipakainya. Dia tinggal memakai celana dalam. Gia kemudian memegang payudara kanan Risa dan menuangkan isi botol ke payudara kanan Risa setelah membuka tutupnya. Tangan kirinya kemudian meremas-remas payudara kanan Risa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooohh..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Kemudian remasan tangan kirinya berpindah ke payudara kiri Risa.&lt;br /&gt;“Ooohh..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Dia lalu membalikkan tubuh Risa dan menuangkan isi botol ke punggungg Risa. Diletakkannya botol itu ke meja dan dengan kedua tangannya diratakannya cairan itu ke seluruh tubuh Risa bagian atas.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Lalu dibalikkan kembali tubuh Risa sambil tangan kanannya mengambil botol di meja. Diserahkannya botol itu ke Risa.&lt;br /&gt;“Gantian ya.” Kata Gia.&lt;br /&gt;Risa hanya mengangguk sambil menerima botol itu dari tangan Gia. Dia kemudian menuangkan isi botol ke kedua payudara Gia sekaligus dalam jumlah besar. Kemudian dilemparkannya botol itu ke tempat tidur setelah ditutup. Kedua tangannya kemudian meratakan cairan itu ke seluruh tubuh Gia bagian atas terutama ke kedua payudara Gia.&lt;br /&gt;“Eeehmm..oohh..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup, Gia lalu memeluk Risa dan menggesek-gesekkan kedua payudaranya ke kedua payudara Risa selama beberapa menit.&lt;br /&gt;“Ooouhh..”&lt;br /&gt;Lalu mereka berdua melepaskan pelukan dan saling meremas kedua payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooohh..”&lt;br /&gt;Gia menghentikan remasannya pada kedua payudara Risa. Dia keluar kamar dan mengambil dua botol air mineral dari kulkas. Dia masuk kembali ke kamar dan dilihatnya Risa masih meremas sendiri kedua payudaranya.&lt;br /&gt;“Ooohh..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Di depan Risa, Gia membuka salah satu botol dan dengan menari-nari dia mengucurkan sedikit demi sedikit air itu ke kedua payudaranya. Gia membersihkan cairan dengan air mineral itu.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Gia.&lt;br /&gt;Risa tertarik dan mengambil botol satunya dari tangan Gia. Dengan berhadap-hadapan Risa juga membersihkan cairan pada kedua payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;“Eeehmm..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Gia melihat sebuah kesempatan. Tangan kirinya meremas dan menjilati payudara kanan Risa yang bertambah besar dari biasanya meskipun tidak sebesar dari yang dia punya.&lt;br /&gt;“Ooohh..eehmm..” Desah Risa.&lt;br /&gt;Dibalikkannya tubuh Risa dan dari belakang tangan kirinya meremas kedua payudara Risa bergantian.&lt;br /&gt;“Ooohh..” Desah Risa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tangan kanannya masih mengucurkan air dari botol. Tangan kanan Risa juga mengucurkan air ke kedua payudaranya. Tubuh mereka berdua basah dan Risa membalikkan tubuhnya. Dipeluknya Gia. Kedua payudara mereka yang berbeda ukuran menempel dan saling menggesek.&lt;br /&gt;“Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.&lt;br /&gt;Hampir tiap hari Gia meremas kedua payudara Risa dengan Breast Oil yang berlanjut dengan percumbuan yang sangat panas.. Sampai akhirnya kedua payudara Risa sama besarnya dengan kedua payudaranya bertepatan dengan berakhirnya masa kerja praktek Risa di tempat Gia bekerja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-8313271821681207827?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/8313271821681207827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=8313271821681207827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8313271821681207827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8313271821681207827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/yang-besar-dan-yang-kecil.html' title='Yang Besar dan Yang Kecil'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-8050210280464157657</id><published>2009-02-25T06:13:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T06:13:51.584-08:00</updated><title type='text'>Tukar istri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Tukar istri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyono (samaran) adalah sahabat lamaku sejak aku SMA. Kini setelah kami sudah mempunyai anak remaja (umurku 46 tahun) dia masih sahabatku, bahkan istrinya yang bernama Atik (samaran) dan istriku sangat akrab, dan kami rutin selalu ketemu kalau tidak dirumahnya, ya dirumahku.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika aku dan Triyono pergi mancing ketengah laut dengan sewa perahu, tak jarang istriku menginap dirumah menemani istrinya atau sebaliknya (karena anak kami sudah remaja dan mereka kuliah dikota lain).&lt;br /&gt;Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami melakukan yang menurut pandangan orang ketiga adalah hal yang aneh, misalnya ditengah gurauan, kadang kadang Triyono memeluk istriku dan menciumi pipinya berkali kali, didepanku maupun didepan istrinya. Demikian pula sebaliknya ketika kami bercengkarama berempat kadang kadang Atik dengan manja tiduran berbantal pahaku. Tentunya sikap kami ini tidak didepan anak anak yang sudah berangkat remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pernah didapur rumahku aku memergoki Triyono mencolek pantat istriku, dan kulihat istriku pura pura marah, aku tahu itu dari raut wajahnya, tentu saja sebagai lelaki normal kadang aku dilanda cemburu. Tetapi kami selalu lebih memegang persahabatan, apalagi akupun sering melakukan hal yang sama terhadap istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja keadaan ini tidak terjadi begitu saja, kami menjalin hubungan kekeluargaan sejak kami menikah. Namun sejauh itu kami tidak pernah melakukan hal hal yang terlalu jauh. Sampai suatu hari terjadilah apa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, setidak tidaknya olehku. Tapi aku yakin ini adalah rencana Triyono dan istrinya yang sudah dipersiapkan (ini kusadari setelah cukup lama peristiwa itu terjadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sering kami lakukan, pada hari jumat yang kebetulan hari libur kami berempat ber week end di Villaku didaerah Ciloto. Walaupun tidak terlalu mewah namun villaku ini cukup luas dan cukup nyaman untuk beristirahat di akhir pekan. Kami selalu rutin mengunjunginya paling tidak sebulan sekali, biasanya hanya aku dan istriku, kadang kadang anak anak ikut, atau famili lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku mengajak Triyono dan istrinya, tidak ada yang istimewa kami hanya ingin menikmati liburan dan seperti biasanya selesai makan siang dijalan, istriku mampir untuk beli pepes ikan Mas kesukaanku. Sampai di villa sekitar jam jam 2 siang, aku tidur pulas, sampai akhirnya dibangunkan istriku untuk makan malam. Kami makan malam berempat dengan nasi hangat dan pepes ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan malam kami menonton TV sambil ngobrol kesana kemari diruang keluarga. Setelah bosan ngobrol, Triyono mengambil inisiatif mengambil kasur dikamarnya dan dihamparkan didepan TV dia dan istrinya menonton TV sambil tiduran, dan akupun berbuat hal yang sama. Atiek masuk kamarnya dan mengganti dasternya dengan baju tidur yang amat tipis tanpa BH dan CD, ini terlihat jelas dari bayangan tubuhnya dibalik gaun tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dia sangat atraktif mempertontonkan tubuhnya didepanku dan didepan istriku. Kulihat Triyono acuh saja melihat tingkah istrinya. Kamipun menonton TV sambil tiduran, istriku dan Atiek tidur berdampingan ditengah sedangkan aku berada disamping istriku dipinggir. Acara TV terasa membosankan mungkin karena aku tidak bisa konsentrasi, aku lebih terpesona menikmati tubuh yang menggairahkan yang tergolek disamping istriku dan itu membuat adik kecilku dibalik sarung setengah ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pah.., puterin film yang hot.. dong.., aku kedinginan nih..” Atiek menyuruh suaminya memutar film porno.&lt;br /&gt;Aku tahu mereka sering muter film porno karena kami sering tukar menukar film, tapi selama ini kami belum pernah nonton bersama sama.&lt;br /&gt;Sebelum beranjak mengambil film, Triyono basa basi minta ijin istriku “Rin..muter film blue ya..”&lt;br /&gt;“Terserah aja ” jawab istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filmnya cukup bagus dengan latar belakang jaman kekaisaran romawi, adegan sexnya tidak vulgar, dan ini membuat gairahku cepat bangkit. Sarungku sudah terdongkrak keatas sementara kulihat Atiek sering mencuri padang kearah sarungku yang memang sengaja tidak kusembunyikan. Sementara itu istriku sudah memindahkan kepalanya diatas lenganku dan jari tangannya meremas remas jari tanganku. Aku sudah hapal sekali, istriku pasti sudah terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyono menonton film itu dengan memeluk istrinya secara ketat dan tangannya mengusap usap payudara Atiek dari luar baju tidurnya, sesekali diciumnya bibir istrinya dalam dalam. Sementara itu kaki kanan Atiek ditekuk dan pahanya menindih paha istriku, sehingga tak terhindarkan baju tidurnya yang memang pendek makin tersingkap sehingga akupun makin leluasa melahap pahanya yang putih mulus, dan sebagian rambut dipangkal pahanya dengan sudut mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Rin,.. Aku jadi pengen nih..” Atiek bicara kepada istriku.&lt;br /&gt;“Ya nggak apa apa, wong Mas nya nyanding koq.” Istriku menyahut sambil senyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin terangsang, kumiringkan tubuhku menghadap istriku sehingga aku bisa melihat paha mulus Atiek, dan kuselusupkan tanganku dibalik blouse istriku yang tidak ber BH untuk meremas remas buah dadanya, sementara tangannya sudah masuk kesarungku untuk mengelus elus penisku yang sudah berdiri keras. Ia menutup tanganku dengan bantal sehingga gerilya yang kulakukan tidak terlihat oleh Triyono dan Atiek. Walaupun itu sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena mereka sudah tidak memperhatikan kami lagi, keduanya sudah mulai tenggelam dalam percintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Atiek melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti pakaian suaminya, Triyono menggeser posisinya merapat keistriku, sedangkan Atiek menindihkan tubuhnya yang bugil dari sebelah kanan, sehingga Triyono berdampingan dengan istriku.&lt;br /&gt;Mereka berciuman sambil saling saling mengelus penuh nafsu, kulihat istriku sering melirik mereka dengan gairah, ikut terhanyut dengan adegan panas persis satu jengkal disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba Atiek menghentikan pergulatan dengan suaminya dan tangannya meraih blouse depan istriku dan melepas kancingnya.&lt;br /&gt;“Biar adil dong Mbak..” sambil tangannya terus melolosi seluruh pakaian istriku.&lt;br /&gt;Walaupun wajah istriku protes, tapi usaha mencegah tangan Atiek yang nakal, tidak serius sehingga dengan mudah Atiek melucuti pakaian istriku. Sekelebat kulihat mata Triyono melahap seluruh tubuh indah istriku, bahkan ia segera mengeser posisinya merapat ketubuh istriku, sehingga lengannya menempel pada pinggir payudara istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku mendominasi pikiranku, kucopot seluruh pakaianku sehingga kami berempat sudah bugil, kuciumi istriku, sambil jariku mengelus vaginanya yang sudah basah. Istriku mendesis desis keenakan tangan kanannya mendekap punggungku erat erat, sedangkan tangan kirinya tertindih tangan Triyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan elusan lembut sebuah tangan halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian mengarah keselangkangan dan mengelus buah zakarku. Aku sudah menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Atiek lah yang sedang mengelus batang penisku, sambil mulutnya menciumi dada suaminya. Aku yakin Triyono melihat tangan istrinya yang sedang beroperasi di batangku yang keras seperti kayu, tapi dia tampak acuh saja, bahkan kini lengan kanannya telah mendidih susu istriku.&lt;br /&gt;Istriku tidak menyadari atau pura pura tidak tahu bahwa tangan Triyono sudah menindih payudaranya, dan wajahnya dipalingkan kearah yang berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atiek sambil berubah posisi dengan setengah duduk dipaha suaminya dengan selangkangan yang terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya menggosokan gosokkan kemaluan suaminya ke klitorisnya, sementara buahdadanya menggantung diremas remas suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisinya tersebut membuat tubuh Triyono merenggang dari tubuh istriku sehingga tangan kiri istriku yang tertidih menjadi bebas. Dari padangan matanya yang sayu dan pahanya sudah direntangkan, aku tahu baha istriku sudah memberi lampu hijau. Dituntunnya penisku kearah lubang vaginanya, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang menikmati jepitan lobang kemaluan istriku. Sementara aku mengocoknya perlahan lahan, istriku mendesis desis keenakan, kini wajah istriku menghadap kearah Triyono bahkan hanya berjarak sejengkal dengan wajah Triyono namun matanya terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atiek sudah terlengkup ditubuh suaminya, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batang suaminya yang sudah melesak ditelan liang kenikmatannya. Sekali kali tangannya meremas bokongku dan istriku melihat aktifitas tangan Atiek ini, tapi rupanya diapun tak ambil peduli. bahkan beberapa kali Triyono mencium mulut istriku yang tengah mendesis, istriku diam saja, walaupun tidak meresponnya. Entah kenapa aku tidak cemburu melihat istriku diciumi oleh Triyono saat sedang kusetubuhi, bahkan aku makin terangsang. Karena kulihat ciuman itu membuat istriku makin bergolak gairahnya. Ini kurasakan dari gerakan dan nafasnya mendengus tidak seperti adat biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan istriku tak terkendali, bahkan ia membalas menyedot ciuman Triyono, dan pada saat itulah istriku menghentak hentakkan pinggulnya keatas, mulutnya menghisap mulut Triyono dalam dalam sambil merintih. Dia telah orgasme. Ini diluar kebiasaan, istriku biasanya cukup tahan lama, tapi kali ini dia cepat selesai, padahal aku merasa masih tahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhentikan kocokanku, kucabut penisku, aku masih tanggung tetapi aku memang tidak ingin selesai sekarang, aku masih berharap istriku bangkit lagi setelah istirahat. Kutatap wajah istriku yang penuh kepuasan. Disampingnya kulihat Triyono menggengam tangan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku tegeletak disamping istriku, dengan kemaluan yang masih tegar, Atiek segera tahu bahwa aku belum ejakulasi. Tiba tiba Atiek menghentikan goyangan pinggul, dicopotnya penis suaminya dari vaginanya. Dengan melangkahi tubuh istriku, Atiek segera menghampiriku, kemudian dengan dasternya yang diambil dari sisi kasur dibersihkannya penisku yang penuh lendir istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menindihku dan menciumku. Aku sempat kaget, aku tak menduga kejadian itu, kulirik Triyono tetapi dia hanya melihat tingkah istrinya tanpa reaksi. Istriku juga hanya melirikku sebentar kemudian memejamkan mata kembali, menikmati sisa orgasme yang ia dapat dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubalas ciuman Atiek dengan nafsu, tangan kiriku mengelus bokongnya sedangkan tangan kanan meremas buah dadanya. Atiek menjulurkan lidahnya menyambut lidahku, sementara vaginanya yang basah digesek gesekan ke diatas kemaluanku. Tampak Atiek sudah sangat terangsang, sehingga ciuman kami hanya berlangsung sebentar, segera dia menghentikan ciumannya, ditariknya badannya sehingga sekarang posisinya duduk diatas pahaku, sementara belahan kemaluannya menidih pada batang penisku yang rebah diatas perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat belahan kemaluannya yang merah penuh lendir, aku sudah tidak sabar lagi, kuangkat pinggangnya dengan kedua tanganku, Atiek cepat tanggap, sambil mengangkat pantatnya, diambilnya penisku dan diarahkan kelobang vaginanya. Dalam hitungan detik, kemaluanku sudah menyelusup kedalam vagina Atiek. Atiek melenguh pelan, badannya ambruk kedadaku dan wajahnya menempel disamping kepalaku sambil mendesis desis. Kuangkat pinggulku berusaha mengocok kemaluan Atiek, dan diapun mengikuti gerakanku tetapi pinggulnya digoyang memutar sedangkan otot vaginanya menjepit kemaluanku, jepitan dan putaran pinggulnya tidak akalh dengan istriku, kenikmatan menjalar keseluruh penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit telah berlalu dan kurasakan Atiek mulai mempercepat goyangannya, mulutnya menciumku dan lidahnya menerobos masuk ke mulutku. Nafasnya tersengal, aku segera mengerti bahwa sedang mulai masuk kemasa orgasme. Tanpa menunggu waktu lagi kupercepat kocokanku, karena kemaluankupun sudah berdenyut denyut enak, dan segera akan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kurengkuh bokongnya, Atiek merengkuh pundakku makin kencang, dari mulutnya keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia sedang orgasme. Dan segera kulepas pula air maniku menyemprot didalam vaginanya. Kenikmatan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun permainanku sudah berakhir tetapi Atiek tidak mau mencopot kemaluanku dari vaginanya, dia hanya mengeser tubuhnya dari dadaku untuk meringakan tindihan tubuhnya diatas tubuhku. Kesadaranku mulai pulih, kulihat istriku sedang bergumul dengan Triyono. Dengan tubuh yang bugil dia menindih tubuh istriku, mereka berciuman dengan pelan dan dalam, tangan meremas remas buah dada istriku yang tergolong besar dan montok, sementara tangan istriku mengelus bokong Triyono, dan kudengar desahan halus dari mulutnya itu pertanda istriku sudah mulai terangsang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat istriku terangsang, tiba tiba akupun terangsang kembali. Aku sangat senang istriku menikmati sexnya, Kuhadapkan tubuhku kearah istriku, dan Atiek segera merangkul pinggangku dengan kakinya dari belakang, sambil menikmati sisa orgasme yang kuberikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyono sedikit mengeser tubuhnya dan tangan yang tadinya meremas tetek istriku turus kebawah, kearah kemaluan istriku, dan istriku mengangkat pinggulnya ketika jari tengan Triyono memutar mutar clitorisnya. Desahan dari mulutnya makin keras.. Triyono mengangkat tubuhnya dan dibukanya lebar lebar paha istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku menoleh kearahku, matanya sayu memandangku seolah minta ijin padaku. Kupandangi dia, dia sangat cantik tak kuasa aku menghalanginya. Kukecup bibirnya kuusap rambutnya tanda bahwa aku menyetujuinya. Dan ketika penis priyono melesak kedalam vaginanya, istriku memejamkan mata keenakan, dan tangannya mengelus elus penisku seirama dengan kocokan yang diberikan Triyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuciumi bibirnya, pipinya lehernya, atau mana saja yang kudapat karena istriku dalam kenikmatan, selalu kepalanya tidak bisa diam, menoleh kekiri kekanan sambil menjilat jilat bibirnya sendiri. Sementara tangan kanannya mengocok penisku tangan kirinya merangkul pundak Triyono. Tangankupun tak henti hentinya meremas remas buah dadanya. Kudengar pula desisan Triyono menambah suasana jadi makin mengairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba istriku berhenti menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut dan giginya menggigit bibr bawahnya, dia menoleh kearahku, istriku akan selesai dan sebentar lagi pasti akan melenguh panjang.&lt;br /&gt;“Pah.. aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. eghh.. eegghh”&lt;br /&gt;pada saat itu dia mendongakkan wajahnya keatas, matanya menatap mata Triyono dengan sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, aku tak tahan menahan ejakulasi, digenggaman tangannya. Kulihat Triyono menekan kemaluannya dalam dalam kevagina istriku untuk berejakulasi.. Ketika dia mencabut kemaluanya, kulihat sisa air mani meleleh keluar dari bibir vagina istriku, yang berwarna kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini adalah malam pertama dimana istriku merasakan penis orang lain selain punyaku apalagi dia merasakannya sekaligus dalam selang beberapa menit, sebuah pengalaman yang sangat memuaskan kami berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu kami sering melakukannya, sedikitnya sebulan sekali, dan kami berkomitmen ini hanya dilakukan berempat, Bahkan kini muncul ide baru dari Atiek untuk menambah menjadi tiga pasangan. Hanya saat ini kami belum menemukan pasangan yang bisa diajak main. Pengalaman ini ditulis juga atas persetujuan kami semua.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-8050210280464157657?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/8050210280464157657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=8050210280464157657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8050210280464157657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8050210280464157657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/tukar-istri.html' title='Tukar istri'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-2676752966945912121</id><published>2009-02-25T05:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T05:14:15.492-08:00</updated><title type='text'>Chika Si Gadis Perawan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Chika Si Gadis Perawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nama gw Wira , gw kuliah di salah satu university negri di Jakarta... gw punya temen kuliah di bagian Design di jakarta juga... namanya Chika ( bukan chika yang dari bandung lo ), umurnya 21 tahun, ukuran bra nya 33 B, perawakan tinggi 173cm, beratnya gw kurang tau pokoknya langsing, padat dan aduh hai montoknya! Cerita ini berawal sewaktu gw maen ke apartementnya... kebetulan chika anak orang kaya, ortunya punya apartment di malaysia... minggu pertama kita sering kali bertemu di mall, ato bioskop... kadang hanya sedikit nyerempet ngebahas ttg masalah cowoknya nah, suatu hari kita nonton midnight nich... ( santai bos, blum ada adengan dewasa 17tahun )... nonton nya ga seberapa seru, soalnya nonton 007 Quantum of Solace, awal nonton duduk masih biasa, tapi dah 1 jam lebih mulai dech duduknya menempel! kebetulan dudukan tangan pada kursi bisa diangkat, jadi mayan deh... kekekek... ga lama kemudian, chika minta di peluk, karena dingin nya AC di bioskop itu! yah gw pikir, kesempatan deh dalam kesempitan... tapi masih polos, gw pikir, yah namanya orang kedinginan butuh kehangatan... gw peluk deh... gw usap-usap tangannya ampe yang ada malah ade gw minta... celana dah sempit, kebetulan siska cuma pake hot pants, t-shirt ketat warna putih dan agak transparan!hihihi..jadi ngaceng lagi nyeritain kisah seks ini!&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;setelah ampir 30 menit usap sana - sini, mulai deh, gw bilang: Chika, duduknya nyandar ke badan gw ajah, biar lebih angetsiska tanpa pikir panjang ato nolak, langsung duduk nyandar ke badan gw... rasanya nikmat bro... pas nonton, tiba-tiba Chika bunyi... uch....!!! gw tanya ada apa...? chika bilang: kok ada yang ngeganjel yah di pinggang belakang sayang, gw cuma minta maap, n bilang kalo paha gw gatel, jadi ga sengaja kecolok!hihihihihi... ( padahal Mr P gw udah ga tahan nich ) kejadian di bioskop cuma rangkul, peluk dan usap belaka kok... tapi karena hal itu, chika jadi beda ma gw... dari bioskop kita pulang jam 1.25 subuh... jalan ke rumahnya, kira-kira 25menitan!di deket rumahnya ( apartment ), ada hotel mesum aka hotel Short time, gw isenk nanya ma chika... gw boleh ga ikut tidur di rumah loe ka? klo ga gw belok sini deh, chika cuma bilang : cuma nginep yah wir, ga ngapain kan....?, ane cuma jawab: oke deh, nginep doank,ga ngapai ngapain kok saying!. Horaiiii… akhirnya ada tanda2 bagus nich, bisa nginep!hehehehe…. Apartementnya lantai 22, ada 1 ruang tidur, 1 dapur, 2 kamar mandi, dan 1 ruang tamu! pas sampai di sana, chika bilang: wir, gw bikin tugas akhir dulu yah, klo mo bobok, bobok ajah dulu... gw cuma bilang: okey sayang, tapi pengen di cium bobo dulu donk cinta... ( pura-pura manja!kekeke… )... trus si chika bilang apaan sich, kayak anak kecil ajah, nanti kalau dah bobok, di cium di mimpi, katanya!hi mod : pasrah. ya udah gw tidur-tiduran di sofa, sebelah chika... chika ngerjain tugasnya  sampe jam 2.30 subuh... pas chika, mo matiin lampu, ehhh gw terbangun n pas lampu mati, gw langsung dia peluk dari belakang, dan gw cium bibirnya yg begitu mengoda.... chika ga bicara ato nolak sama sekali perlakuan gw, awalnya chika cuma diem dan kaget... tapi lama-lama permainan lidah pun terjadi!hihihi.... sesekali, chika mendesah... uhhhh... soalnya tangan gw juga pengen ikut ambil bagian di perut dan dadanya!pergulatan lidah terjadi sekitar 10menitan, dan chika bilang udah yah sayang... gw cuma bilang, tar lagi cinta... udah ga tahan nich... trus gw buka bajunya sedikit, dan chika buka semuanya!asoiiiiiii…..akhirnya lampu hijau sudah terbuka! dan gw makin puas maenin toketnya yang montok dan aduhai... niples nya aduhai, sambil dibuka, ane plintir-plintir, ane usap-usap, ane cium-cium ampe ane kulum-kulum tuch putingnya yg bewarna pink! tiap gw maenin putingnya, chika suka, uhhhh.... ahhhh.... ahhhhh.... lagi yang cepet.... ga sadar, kami pun dah di sofa tempat ane tiduran... posisi kami, dah kayak orang pacaran... chika tanpa busana, hanya g-string  warna hitam! permainan lidah yang berulang dan permainan puting yang berkali-kali membuat gw ga tahan, dan meraba-raba bagian paha chika!chika cuma bilang: harus sopan yah...!!? , gw cuma senyum dan masuk deh tangan gw ke dalam g-string  nya yang wow bikin kontol gw ngaceng ... gw usap2 dan raba dan sedikit tekan lubang memeknya... sesekali chika merintih, ohhhhhh...... mendengar itu smua, ngebuat gw makin semangat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ane buka seluruh CD g-string  nya dan gw jilatin tu memek ampe si chika merintih, wirr ga tahan...... ooohhhhh.... oooh........ gw juga ga tahan, akhirnya gw buka celana panjang dan boker gw, dan chika jilatin deh kontol gw juga, dah kayak posisi 69 deh maknyus banget.... akhirnya kontol udah kepingin langsung masuk tu ke memeknya si chika bugil!trus gw arahin ke mulutnya... pas kontol gw ada di mulutnya ganti posisi, ane tiduran dan chika merangkak, mengulum kemaluan gw... akhirnya sekitar 8 menit di kulum, ane muncrat deh di mulutnya... chika cuma bilang: kok asin sich, tapi enak... mau lagi donk sayang ane cuma bilang dalam hati, wah gawat, musti cepet recovery nich... ambil gw recovery, gw n chika istirahat bentar, ambil minum dan usap-usap doank tu kulit mulusnya... trus chika cerita, dulu tiap kali jadian, mantan-mantannya selalu minta ML alias ngentot ma dia, tapi chika tolak dan putusin, tapi skarang chika malah lakuin sama gw! nah, gw cuma bilang, hihihi… chika cuma ketawa dan senyum... akhirnya.....chika buka tuh pahanya.... arahin kontol gw ke lubang merah muda memeknya... trus gw  bilang: masih perawan kan sayang? , chika jawab masih, jadi jangan crot di dalem yah sayang, di mulut lagi ajah, takut hamil... tuturnya dengan kepolosannya, dan kebetulan gw ga suka ngentot pake kondom... jadi gw masukin pelan-pelan tuch senjata andalan gw...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedikit demi sedikit rintihan dari mulut imoet chika keluar, dan mulai mengeras... matanya terbelalak dan giginya menggigit bibir bagian bawahnya, ane tanya: sakit ya sayang? klo sakit bilang yah!, chika cuma senyum..... akhirnya setelah ampir 4 menit ane pelan-pelan ane dah masuk 1/5 dan coblos deh dinding nya... pas chika di coblos, ada sedikit rintihan dan teriakan... uhhhhhhh sakiiiiit..... opsttttttttt..... ahhhhhhhhhhh......... pas dah di dalam, ane diem sejenak, terasa tiap dinding memompa kontol gw... rasanya enak dan nikmat bener bener maknyus ni ngentot si chika perawan, akhirnya ane posisi tiduran dan chika duduk di atas ane... dan mulai deh... one, two, three.... mainkan.... chika main kuda-kudaan  di atas gw, dan mulai dari bunyi-bunyi aneh.... aaaaaaaahhhhh..... ooooohhhhh..... aaaaahhhhhh..... dan ga lama kemudian, basah deh.... ternyata chika masturbasi duluan.... trus gw telentangin tu si chika, dan ane genjot terus sampe toketnya ngenceng dan nafasnya engos engosan... gw cium dan akhirnya ane semprotkan tu sperma gw di dalem memeknya!&lt;br /&gt;chika, cuma nangis dan senyum, soalnya baru pertama kali ML dan keperawanan nya gw embat!chika dan ane tertidur ampe jam 9 pagi! dan pagi-pagi ane mandiin tu si chika... mandi berdua juga... trus ane buka in situs www.ceritaindonesia.info.. gw bilang sama chika, ada cerita horor, seru mau baca ga...? (kebetulan chika seneng film horor ), chika bilang mau donk sayang ( padahal ane bukain ttg cerita ngentot dewasa 17 tahun! Trus gw  bilang, baca dulu ya  ntar kasi comment!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus pas chika baca, matanya bingung dan pas ane lagi sarapan, chika kok kayak merem - melek sendiri!hihihihi….. trus sesekali bunyi ahhh... ternyata oh ternyata, chika terangsang, tangan nya masuk ke dalam CD dan usap2 sendiri tu mekinya setelah sarapan ane tanya ma chika, mau ngentot lagi saying? chika cuma senyum dan bilang, coba lagi yah kayak di cerita dewasa 17 tahun... kayaknya asik... dan akhirnya chika mulai terangsang deh... dan ane maenin tiap game dengan memberi bacaan seru dari ceritaindonesia.info! cerita sex ini sampai sekarang masih terus terjadi setiap hari! Chika ohh chika sunguh indahnya dunia ini setelah ngentot denganmu dan untuk pertama kalinya ngedapatin gadis perawan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-2676752966945912121?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/2676752966945912121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=2676752966945912121' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2676752966945912121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2676752966945912121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/chika-si-gadis-perawan.html' title='Chika Si Gadis Perawan'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-8460954138618283323</id><published>2009-02-25T05:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T05:14:57.126-08:00</updated><title type='text'>Adik Kandung Gw Garap Juga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Adik Kandung Gw Garap Juga,,,,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nama Gw Serlina namun teman teman mangil gw erlin, gw mahasiswi ekonomi Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun yang lalu, saat diterima kuliah di Universitas Pajajaran, Gw tinggal di Bandung. Gw berasal dari Sukabumi, ayah gw berasal dari Bandung, sedangkan ibu gw asli Sukabumi. Mereka tinggal di Sukabumi. Cerita Sex Sedarah ini menceritakan kisahku yang terjadi saat Gw kelas 1 SMU di waktu Gw masih tingal di Sukabumi dan cerita dewasa ini masih terus berlanjut sampai detik ini!gw terus kecanduan ngentot ama adik kandung gw sendiri&lt;br /&gt;Gw anak yang paling tua dari tiga bersaudara. Gw mempunyai satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Umurku berbeda 1 tahun dengan adik lelakiku namu adik perempuanku beda lagi 10 tahun. Kami sangat dimanja oleh orang tua kami, sehingga tingkahku yang tomboy dan suka maksa pun tidak dilarang oleh mereka. Begitupun dengan adikku yang tidak mau disunat walaupun dia sudah kelas 2 SMP.&lt;br /&gt;Waktu kecil, Gw sering mandi bersama bersama adik gw, tetapi sejak dia masuk Sekolah Dasar, kami tidak pernah mandi bersama lagi. Walaupun begitu, Gw masih ingat betapa kecil dan keriputnya penis adik gw. Sejak saat itu, Gw tidak pernah melihat lagi penis adik gw. Sampai suatu hari, Gw sedang asyik telpon dengan teman cewekku. Gw telpon berjam-jam, kadang tawa keluar dari mulutku, kadang kami serius bicara tentang sesuatu, sampai akhirnya Gw rasakan kandung kemihku penuh sekali dan Gw kebelet pengen pipis. Benar-benar kebelet pipis  sudah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan gagang telpon tanpa permisi dulu sama temanku. Gw berlari menuju ke toilet terdekat. Ketika kudorong ternyata sedang dikunci.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"hallow..! Siapa di dalam buka dong..! Udah nggak tahan..!" Gw berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi&lt;br /&gt;"Iyaaaaaaa..! Wait..!" ternyata adikku yang di dalam. Terdengar suaranya dari dalam.&lt;br /&gt;"Nggak bisa nunggu..! Cepetan..!" kata Gw memaksa.&lt;br /&gt;aduhhhhhhhh….. Gw benar-benar sudah tidak kuat menahan ingin pipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kreottttttt..!" terbuka sedikit pintu toilet, kepala adikku muncul dari celahnya.&lt;br /&gt;"Ada apa sih kak?" katanya.&lt;br /&gt;Tanpa menjawab pertanyaannya, Gw langsung nyerobot ke dalam karena sudah tidak tahan. Langsung Gw jongkok, menaikkan rokku dan membuka celana dalamku.&lt;br /&gt;"criitttttt" keluar air seni dari vagina Gw.&lt;br /&gt;Kulihat adikku yang berdiri di depanku, badannya masih telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yeahhhhh..! Sopan dikit napa kak?" teriaknya sambil melotot tetap berdiri di depanku.&lt;br /&gt;"Waitttt..! Udah nggak kuat nih," kata Gw.&lt;br /&gt;Sebenarnya Gw tidak mau menurunkan pandangan mata Gw ke bawah. Tetapi sialnya, turun juga dan akhirnya kelihatan deh burungnya si adik gw.&lt;br /&gt;"hahahahah.. Masih keriput kayak dulu, cuma sekarang agak gede dikit kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Gw takut tertangkap basah melihat kontolnya, cepat-cepat kunaikkan lagi mata Gw melihat ke matanya. Eh, ternyata dia sudah tidak melihat ke mata Gw lagi. Sialan..! Dia lihat vagina Gw yang lagi mekar sedang pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vagina Gw biar cepat selesai pipisnya. Tidak sengaja, kelihatan lagi burungnya yang masih belum disunat itu. Sekarang penisnya kok pelan-pelan semakin gemuk. Makin naik sedikit demi sedikit, tapi masih kelihatan lemas dengan kulupnya masih menutupi helm penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sialan nih adikku. Malah ngeliatin lagi, mana belum habis nih air kencing..!" Gw bersungut dalam hati.&lt;br /&gt;"o0oooo.. Kayak gitu ya Kak..?" katanya sambil tetap melihat ke vagina Gw.&lt;br /&gt;"Eh kurang ajar Lu ya dik!" langsung saja Gw berdiri mengambil gayung dan kulemparkan ke kepalanya.&lt;br /&gt;"Kletokkkk..!" kepala adikku memang kena pukul, tetapi hasilnya air kencingku kemana-mana, mengenai rok dan celana dalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya... basah deh rok kakak..." katGw melihat ke rok dan celana dalamku.&lt;br /&gt;"Syukurin..! Makanya jangan masuk seenaknya..!" katanya sambil mengambil gayung dari tanganku.&lt;br /&gt;"Mandi lagi ahh..!" lanjutnya sambil menyiduk air dan menyiram badannya.&lt;br /&gt;Terus dia mengambil sabun dan mengusap sabun itu ke badannya.&lt;br /&gt;"Waduh.., sialan nih adik gw!" sungutku dalam hati.&lt;br /&gt;Waktu itu Gw bingung mau gimana nih. Mau keluar, tapi Gw jijik pake rok dan celana dalam yang basah itu. Akhirnya kuputuskan untuk buka celana dalam dan rokku, lalu pinjam handuk adikku dulu. Setelah salin, baru kukembalikan handuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah.., pake aja handuk Gw kak!" kata adikku.&lt;br /&gt;Sepertinya dia mengetahui kebingunganku. Kelihatan kontolnya mengkerut lagi.&lt;br /&gt;"Jadi lucu lagi gitu..! Hihihi..!" dalam hatiku.&lt;br /&gt;Gw lalu membuka celana dalam gw yang warnanya merah muda, lalu dilanjutkan dengan membuka rok. Kelihatan lagi deh memek Gw. Gw takut adikku melihatku dalam keadan seperti itu. Jadi kulihat adik gw. Eh sialan, dia memang memperhatikan Gw yang tanpa celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kakak Memek tu emang gemuk kayak gitu ya..? kakakaka..!" katanya sambil nyengir.&lt;br /&gt;Sialan, dia menghina vagina Gw, "Daripada culun kayak punya lhoo..!" kata Gw sambil memukul bahu adik gw.&lt;br /&gt;Eh tiba-tiba dia berkelit, "wakzzzzzz..!" katanya.&lt;br /&gt;Karena Gw memukul dengan sekuat tenaga, akhirnya Gw terpeleset. Punggungku jatuh ke tubuhnya. Kena deh pantatku ke penisnya.&lt;br /&gt;"Iiihhh.., rasanya geli banget..!" cepat-cepat kutarik tubuhku sambil bersungut, "Huh..! kakak sih..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kak.. kata Kakak tadi culun, kalau kayak gini culun nggak..?" katanya mengacuhkan omonganku sambil menunjuk ke penisnya.&lt;br /&gt;Kulihat penisnya mulai lagi seperti tadi, pelan-pelan semakin gemuk, makin tegak ke arah depan.&lt;br /&gt;"Ya.. gitu doang..! Masih kayak anak SD ya..?" kata Gw mengejek dia.&lt;br /&gt;Padahal Gw kaget juga, ukurannya bisa bertambah begitu jauh. Ingin juga sih tahu sampai dimana bertambahnya. Iseng Gw tanya, "Gedein lagi bisa nggak..?" kata Gw sambil mencibir.&lt;br /&gt;"Bisa..! Tapi kakak harus bantu dikit dong..!" katanya lagi.&lt;br /&gt;"Megangin ya..? Wisssss.., ya nggak mau lah..!" kataku.&lt;br /&gt;"Bukan..! kakak taruh ludah aja di atas kontolku..!" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran ingin melihat penis cowok kalau lagi penuh, kucoba ikuti perkataan dia.&lt;br /&gt;"Gitu doang kan..? Mau kakak ngeludahin Kamu mah. Dari dulu Kakak pengen ngeludahin Kamu” ujarku&lt;br /&gt;Sialan nih adikku, Gw dikerjain. Kudekatkan kepal Gw ke arah penisnya, lalu Gw mengumpulkan air ludahku. Tapi belum juga Gw membuang ludahku, kulihat penisnya sudah bergerak, kelihatan penisnya naik sedikit demi sedikit. Diameternya makin lama semakin gede, jadi kelihatan semakin gemuk. Dan panjangnya juga bertambah. keren banget melihatnya. Geli di sekujur tubuh melihat itu semua. Tidak lama kepala penisnya mulai kelihatan di antara kulupnya. Perlahan-lahan mendesak ingin keluar. Wahh..! Bukan main perasaan senangku waktu itu. Gw benar-benar asyik melihat helm itu perlahan muncul.&lt;br /&gt;Akhirnya bebas juga kepala penis itu dari halangan kulupnya. Penis adikku sudah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya kini lebih merah. Gw jadi terangsang melihatnya. Kualihkan pandangan ke adikku.&lt;br /&gt;"Hehe..." dia ke arahku. "Masih culun nggak..?" katanya lagi. "Hehe..! Macho kan kak!" katanya tetap tersenyum.&lt;br /&gt;Tangannya tiba-tiba turun menuju ke selangkanganku. Walaupun Gw terangsang, tentu saja Gw tepis tangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apaan sih dik..!" kubuang tangannya ke kanan.&lt;br /&gt;"Kak..! Please kakkk.. Pegang aja kak... Nggak akan diapa-apain... Gw pengen tahu rasanya megang itu-nya cewek. Cuma itu aja kak.." kata adik gw, kembali tangannya mendekati selangkangan dan mau memegang memek gw.&lt;br /&gt;ehmmmm.. sebenarnya Gw mau jaga image, masa mau sih sama adik sendiri, tapi Gw juga ingin tahu bagaimana rasanya dipegang oleh cowok di memek!hihihii…&lt;br /&gt;"Inget..! Jangan digesek-gesekin, taruh aja tanganmu di situ..!" akhirnya Gw mengiyakan. Deg-degan juga hati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan adik gw lalu mendekat, bulu kemaluanku sudah tersentuh oleh tangannya. Ihh geli sekali... Gw lihat penisnya sudah keras sekali, kini warnanya lebih kehitaman dibanding dengan sebelumnya. opppssttttt... Hangatnya tangan sudah terasa melingkupi vagina Gw. Geli sekali rasanya saat bibir vagina Gw tersentuh telapak tangannya. Geli-geli nikmat di syaraf vagina Gw. Gw jadi semakin terangsang sehingga tanpa dapat ditahan, vagina Gw mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;"Hihihi.. kakak terangsang ya..?"&lt;br /&gt;"Enak aja... sama adik mah mana bisa terangsang..!" jawabku sambil merapatkan selangkangan gw agar cairannya tidak semakin keluar.&lt;br /&gt;"Ini basah banget apaan Kak..?"&lt;br /&gt;"Itu sisa air kencing Kakak tahuuu..!" kata Gw berbohong padanya.&lt;br /&gt;"Kak... memek tu anget, empuk dan basah ya..?"&lt;br /&gt;"Tau ah... Udah belum..?" Gw berlagak sepertinya Gw menginginkan situasi itu berhenti, padahal sebenarnya Gw ingin tangan itu tetap berada di situ, bahkan kalau bisa mulai bergerak menggesek bibir memek Gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak... gesek-gesek dikit ya..?" pintanya.&lt;br /&gt;"Tuh kan..? Katanya cuma pegang aja..!" Gw pura-pura tidak mau.&lt;br /&gt;"Dikit aja Kak... Please..!"&lt;br /&gt;"Terserah adik aja deh..!" Gw mengiyakan dengan nada malas-malasan, padahal mau banget tuh. Hihihi.. Habis enak sih...&lt;br /&gt;Tangan adik gw lalu makin masuk ke dalam, terasa bibir vagina Gw terbawa juga ke dalam.&lt;br /&gt;uhhhhhh..! Hampir saja kata-kata itu keluar dari mulut gw. Rasanya nikmat sekali. Otot di dalam vagina Gw mulai terasa berdenyut. Lalu tangannya ditarik lagi, bibir vagina Gw ikut tertarik lagi.&lt;br /&gt;"Ouughhhhhhhhh..!" akhirnya keluar juga desahan nafasku menahan rasa nikmat di vagina Gw.&lt;br /&gt;Badanku terasa limbung, bahuku condong ke depan. Karena takut jatuh, Gw bertumpu pada bahu adik gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enak ya kak..?"&lt;br /&gt;"Heeheee..," jawabku sambil memejamkan mata.&lt;br /&gt;Tangan adik gw lalu mulai maju dan mundur, kadang klitoris gw tersentuh oleh telapak tangannya. Tiap tersentuh rasanya nikmat luar biasa, badan ini akan tersentak ke depan.&lt;br /&gt;"kak..! Adek juga pengen ngerasaain enaknya dong..!"&lt;br /&gt;"Kamu mau diapain..?" jawab gw lalu membuka mata dan melihat ke arahnya.&lt;br /&gt;"Ya pegang-pegangin juga..!" katanya sambil tangan satunya lalu menuntun tanganku ke arah  kontolnya.&lt;br /&gt;Kupikir egois juga jika Gw tidak mengikuti keinginannya. Kubiarkan tangannya menuntun tangan gw. Terasa hangat penisnya di genggaman tangan ini. Kadang terasa kedutan di dalamnya. Karena masih ada sabun di penisnya, dengan mudah Gw bisa memaju-mundurkan tanganku mengocok penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat tubuh adikku kadang-kadang tersentak ke depan saat tanganku sampai ke pangkal penisnya. Kami berhadapan dengan satu tangan saling memegang kemaluan dan tangan satunya memegang bahu.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia berkata, "Kak..! Titit Adek sama memek Kakak digesekin aja yah..!"&lt;br /&gt;"hooh" Gw langsung mengiyakan karena Gw sudah tidak tahan menahan rangsangan di dalam tubuh.&lt;br /&gt;Lalu dia melepas tangannya dari vagina Gw, memajukan badannya dan memasukkan penisnya di antara selangkangan gw. Terasa hangatnya batang penisnya di bibir vagina Gw. Lalu dia memaju-mundurkan pinggulnya untuk menggesekkan penisnya dengan vagina Gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ohhhhh..!" Gw kini tidak malu-malu lagi mengeluarkan erangan.&lt;br /&gt;"Dek... masukin aja..! Kakak udah nggak tahan..!" Gw benar-benar sudah tidak tahan, setelah sekian lama menerima rangsangan. Gw akhirnya menghendaki sebuah penis masuk ke dalam memek Gw.&lt;br /&gt;"Iya Kak..!"&lt;br /&gt;Lalu dia menaikkan satu paha Gw, dilingkarkan ke pinggangnya, dan tangan satunya mengarahkan penisnya agar tepat masuk ke itil Gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw terlonjak ketika sebuah benda hangat masuk ke dalam kemaluanku. Rasanya ingin berteriak sekuatnya untuk melampiaskan nikmat yang kurasa. Akhirnya Gw hanya bisa menggigit bibir gw untuk menahan rasa nikmat itu. Karena sudah dari tadi dirangsang, tidak lama kemudian Gw mengalami orgasme. Vagina Gw rasanya seperti tersedot-sedot dan seluruh syaraf di dalam tubuh berkontraksi.&lt;br /&gt;"ohhhhhh..!" Gw tidak kuat untuk tidak berteriak.&lt;br /&gt;Kulihat adik gw masih terus memaju-mundurkan pinggulnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba dia mendorong sekuat tenaga hingga badanku terdorong sampai ke tembok.&lt;br /&gt;"Ouughhh..!" katanya.&lt;br /&gt;Pantatnya ditekannya lama sekali ke arah vagina Gw. Lalu badannya tersentak-sentak melengkung ke depan. Kurasakan cairan hangat di dalam vagina Gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami terdiam dalam posisi itu, kurasa penisnya masih penuh mengisi vagina Gw. Lalu dia mencium bibirku dan melumatnya. Kami berpagutan lama sekali, basah keringat menyiram tubuh ini. Kami saling melumat bibir lama sekali. Tangannya lalu meremas payudara dan memilin putingnya.&lt;br /&gt;"Kak..! Kakak nungging, terus pegang bibir bathtub itu..!" tiba-tiba dia berkata.&lt;br /&gt;"Wahh..! Gila adik ya..!"&lt;br /&gt;"Udah.., ikutin aja..!" katanya lagi.&lt;br /&gt;Gw pun mengikuti petunjuknya. Gw berpegangan pada bathtub dan menurunkan tubuh bagian atasku, sehingga batang kemaluannya sejajar dengan pantatku. Gw tahu adikku bisa melihat dengan jelas vagina Gw dari belakang. Lalu dia mendekatiku dan memasukkan penisnya ke dalam vagina Gw dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"uhhhhhh..! %@!#$&amp;amp;tt..!" Gw menjerit saat penis itu masuk ke dalam rongga vagina Gw.&lt;br /&gt;Rasanya lebih nikmat dibanding sebelumnya. Rasa nikmat itu lebih kurasakan karena tangan adikku yang bebas kini meremas-remas payudara Gw. Adikku terus memaju-mundurkan pantatnya sampai sekitar 10 menit ketika kami hampir bersamaan mencapai orgasme. Gw rasakan lagi tembakan sperma hangat membasahi rongga vagina Gw. Kami lalu berciuman lagi untuk waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, kami jadi sering melakukannya, terutama di kamar gw ketika malam hari saat orang tua sudah pergi tidur. Minggu-minggu awal, kami melakukannya bagaikan pengantin baru, hampir tiap malam kami bersetubuh. Bahkan dalam semalam, kami bisa melakukan sampai 4 kali. Biasanya Gw membiarkan pintu kamar gw tidak terkunci, lalu sekitar jam 2 malam, adik gw akan datang dan menguncinya. Lalu kami bersetubuh sampai kelelahan. Kini setelah Gw di Bandung, kami masih selalu melakukannya jika ada kesempatan. Kalau bukan Gw yang ke Sukabumi, maka dia yang akan datang ke Bandung untuk menyetor jatah spermanya ke memek Gw. Saat ini Gw mulai berani menelan sperma yang dikeluarkan oleh adik kandung gw sendiri! Beginilah cerita sex sedarah yang kami lakukan sampai sekarang! Terus terang gw kecanduan ngentot ama adik gw!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-8460954138618283323?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/8460954138618283323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=8460954138618283323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8460954138618283323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8460954138618283323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/ngentot-dengan-adik-kandung.html' title='Adik Kandung Gw Garap Juga'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3923389332478937486</id><published>2009-02-24T23:11:00.001-08:00</published><updated>2009-02-25T05:16:15.711-08:00</updated><title type='text'>Kakak iparku, pemuas nafsu birahiku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Kakak iparku, pemuas nafsu birahiku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya seorang pria berumur 40 tahun. Istri saya satu tahun lebih muda dari saya. Secara keseluruhan kami keluarga bahagia dengan dua anak yang manis-manis. Yang sulung, perempuan kelas II SMP (Nisa) dan bungsu laki-laki kelas 3 SD. Saya bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Sedangkan istri saya seorang wanita karier yang sukses di bidang farmasi. Kini dia menjabat sebagai Distric Manager. Kami saling mencintai. Dia merupakan seorang istri yang setia. Saya sendiri pada dasarnya suami yang setia pula. Paling tidak saya setia terhadap perasaan cinta saya kepada istri saya. Tapi tidak untuk soal seks. Saya seorang peselingkuh. Ini semua karena saya memiliki libido yang amat tinggi sementara istri saya tidak cukup punya minat di bidang seks. Saya menginginkan hubungan paling tidak dua kali dalam seminggu. Tetapi istri saya menganggap sekali dalam seminggu sudah berlebihan.&lt;br /&gt;Dia pernah bilang kepada saya, “Lebih enak hubungan sekali dalam sebulan.”&lt;br /&gt;Tiap kali hubungan kami mencapai orgasme bersama-sama. Jadi sebenarnya tidak ada masalah dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya minat istri saya itu dikarenakan dia terlalu terkuras tenaga dan pikirannya untuk urusan kantor. Dia berangkat ke kantor pukul 07.30 dan pulang lepas Maghrib. Sampai di rumah sudah lesu dan sekitar pukul 20.00 dia sudah terlelap, meninggalkan saya kekeringan. Kalau sudah begitu biasanya saya melakukan onani. Tentu tanpa sepengetahuan dia, karena malu kalau ketahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perkawinan kami sudah tak terhitung berapa kali saya berselingkuh. Kalau istri saya tahu, saya tak bisa membayangkan akan seperti apa neraka yang diciptakannya. Bukan apa-apa. Perempuan-perempuan yang saya tiduri adalah mereka yang sangat dekat dengan dia. Saya menyimpan rapat rahasia itu. Sampai kini. Itu karena saya melakukan persetubuhan hanya sekali terhadap seorang perempuan yang sama. Saya tak mau mengulanginya. Saya khawatir, pengulangan bakal melibatkan perasaan. Padahal yang saya inginkan cuma persetubuhan fisik. Bukan hati dan perasaan. Saya berusaha mengindarinya sebisa mungkin, dan memberi kesan kepada si perempuan bahwa semua yang terjadi adalah kekeliruan. Memang ada beberapa perempuan sebagai perkecualian yang nanti akan saya ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan pertama yang saya tiduri semenjak menikah tidak lain adalah kakak istri saya. Oh ya, istri saya merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Semuanya perempuan. Istri saya sebut saja bernama Yeni. Kedua kakak Yeni sudah menikah dan punya anak. Mereka keluarga bahagia semuanya, dan telah memiliki tempat tinggal masing-masing. Hanya saya dan istri yang ikut mertua dua tahun pertama perkawinan kami. Setiap minggu keluarga besar istri saya berkumpul. Mereka keluarga yang hangat dan saling menyayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Maya, kakak istri saya ini adalah seorang perempuan yang dominan. Dia terlihat sangat menguasai suaminya. Saya sering melihat Mbak Maya menghardik suaminya yang berpenampilan culun. Suami Mbak Maya sering berkeluh-kesah dengan saya tentang sikap istrinya. Tetapi kepada orang lain Mbak Maya sangat ramah, termasuk kepada saya. Dia bahkan sangat baik. Mbak Maya sering datang bersama kedua anaknya berkunjung ke rumah orang tuanya -yang artinya rumah saya juga- tanpa suaminya.&lt;br /&gt;Kadang-kadang sebagai basa-basi saya bertanya, “Kenapa Mas Wid tidak diajak?”&lt;br /&gt;“Ahh malas saya ngajak dia,” jawabnya.&lt;br /&gt;Saya tak pernah bertanya lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saat Mbak Maya datang dan menginap, pas istri saya sedang tugas luar kota. Istri saya dua minggu sekali keluar kota saat itu. Dia adalah seorang detailer yang gigih dan ambisius. Jika sudah demikian biasanya ibu mertua saya yang menyiapkan kopi buat saya, atau makan pagi dan makan malam. Tapi jika pas ada Mbak Maya, ya si Mbak inilah yang menggantikan tugas ibu mertua. Tak jarang Mbak Maya menemani saya makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena seringnya bertemu, maka saya pun mulai dirasuki pikiran kotor. Saya sering membayangkan bisa tidur dengan Mbak Maya. Tapi mustahil. Mbak Maya tidak menunjukkan tipe perempuan yang gampang diajak tidur. Karenanya saya hanya bisa membayangkannya. Apalagi kalau pas hasrat menggejolak sementara istri saya up country. Aduhh, tersiksa sekali rasanya. Dan sore itu, sehabis mandi keramas saya mengeringkan rambut dengan kipas angin di dalam kamar. Saya hanya bercelana dalam ketika Mbak Maya mendadak membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kopinya Dik Andy.”&lt;br /&gt;Saya terkejut, dan Mbak Maya buru-buru menutup pintu ketika melihat sebelah tangan saya berada di dalam celana dalam, sementara satu tangan lain mengibas-ibas rambut di depan kipas angin. Saya malu awalnya. Tetapi kemudian berpikir, apa yang terjadi seandainya Mbak Maya melihat saya bugil ketika penis saya sedang tegang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran itu terus mengusik saya. Peristiwa membuka pintu kamar dengan mendadak bukan hal yang tidak mungkin. Adik-adik dan kakak-kakak istri saya memang terbiasa begitu. Mereka sepertinya tidak menganggap masalah. Seolah kamar kami adalah kamar mereka juga. Adik istri saya yang bungsu (masih kelas II SMU, sebut saja Rosi) bahkan pernah menyerobot masuk begitu saja ketika saya sedang bergumul dengan istri saya. Untung saat itu kami tidak sedang bugil. Tapi dia sendiri yang malu, dan berhari-hari meledek kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa Mbak Maya membuka pintu itu, saya jadi sering memasang diri, tiduran di dalam kamar dengan hanya bercelana dalam sambil coli (onani). Saya hanya ingin menjaga supaya penis saya tegang, dan berharap saat itu Mbak Maya masuk. Saya rebahan sambil membaca majalah. Sialnya, yang saya incar tidak pernah datang. Sekali waktu malah si Rosi yang masuk buat meminjam lipstik istri saya. Ini memang sudah biasa. Buru-buru saya tutupkan CD saya. Tapi rupanya mata Rosi keburu melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woww, indahnya.”&lt;br /&gt;Dia tampak cengengesan sambil memolesi bibirnya dengan gincu.&lt;br /&gt;“Mau kemana?” tanya saya.&lt;br /&gt;“Nggak. Pengin makai lipstik aja.”&lt;br /&gt;Saya meneruskan membaca.&lt;br /&gt;“Coli ya Mas?” katanya.&lt;br /&gt;Gadis ini memang manja, dan sangat terbuka dengan saya. Ketika saya masih berpacaran dengan istri saya, kemanjaannya bahkan luar biasa. Tak jarang kalau saya datang dia menggelendot di punggung saya. Tentu saya tak punya pikiran apa-apa. Dia kan masih kecil waktu itu. Tapi sekarang. Ahh. Tiba-tiba saya memperhatikannya. Dia sudah dewasa. Sudah seksi. Teteknya 34. Pinggang ramping, kulit bersih. Dia yang paling cantik di antara saudara istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya mulai kotor. Menurut saya, akan lebih mudah sebenarnya menjebak Rosi daripada Mbak Maya. Rosi lebih terbuka, lebih manja. Kalau cuma mencium pipi dan mengecup bibir sedikit, bukan hal yang sulit. Dulu saya sering mengecup pipinya. Tapi sejak dia kelihatan sudah dewasa, saya tak lagi melakukannya. Akhirnya sasaran jebakan saya beralih ke Rosi. Saya mencoba melupakan Mbak Maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore selepas mandi saya rebahan di tempat tidur, dan kembali memasang jebakan untuk Rosi. Saya berbulat hati untuk memancing dia. Ini hari terakhir istri saya up country. Artinya besok di kamar ini sudah ada istri saya. Saya elus perlahan-lahan penis saya hingga berdiri tegak. Saya tidak membaca majalah. Saya seolah sedang onani. Saya pejamkan mata saya. Beberapa menit kemudian saya dengar pintu kamar berderit lembut. Ada yang membuka. Saya diam saja seolah sedang keasyikan onani. Tidak ada tanggapan. Saya melihat pintu dengan sudut mata yang terpicing. Sialan. Tak ada orang sama sekali. Mungkin si Rosi langsung kabur. Saya hampir saja menghentikan onani saya ketika dari mata yang hampir tertutup saya lihat bayangan. Segera saya mengelus-elus penis saya dengan agak cepat dan badan bergerak-gerak kecil. Saya mencoba mengerling di antara picingan mata. Astaga! Kepala Mbak Maya di ambang pintu. Tapi kemudian bayangan itu lenyap. Lalu muncul lagi, hilang lagi, Kini tahulah saya, Mbak Maya sembunyi-sembunyi melihat saya. Beberapa saat kemudian pintu ditutup, dan tak dibuka kembali sampai saya menghentikan onani saya. Tanpa mani keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, di meja makan kami makan bersama-sama. Saya, kedua mertua, Mbak Maya, Rosi dan kakak Rosi, Mayang. Berkali-kali saya merasakan Mbak Maya memperhatikan saya. Saya berdebar-debar membayangkan apa yang ada di pikiran Mbak Maya. Saya sengaja memperlambat makan saya. Dan ternyata Mbak Maya pun demikian. Sehingga sampai semua beranjak dari meja makan, tinggal kami berdua. Selesai makan kami tidak segera berlalu. Piring-piring kotor dan makanan telah dibereskan Mak Jah, pembantu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik Andy kesepian ya? Suka begitu kalau kesepian?” Mbak Maya mebuka suara.&lt;br /&gt;Saya kaget. Dia duduk persis di kanan saya. Dia memandangi saya. Matanya seakan jatuh kasihan kepada saya. Sialan.&lt;br /&gt;“Maksud Mbak May apaan sih?” saya pura-pura tidak tahu.&lt;br /&gt;“Tadi Mbak May lihat Dik Andy ngapain di kamar. Sampai Dik Andy nggak liat. Kalau sedang gitu, kunci pintunya. Kalau Rosi atau Ibu lihat gimana?”&lt;br /&gt;“Apaan sih?” saya tetap pura-pura tidak mengerti.&lt;br /&gt;“Tadi onani kan?”&lt;br /&gt;“Ohh.” Saya berpura-pura malu.&lt;br /&gt;Perasaan saya senang bercampur gugup, menunggu reaksi Mbak Maya. Saya menghela nafas panjang. Sengaja.&lt;br /&gt;“Yahh, Yeni sudah tiga hari keluar kota. Pikiran saya sedang kotor. Jadi..”&lt;br /&gt;“Besok lagi kalau Yeni mau keluar kota, kamu minta jatah dulu.”&lt;br /&gt;“Ahh Mbak May ini. Susah Mbak nunggu moodnya si Yeni. Kadang pas saya lagi pengin dia sudah kecapekan.”&lt;br /&gt;“Tapi itu kan kewajiban dia melayani kamu?”&lt;br /&gt;“Saya tidak ingin dia melakukan dengan terpaksa.”&lt;br /&gt;Kami sama-sama diam. Saya terus menunggu. Menunggu. Jantung saya berdegup keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sering swalayan gitu?”&lt;br /&gt;“Yaa sering Mbak. Kalau pengin, terus Yeni nggak mau, ya saya swalayan. Ahh udah aahh. Kok ngomongin gitu?”&lt;br /&gt;Saya pura-pura ingin mengalihkan pembicaraan. Tapi Mbak Maya tidak peduli.&lt;br /&gt;“Gini lho Dik. Masalahnya, itu tidak sehat untuk perkawinan kalian. Kamu harus berbicara dengan Yeni. Masa sudah punya istri masih swalayan.”&lt;br /&gt;Mbak Maya memegang punggung tangan saya.&lt;br /&gt;“Maaf Mbak. Nafsu saya besar. Sebaliknya dengan Yeni. Jadi kayaknya saya yang mesti mengikuti kondisi dia.” Kali ini saya bicara jujur. “Saya cukup puas bisa melayani diri sendiri kok.”&lt;br /&gt;“Kasihan kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Maya menyentuh ujung rambut saya, dan disibakkannya ke belakang. Saya memberanikan diri menangkap tangan itu, dan menciumnya selintas. Mbak Maya seperti kaget, dan buru-buru menariknya.&lt;br /&gt;“Kapan kalian terakhir kumpul?”&lt;br /&gt;“Dua atau tiga minggu lalu,” jawab saya.&lt;br /&gt;Bohong besar. Mbak Maya mendesis kaget.&lt;br /&gt;“Ya ampuun.”&lt;br /&gt;“Mbak. Tapi Mbak jangan bilang apa-apa ke Yeni. Nanti salah pengertian. Dikira saya mengadu soal begituan.”&lt;br /&gt;Mbak Maya kembali menggenggam tangan saya. Erat, dan meremasnya. Isi celana saya mulai bergerak-gerak. Kali ini saya yang menarik tangan saya dari genggaman Mbak Maya. Tapi Mbak Maya menahannya. Saya menarik lagi. Bukan apa-apa. Kali ini saya takut nanti dilihat orang lain.&lt;br /&gt;“Saya horny kalau Mbak pegang terus.”&lt;br /&gt;Mbak Maya tertawa kecil dan melepaskan tangan saya. Dia beranjak sambil mengucek-ucek rambut saya.&lt;br /&gt;“Kaciaann ipar Mbak satu ini.”&lt;br /&gt;Mbak Maya berlalu, menuju ruang keluarga.&lt;br /&gt;“Liat TV aja yuk,” ajaknya.&lt;br /&gt;Saya memaki dalam hati. Kurang ajar betul. Dibilang saya horny malah cengengesan, bukannya bilang, “Saya juga nih, Dik.” Setengah jengkel saya mengikutinya. Di ruang keluarga semua kumpul kecuali Rosi. Hanya sebentar. Saya masuk ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 23.00 pintu kamar saya berderit. Saya menoleh. Mbak Maya. Dia menempelkan telunjuknya di bibirnya.&lt;br /&gt;“Belum bobo?” tanyanya lirih. Jantung saya berdenyut keras.&lt;br /&gt;“Belum.” Jawab saya.&lt;br /&gt;“Kita ngobrol di luar yuk?”&lt;br /&gt;“Di sini saja Mbak.” Saya seperti mendapat inspirasi.&lt;br /&gt;“Ihh. Di teras aja. Udah ngantuk belum?”&lt;br /&gt;Mbak Maya segera menghilang. Dengan hanya bersarung telanjang dada dan CD saya mengikuti Mbak Maya ke teras. Saya memang terbiasa tidur bertelanjang dada dan bersarung. Rumah telah senyap. TV telah dimatikan. Keluarga ini memang terbiasa tidur sebelum jam 22.00. Hanya aku yang betah melek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Maya mengenakan daster tanpa lengan. Ujung atas hanya berupa seutas tali tipis. Daster kuning yang agak ketat. Saya kini memperhatikan betul lekuk tubuh perempuan yang berjalan di depan saya itu. Pantat menonjol. Singset. Kulitnya paling putih di antara semua sadaranya. Umurnya berselisih tiga tahun dengan Yeni.&lt;br /&gt;Mbak Maya duduk di bangku teras yang gelap. Bangku ini dulu sering saya gunakan bercumbu dengan Yeni. Wajah Mbak Maya hanya terlihat samar-samar oleh cahaya lampu TL 10 watt milik tetangga sebelah. Itupun terhalang oleh daun-daun angsana yang rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberi tempat kepada saya. Kami duduk hampir berhimpitan. Saya memang sengaja. Ketika dia mencoba menggeser sedikit menjauh, perlahan-lahan saya mendekakan diri.&lt;br /&gt;“Dik Andy” Mbak Maya membuka percakapan.&lt;br /&gt;“Nasib kamu itu sebenernya tak jauh beda dengan Mbak.”&lt;br /&gt;Saya mengernyitkan dahi. Menunggu Mbak Maya menjelaskan. Tapi perempuan itu diam saja. tangannya memilin-milin ujung rambut.&lt;br /&gt;“Maksud Mbak apa sih?”&lt;br /&gt;“Tidak bahagia dalam urusan tempat tidur. Ih. Gimana sih.”&lt;br /&gt;Mbak Maya mencubit paha saya. Saya mengaduh. Memang sakit, Tapi saya senang. Perlahan-lahan penis saya bergerak.&lt;br /&gt;“Kok bisa?”&lt;br /&gt;“Nggak tahu tuh. Mas Wib itu loyo abis.”&lt;br /&gt;“Impoten?” Saya agak kaget.&lt;br /&gt;“Ya enggak sih. Tapi susah diajakin. Banyak nolaknya. Malas saya. Perempuan kok dibegituin,”&lt;br /&gt;“Hihihi.. Tadi kok kasih nasihat ke saya?”&lt;br /&gt;Saya tersenyum kecil. Mbak Maya mencoba mendaratkan lagi cubitannya. Tapi saya lebih sigap. Saya tangkap tangan itu, dan saya amankan dalam genggaman. Saya mulai berani. Saya remas tangan Mbak Maya. Penis saya terasa menegang. Badan mulai panas dingin. Mungkinkan malam ini saya dan Mbak Maya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus cara pelampiasan Mbak gimana? Swalayan juga?” Tanya saya.&lt;br /&gt;Saya taruh sebelah tangan di atas pahanya. Mbak Maya mencoba menghindar, tapi tak jadi.&lt;br /&gt;“Enggak dong. Malu. Risih. Ya ditahan aja.”&lt;br /&gt;“Kapan terakhir Mbak Maya tidur sama Mas Wib?”&lt;br /&gt;Saya mencium punggung tangan Mbak Maya. Lalu tangan itu saya taruh perlahan-lahan di antara pahaku, sedikit menyentuh penis.&lt;br /&gt;“Dua minggu lalu.”&lt;br /&gt;“Heh?” Saya menatap matanya. Bener enggak sih. Kok jawabannya sama dengan saya? Ngeledek apa gimana nih.&lt;br /&gt;“Bener.” Matanya mengerling ke bawah, melihat sesuatu di dekat tangannya yang kugenggam.&lt;br /&gt;“Mbak..” Saya menyusun kekuatan untuk berbicara. Tenggorokan terasa kering. Nafsu saya mulai naik. Perempuan ini bener-bener seperti merpati. Jangan-jangan hanya jinak ketika didekati. Saat dipegang dia kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm,” Mbak Maya menatap mata saya.&lt;br /&gt;“Mbak pengin?”&lt;br /&gt;Dia tak menjawab. Wajahnya tertunduk. Saya raih pundaknya. Saya elus rambutnya. Saya sentuh pipinya. Dia diam saja. Sejurus kemudian mulut kami berpagutan. Lama. Ciuman yang bergairah. Saya remas bagian dadanya. Lalu tali sebelah dasternya saya tarik dan terlepas. Mbak Maya merintih ketika jari saya menyentuh belahan dadanya. Secara spontan tangan kirinya yang sejak tadi di pangkuan saya menggapai apa saja. Dan yang tertangkap adalah penis. Dia meremasnya. Saya menggesek-gesekkan jari saya di dadanya. Kami kembali berciuman.&lt;br /&gt;“Di kamar aja yuk Mbak?” ajak saya.&lt;br /&gt;Lalu kami beranjak. Setengah berjingkat-jingkat menuju kamar Mbak Maya. Kamar ini terletak bersebarangan dengan kamar saya. Di sebelah kamar Mbak Maya adalah kamar mertua saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu tumpahlah segalanya. Kami bermain dengan hebatnya. Berkali-kali. Ini adalah perselingkuhan saya yang pertama sejak saya kawin. Belakangan saya tahu, itu juga perselingkuhan pertama Mbak Maya. Sebelum itu tak terbetik pikiran untuk selingkuh, apalagi tidur dengan laki-laki lain selain Mas Wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam gaya kami lakukan. Termasuk oral, dan sebuah sedotan kuat menjelang saya orgasme. Semprotan mani menerjang tenggorokan Mbak Maya. Itulah pertama kali mani saya diminum perempuan. Yeni pun tidak pernah. Tidak mau. Jijik katanya. Menjelang pagi, saat tulang kami seperti dilolosi, saya kembali ke kamar. Tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berani mengulanginya lagi. Perasaan menyesal tumpah-ruah ketika saya bertemu istri saya. Mungkin itu juga yang dirasakan Mbak Maya. Selepas itu dia mencoba menghindari pembicaraan yang menjurus ke tempat tidur. Kami bersikap biasa-biasa, seolah tidak pernah terjadi apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tidur di samping istri saya, saya berjanji dalam hati Tidak akan selingkuh lagi. Ternyata janji tinggal janji. Nafsu besar lebih mengusik saya. Terutama saat istri saya ke luar kota dan keinginan bersetubuh mendesak-desak dalam diri saya. Rasanya ingin mengulanginya dengan Mbak Maya. Tapi tampaknya mustahil. Mbak Maya benar-benar tidak memberi kesempatan kepada saya. Dia tidak lagi mau masuk kamar saya. Jika ada perlu di menyuruh Rosi, atau berteriak di luar kamar, memanggil saya. Bahkan mulai jarang menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya kembali ke sasaran awal saya. Rosi. Mungkinkah saya menyetubuhi adik istri saya? Uhh. Mustahil. Kalau hamil? Beda dengan Mbak Maya. Kepada dia saya tidak ragu untuk mengeluarkan benih saya ke dalam rahimnya. Kalaupun hamil, tak masalah kan. Paling-paling kalau anaknya lahir dan mirip dengan saya yaa banyak cara untuk menepis tuduhan. Lagian masak sih pada curiga?&lt;br /&gt;Kehidupan terus berjalan. Usia kandungan istri saya menginjak bulan ke-4. Tahu sendirilah bagaimana kondisi perempuan kalau sedang hamil muda. Bawaannya malas melulu. Tapi untuk urusan pekerjaan dia sangat bersemangat. Dia memang pekerja yang ambisius. Berdedikasi, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Karena itu jadwal keluar kota tetap dijalani. Kualitas hubungan seks kami makin buruk. Dia seakan benar-benar tak ingin disentuh kecuali pada saat benar-benar sedang relaks. Saya juga tak ingin memaksa. Karenanya saya makin sering beronani diam-diam di kamar mandi. Kadang-kadang saya kasihan terhadap diri sendiri. Kata-kata Mbak Maya sering terngiang-ngiang, terutama sesaat setelah sperma memancar dari penis saya. “Kacian adik iparku ini..” Tapi saya tak punya pilihan lain. Saya tak suka “jajan”. Maaf, saya agak jijik dengan perempuan lacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali beronani, yang saya bayangkan adalah wajah Mbak Maya atau si bungsu Rosi, bergantian. Rosi telah tumbuh menjadi gadis yang benar-benar matang. Montok, lincah. Cantik penuh gairah, dan terkesan genit. Meskipun masih bersikap manja terhadap saya, tetapi sudah tidak pernah lagi bergayutan di tubuh saya seperti semasa saya ngapelin kakaknya. Saya sering mencuri pandang ke arah payudaranya. Ukurannya sangat saya idealkan. Sekitar 34. Punya istri saya sendiri hanya 32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali, di balik baju seragam SMU-nya saya lihat gerakan indah payudara itu. Keinginan untuk melihat payudara itu begitu kuatnya. Tapi bagaimana? Mengintip? Di mana? Kamar mandi kami sangat rapat. Letak kamar saya dengannya berjauhan. Dia menempati kamar di sebelah gudang. Yang paling ujung kamar Mak Jah, pembantu kami. Setelah kamar Mayang, kakak Rosi, baru kamar saya. Kamar kami seluruhnya terbuat dari tembok. Sehingga tak mugkin buat ngintip. Tapi tunggu! Saya teringat gudang. Ya, kalau tidak salah antara gudang dengan kamar Rosi terdapat sebuah jendela. Dulunya gudang ini memang berupa tanah kosong semacam taman. Karena mertua butuh gudang tambahan, maka dibangunlah gudang. Jendela kamar Rosi yang menghadap ke gudang tidak dihilangkan. Saya pernah mengamati, dari jendela itu bisa mengintip isi kamar Rosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah niat saya kesampaian. Saya sangat sering diam-diam ke gudang begitu Rosi selesai mandi. Memang ada celah kecil tapi tak cukup untuk mengintip. Karenanya diam-diam lubang itu saya perbesar dengan obeng. Saya benar-benar takjub melihat sepasang payudara montok dan indah milik Rosi. Meski sangat jarang, saya juga pernah melihat kemaluan Rosi yang ditumbuhi bulu-bulu lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali mengintip, selalu saya melakukan onani sehingga di dekat lubang intipan itu terlihat bercak-bercak sperma saya. Tentu hanya saya yang tahu kenapa dan apa bercak itu. Keinginan untuk menikmati tubuh Rosi makin menggelayuti benak saya. Tetapi selalu tak saya temukan jalan. Sampai akhirnya malam itu. Mertua saya meminta saya mendampingi Rosi untuk menghadiri Ultah temannya di sebuah diskotik. Ibu khawatir terjadi apa-apa. Dengan perasaan luar biasa gembira saya antar Rosi. Istri saya menyuruh saya membawa mobil. Tapi saya menolak. “Kamu kan harus detailing. Pakai saja. Masa orang hamil mau naik motor?” Padahal yang sebenarnya, saya ingin merapat-rapatkan tubuh dengan Rosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat sekitar pukul 19.00. Dia membonceng. Kedua tangannya memeluk pinggang saya. Saya rasakan benda kenyal di punggung saya. Jantung saya berdesir-desir. Sesekali dengan nakal saya injak pedal rem dengan mendadak. Akibatnya terjadi sentakan di punggung. Saya pura-pura tertawa ketika Rosi dengan manja memukuli punggung saya.&lt;br /&gt;“Mas Andy genit,” katanya.&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, mungkin karena kesal, Rosi bahkan tanpa saya duga sengaja menempelkan dadanya ke puggung saya. Menekannya.&lt;br /&gt;“Kalau mau gini, bilang aja terus terang,” katanya.&lt;br /&gt;“Iya iya mau,” sahut saya.&lt;br /&gt;Tidak ada tanggapan. Rosi bahkan menggeser duduknya, merenggang. Sialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Rosi mengenakan rok span ketat dan atasan tank top, dibalut jaket kulit. Benar-benar seksi ipar saya ini.&lt;br /&gt;Di diskotik telah menunggu teman-teman Rosi. Ada sekitar 15-an orang. Saya membiarkan Rosi berabung dengan teman-temannya. Saya memilih duduk di sudut. Malu dong kalau nimbrung. Sudah tua, ihh. Saya hanya mengawasi dari kejauhan, menikmati tubuh-tubuh indah para ABG. Tapi pandangan saya selalu berakhir ke tubuh Rosi. She is the most beautiful girl. Di antara saudara istri saya Rosi memang yang paling cantik. Tercantik kedua ya Mbak Maya, baru Yeni, istri saya. Mayang yang terjelek. Tubuhnya kurus kering sehingga tidak menimbulkan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali Rosi menengok ke arah tempat duduk saya sambil melambai. Saya tersenyum mengangguk. Mereka turun ke arena. Sekitar tiga lagu Rosi menghampiri saya.&lt;br /&gt;“Mas Andy udah pesan minum?” tanyanya.&lt;br /&gt;Dagu saya menunjuk gelas berisi lemon tea di depan saya. Saya tak berani minum minuman beralkohol, meski hanya bir. Saya pun bukan pecandu.&lt;br /&gt;“Kamu kok ke sini, udah sana gabung temen-temen kamu,” kata saya.&lt;br /&gt;Janjinya Rosi dkk pulang pukul 22.00. Tadi ibu mertua juga bilang supaya pulangnya jangan larut.&lt;br /&gt;“Nggak enak liat Mas Andy mencangkung sendirian,” kata Rosi duduk di sebelah saya.&lt;br /&gt;“Sudah nggak pa-pa.”&lt;br /&gt;“Bener?” Saya mengangguk, dan Rosi kembali ke grupnya.&lt;br /&gt;Habis satu lagu, dia mendatangi saya. Menarik tangan saya. Saya memberontak.&lt;br /&gt;“Ayo. Nggak apa-apa, sekalian saya kenalin ama temen-temen. Mereka juga yang minta kok.”&lt;br /&gt;Saya menyerah. Saya ikut saja bergoyang-goyang. Asal goyang. Dunia diskotik sudah sangat lama tidak saya kunjungi. Dulupun saya jarang sekali. Hampir tidak pernah. Saya ke diskotik sekedar supaya tahu saja kayak apa suasananya.&lt;br /&gt;Sesekali tangan Rosi memegang tangan saya dan mengayun-ayunkannya. Musik bener-benr hingar-bingar. Lampu berkelap-kelip, dan kaki-kaki menghentak di lantai disko. Sesekali Rosi menuju meja untuk minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul 22.00 sebagian teman Rosi pulang. Saya segera mengajak Rosi pulang juga.&lt;br /&gt;“Bentar dong Mas Andy, please,” kata Rosi.&lt;br /&gt;Astaga. Tercium aroma alkohol dari mulutnya.&lt;br /&gt;“Heh. Kamu minum apa? Gila kamu. Sudah ayo pulang.” Segera saya gelandang dia.&lt;br /&gt;“Yee Mas Andy gitu deh.” Dia merajuk tapi saya tak peduli. Ruangan ini mulai menjemukan saya.&lt;br /&gt;“Udah dulu ya bro, sis. Satpam ngajakin pulang neh.”&lt;br /&gt;“Satpam-mu itu.”&lt;br /&gt;Saya menjitak lembut kepala Rosi. Rosi memang minum alkohol. Tak tahu apa yang diminumnya tadi. Dia pun terlihat sempoyongan. Saya jadi cemas. Takut nanti kena marah mertua. Disuruh jagain kok tidak bisa. Tapi ada senangnya juga sih. Rosi jadi lebih sering memeluk lengan saya supaya tidak sempoyongn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menuju tempat parkir untuk mengambil motor. Saya bantu Rosi mengenakan jaket yang kami tinggal di motor. Saya bantu dia mengancing resluitingnya. Berdesir darah saya ketika sedikit tersentuk bukit di dadanya.&lt;br /&gt;“Hayoo, nakal lagi,” katanya.&lt;br /&gt;“Hus. Nggak sengaja juga.”&lt;br /&gt;“Sengaja nggak pa-pa kok Mas.”&lt;br /&gt;Omongan Rosi makin ngaco. Dia tarik ke bawah resluitingnya.&lt;br /&gt;Dan sebelum saya berkomentar dia sudah berkata, “Masih gerah. Ntar kalau dingin Rosi kancingin deh.”&lt;br /&gt;Segera mesin kunyalakan, dan motor melaju meninggalkan diskotik SO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyenangkan. Rosi yang setengah mabuk ini seakan merebahkan badannya di punggung saya. Kedua tangannya memeluk erat perut saya. Jangan tanya bagaimana birahi saya. Penis saya menegang sejak tadi. Dagu Rosu disadarkan ke pundak saya. Lembut nafasnya sesekali menyapu telinga saya. Saya perlambat laju motor. Benar-benar saya ingin menikmati. Lalu saya seperti merasa Rosi mencium pipi saya. Saya ingin memastikan dengan menoleh. Ternyata memang dia baru saja mencium pipi saya. Bahkan selanjutnya dia mengecup pipi saya. Saya kira dia benar-benar mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Andy, Rosi pengin pacaran dulu,” katanya mengejutkan saya.&lt;br /&gt;“Pacaran sama Mas Andy? Gila kamu ya.” Penis saya makin kencang.&lt;br /&gt;“Mau enggak?”&lt;br /&gt;“Kamu mabuk ya?” Dia tak menjawab. Hanya pelukannya tambah erat.&lt;br /&gt;“Mas..”&lt;br /&gt;“Hmm”&lt;br /&gt;“Mas masih suka coli?”&lt;br /&gt;“Hus. Napa sih?”&lt;br /&gt;“Pengen tahu aja. Mbak Yeni nggak mau melayani ya?”&lt;br /&gt;“Tahu apa kamu ini.”&lt;br /&gt;Saya sedikit berteriak. Saya kaget sendiri. Entah kenapa saya tidak suka dia omong begitu, Mungkin reflek saja karena saya dipermalukan.&lt;br /&gt;“Sorry. Gitu aja marah.” Rosi kembali mencium pipi saya.&lt;br /&gt;Bahkan dia tempelkan terus bibirnya di pipi saya, sedikit di bawah telinga.&lt;br /&gt;“Saya horny Ros.”&lt;br /&gt;“Kapan? Sekarang? Ahh masak. Belum juga diapa-apain”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya raih tangannya dan saya taruh di penis saya yang menyodok celana saya. Terperanjat dia. Tapi diam saja. Tangannya merasakan sesuatu bergerak-gerak di balik celana saya.&lt;br /&gt;“Pacaran ama Rosi mau nggak?” kata Rosi. Aroma alkohol benar-benar menyengat.&lt;br /&gt;“Di mana? Lagian udah malam. Nanti Ibu marah kalau kita pulang kemalaman.”&lt;br /&gt;“Kalau ama Mas Andy dijamin Ibu gak marah.”&lt;br /&gt;“Sok tahu.”&lt;br /&gt;“Bener. Ayuk deh. Ke taman aja. Tuh deket SMA I ajak. Asyik lagi. Bentar aja.”&lt;br /&gt;Tanpa menunggu perintah, motor saya arahkan ke Taman KB di seberang SMU I. Taman ini memang arena asyik bagi mereka yang seang berpacaran. Meski di sekitarnya lalu lintas ramai, tapi karena gelap, yaa tetap enak buat berpacaran.&lt;br /&gt;Kami mencari bangku kosong di taman. Sudah agak sepi jadi agak mudah mencarinya. Biasanya cukup ramai sehingga banyak yang berpacaran di rumputan. Begitu duduk. Langsung saja Rosi merebahkan kepalanya di dada saya. Saya tak mengira anak ini akan begini agresif. Atau karena pengaruh alkohol makin kuat? Entahlah. Kami melepas jaket dan menaruhnya di dekat bangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kan belum punya pacar, kok sudah segini berani Ros?” tanya saya.&lt;br /&gt;“Enak aja belum punya pacar.” Dia protes.&lt;br /&gt;“Habis siapa pacar kamu?” Saya genggam tangannya. Dia mengelus-elus dada saya.&lt;br /&gt;“Yaa ini.” Dia membuka kancing kemeja saya. Saya makin yakin dia diracuni alkohol. Tapi apa peduli saya. Inilah saatnya.&lt;br /&gt;Saya kecup keningnya. Matanya. Hidung, pipi, lalu bibirnya. Dia tersentak, dan memberikan pipinya. Saya kembali mencari bibirnya. Saya kecup lagi perlahan. Dia diam. Saya kulum. Dia diam saja. Benarkah anak ini belum pernah berciuman bibir dengan cowok?&lt;br /&gt;“Kamu belum pernah melakukan ya?” kata saya.&lt;br /&gt;Dia tak menjawab. Saya cium lagi bibirnya. Saya julurkan lidah saya. Tangannya meremas pinggang saya. Saya hisap lidahnya, saya kulum. Tangan saya kini menjalar mencari payudara. Dia menggelinjang tetapi membiarkan tangan saya menyusiup di antara celah BH-nya. Ketika saya menemukan bukit kenyal dan meremasnya, dia mengerang panjang. Kedua kakinya terjatuh dari bangku dan menendang-nendang rumputan. Saya buka kancing BH-nya yang terletak di bagian depan. Saya usap-usap lembut, ke kiri, lalu ke kanan. Saya remas, saya kili-kili. Dia mengaduh. Tangannya terus meremasi pinggang dan paha saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Andy..”&lt;br /&gt;“Hmm”&lt;br /&gt;“Please.. Please.”&lt;br /&gt;Saya mengangsurkan muka saya menciumi bukit-bukit itu. Dia makin tak terkendali. Lalu, srrt srrt..srrt. Sesuatu keluar dari penis saya. Busyet. Masa saya ejakulasi? Tapi benar, mani saya telah keluar. Anehnya saya masih bernafsu. Tidak seperti ketika bersetubuh dengan Yeni. Begitu mani keluar, tubuh saya lemas, dan nafsu hilang. Saya juga masih merasakan penis saya sanggup menerima rangsangan. Saya masih menciumi payudara itu, menghisap puting, dan tangan saya mengelus paha, menyelinap di antara celap CD. Membelai bulu-bulu lembut. Menyibak, dan merasakan daging basah. Mulut Rosi terus mengaduh-aduh. Saya rasakan kemaluan saya digeggamnya. Diremas dengan kasar, sehingga terasa sakit. Saya perlu menggeser tempat duduk karena sakitnya. Agaknya dia tahu, dan melonggarkan cengkeramannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia membuka resluiting celana saya, merogoh isinya. Meremas kuat-kuat. Tapi dia berhenti sebentar.&lt;br /&gt;“Kok basah Mas?” tanyanya. Saya diam saja.&lt;br /&gt;“Ehh,ini yang disebut mani ya?”&lt;br /&gt;Sejenak situasi kacau. Ini anak malah ngajak diskusi sih. Dia cium penis saya tapi tidak sampai menempel. Kayaknya dia mencoba membaui.&lt;br /&gt;“Kok gini baunya ya? Emang kayak gini ya?&lt;br /&gt;“Heeh,” jawab saya lalu kembali memainkan kelaminnya.&lt;br /&gt;“Asin juga ya?”&lt;br /&gt;Dia mengocok penis saya dengan tangannya.&lt;br /&gt;“Pelan-pelan Ros. Enakan kamu ciumin deh,” kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa perintah lanjutan Rosi mencium dan mengulum penis saya. Uhh, kasarnya minta ampun, Tidak ada enaknya. Jauhh dengan yang dilakukan Mbak Maya. Berkali-kai saya meminta dia untuk lebih pelan. Bahkan sesekali dia menggigit penis saya sampai saya tersentak. Akhirnya saya kembali ejakulasi. Bukan oleh mulutnya tapi karena kocokan tangannya. Setelah itu sunyi. Saya lemas. Saya benahi pakaian saya. Dia juga membenahi pakaiannya. Tampaknya dia telah terbebas dari pengaruh alkohol. Wajahnya yang belepotan mani dibersihkan dengan tissu.&lt;br /&gt;“Makasih pelajarannya ya Mas.” Dia mengecup pipi saya.&lt;br /&gt;“Tapi kamu janji jaga rahasia kan?” Saya ingin memastikan.&lt;br /&gt;“Iyaah. Emang mau cerita ama siapa? Bunuh diri?”&lt;br /&gt;“Siapa tahu. Pokoknya just for us! Nobody else may knows.”&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Kami bersiap-siap pulang. Sepanjang perjalanan dia memeluk erat tubuh saya. Menggelendot manja. Dan pikiran waras saya mulai bekerja. Saya mulai dihinggapi kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ros..”&lt;br /&gt;“Yaa”&lt;br /&gt;“Kamu nggak jatuh cinta ama Mas Andy kan? Everyting just for sex kan?”&lt;br /&gt;“Tahu deh.”&lt;br /&gt;“Please Ros. Kita nggak boleh keterusan. Anggap saja tadi kita sedang mabuk.” Saya menghentikan motor.&lt;br /&gt;“Iya deh.”&lt;br /&gt;“Bener ya? Ingat, Mas Andy ini suami Mbak Yeni.”&lt;br /&gt;Dia mengangguk mengerti.&lt;br /&gt;“Makasih Ros.” Saya kembali menjalankan motor.&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi malam ini, tidak usahlah terulang lagi,” kata saya.&lt;br /&gt;Saya benar-benar takut sekarang. Saya sadari, Rosi masih kanak-kanak. Masih labil. Dia amat manja. Bisa saja dia lepas kendali dan tak mengerti apa arti hubungan seks sesaat. Lalu saya dengar dia sesenggukan. Menangis. Untunglah dia menepati janji. Segalanya berjalan seperti yang saya harapkan. Saya tak berani lagi mengulangi, meskipun kesempatan selalu terbuka dan dibuka oleh Rosi. Saya benar-benar takut akibatnya. Saya tidak mau menhancurkan keluarga besar istri saya. Tak mau menghancurkan rumah tangga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya menikmati Rosi di dalam bayangan. Ketika sedang onani atau ketika sedang bersetubuh dengan Yeni. Sesekali saja saya membayangkan Mbak Maya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3923389332478937486?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3923389332478937486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3923389332478937486' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3923389332478937486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3923389332478937486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/kakak-iparku-pemuas-nafsu-birahiku_24.html' title='Kakak iparku, pemuas nafsu birahiku'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-3831770000526951228</id><published>2009-02-24T23:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T05:18:29.136-08:00</updated><title type='text'>Dipaksa.. Tapi Aku Menikmatinya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Dipaksa.. Tapi Aku Menikmatinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai keluarga dari kalangan atas, menghabiskan waktu liburan berbintang lima di Nusa Dua Bali bukanlah masalah bagi keluarga Helena. Selama beberapa hari Helena menghabiskan waktu liburan dengan suami dan dua orang anaknya disana. Setelah beberapa hari, suami Helena mengajaknya untuk ke Lombok. Tapi dengan alasan Helena merasa bosan dengan tempat itu, juga perjalanan dengan kapal fery yang yang cukup makan waktu, maka Helena menolak ajakan suaminya itu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya suami dan kedua anaknya segera menuju Lombok tanpa Helena. Helena, 30 tahun, walau sudah punya anak dua orang tapi penampilan dan gayanya mirip dengan layaknya gadis kota masa kini. Wajah sangat cantik, putih, dan tubuh sintal selalu membuat lelaki manapun akan tertarik. Salah satu nilai lebih dari rumah tangga Helena adalah kebebasan yang diberikan suaminya kepada Helena untuk boleh bergaul atau jalan dengan siapa saja asal Helena selalu jujur kepada suaminya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena suaminya sangat tahu akan libido Helena yang sangat tinggi hingga suaminya agak kewalahan dalam melayani kebutuhan seksual Helena. Dan nilai lebih dari Helena adalah kejujuran kepada suaminya bila dia jalan dan main dengan pria lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu di restoran hotel, ketika Helena sedang makan pagi..&lt;br /&gt;“Hei..!”, terdengar suara diiringi dengan tepukan tangan di pundak Helena.&lt;br /&gt;“Hei, Ani.. Abiem.. Pak Randi..”, sahut Helena senang ketika melihat mereka bertiga.&lt;br /&gt;“Mana suamimu?”, tanya Ani.&lt;br /&gt;“Sedang ke Lombok dengan anak-anak”, jawab Helena.&lt;br /&gt;“Duduklah di sini, temani aku makan..”, kata Helena.&lt;br /&gt;Mereka pun segera duduk dan makan pagi bersama satu meja. Ani dan Abiem adalah teman bisnis suami Helena di Jakarta, sedangkan Randi adalah seorang dokter, duda, yang jadi dokter keluarga Helena. Randi dikenalkan kepada keluarga Helena oleh Ani dan Abiem dulunya.&lt;br /&gt;“Nanti malam kita turun yuk? Kita habiskan malam bersama di diskotik”, ajak Abiem kepada Helena.&lt;br /&gt;“Entahlah..”, kata Helena.&lt;br /&gt;“Loh kenapa? Ayolah Bu Helena, kita sekali-sekali bergembira bersama”, kata Randi ikut menyela sambil tersenyum menatap Helena.&lt;br /&gt;“Ikutlah, Helena.. Masa cuma aku seorang ceweknya..”, kata Ani.&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu.. Aku ikut”, kata Helena sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Kamu tinggal di kamar berapa?”, tanya Abiem kepada Helena.&lt;br /&gt;“Aku di suite room..”, kata Helena sambil menyebutkan nomor kamarnya.&lt;br /&gt;“Ha? Kalau begitu kita bersebelahan dong..”, kata Ani sambil menyebutkan nomor kamar mereka.&lt;br /&gt;“Yee.. Kok aku tidak tahu, ya? Kapan kalian check in?”, tanya Helena.&lt;br /&gt;“Semalem. Tadinya kami mau tinggal di kamar lain, tapi karena sudah penuh, akhirnya kami ditunjukkan kamar yang masih pada kosong..”, kata Abiem.&lt;br /&gt;“Tau nggak kalau kamar kita terhubung oleh connecting door, Ni?”, kata Helena kepada Ani.&lt;br /&gt;“Iya? Berarti kita bisa kumpul-kumpul nih..”, kata Ani girang.&lt;br /&gt;“Oke deh, Helena.. Nanti malam kita pergi bareng ke Diskotik, ya?’, ujar Abiem.&lt;br /&gt;“Aku bawa minuman enak dari Perancis nanti..”, kata Abiem lagi.&lt;br /&gt;“Baiklah. Kalian pada mau kemana?”, tanya Helena.&lt;br /&gt;“Kami ada keperluan dulu. Bye..”, kata Ani sambil bangkit diikuti Abiem dan Andi, lalu mereka pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, dengan memakai T-shirt ketat plus rok katun sangat mini sehingga paha mulusnya tampak dengan indah, Helena berangkat dengan mereka ke diskotik.&lt;br /&gt;“Kita minum dulu deh agar hangat”, kata Abiem sambil menuang minuman bawaannya ke dalam gelas dan disodorkan kepada Helena.&lt;br /&gt;“Okay.. Siapa takut..”, kata Helena sambil meneguk minumannya.&lt;br /&gt;“Hm.. Enak.. Manis.. Give me more, please.”, kata Helena kepada Abiem. Abiempun segera menuang lagi minuman ke gelas Helena yang sudah kosong.&lt;br /&gt;“Jangan terlalu banyak, Helena.. Nanti kamu jadi hot, loh..”, kata Ani sambil tertawa. Mereka tertawa-tawa sambil menikmati minuman berakohol diiringi lagu yang diputar DJ.&lt;br /&gt;“Turun, yuk..”, ajak Randi kepada Helena.&lt;br /&gt;“Ayo..”, kata Helena sambil bangkit.&lt;br /&gt;Perasaannya sudah mulai terpengaruh alkohol. Akhirnya Ani dan Abiem serta Helena dan Randi melantai mengikuti hentakan irama yang cepat. Sampai akhirnya ketika lagu berganti ke irama slow, Helena dan Randi saling berangkulan dan berdansa mengikuti alunan irama lagu.&lt;br /&gt;“Mmhh..”, Helena mendesah hampir tak tedengar ketika dadanya bersentuhan dengan dada Randi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena pengaruh alkohol atau memang karena libido Helena yang tinggi, puting susu Helena mengeras dan makin mengeras ketika dadanya bersentuhan dengan badan Randi. Gairah Helena bangkit karenanya. Tapi Helena masih bisa menahan dirinya. Mereka terus menikmati waktu yang ada sambil meneguk minuman hingga wajah mereka memerah. Helena benar-benar menikmati malam itu selagi bisa bebas dari beban pekerjaan dan anak-anaknya. Sampai ketika waktu menunjukkan jam 1.00 pagi mereka segera pulang ke hotel.&lt;br /&gt;“Kita ngobrol di kamar saja, yuk?”, kata Abiem.&lt;br /&gt;“Okay.. Nanti aku buka connecting door-nya”, kata Helena sambil berlalu menuju kamarnya.&lt;br /&gt;Sementara Ani, Abiem dan Randi masih duduk-duduk di lobby. Sesampai di kamar, Helena segera membuka connecting door-nya, lalu dia ketuk pintu sebelahnya. Tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;“Ah, masih pada di bawah barangkali..”, pikir Helena sambil merebahkan badannya di ranjang.&lt;br /&gt;Hampir setengah jam menunggu, ternyata mereka tidak datang juga. Akhirnya helena memutuskan untuk berendam air hangat dan mandi selama beberapa menit.&lt;br /&gt;“Hei.. Sorry kami kelamaan..”, suara Ani yang tiba-tiba masuk kamar mandi mengagetkan Helena yang baru saja memakai kimono.&lt;br /&gt;“Abiem dan Randi di ruang tengah..”, kata Ani lagi sambil agak sempoyongan.&lt;br /&gt;“Kamar kamu enak juga ada ruang tamunya.. Kita bisa ngobrol disini..”, kata Ani lagi.&lt;br /&gt;“Shit!! Ngapain kumpul di kamar aku?”, bisik hati Helena.&lt;br /&gt;“Hei perempuan! Cepatlah kemari.. Kita habiskan sisa minuman tadi”, terdengar suara Abiem memanggil. Akhirnya mereka berempat lagi-lagi meneguk bergelas alkohol yang dibawa Abiem.&lt;br /&gt;“Ohh.. Gawat! Kenapa aku jadi pengen..”, hati Helena berbisik ketika pengaruh alkohol mulai menjalar di tubuhnya.&lt;br /&gt;Terasa oleh Helena buah dada serta puting susunya mulai mengeras lagi, sementara memeknya terasa berdenyut basah menahan gairah..&lt;br /&gt;“Aku akan hirup udara segar dulu..”, kata Helena sambil bangkit agak terhuyung menuju teras. Dihirupnya udara malam dalam-dalam untuk mengurangi sesuatu di dalam tubuhnya yang mulai menggoda imannya.&lt;br /&gt;“Ohh..”, tiba-tiba terdengar suara Abiem mendesah keras dari dalam. Helena segera melongokan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.&lt;br /&gt;“Oh my God!”, batin Helena ketika melihat apa yang terjadi. Gairah dan denyutan memeknya semakin terasa menggoda.&lt;br /&gt;Di depan matanya, Helena melihat bagaimana Ani berciuman dengan suaminya di kursi sambil tangannya mengocok ****** Abiem yang sudah tegak. Celana Abiem hanya di buka dan diperosotkan sebatas pahanya saja.&lt;br /&gt;“Ohh.. Cepat hisap ****** aku, bitch!”, kata Abiem kepada Ani. Dengan serta merta Ani menurunkan kepalanya, lalu dengan segera ****** Abiem sudah dilahapnya sambil tetap dikocok pelan.&lt;br /&gt;“Ooh..”, desah Abiem ketika lidah Ani menjilati kepala ******nya sambil batangnya tetap dikocok tangan Ani.&lt;br /&gt;“Apa yang harus aku lakukan?”, batin Helena ketika melihat ****** Abiem yang basah di jilat dan dihisap mulut Ani.&lt;br /&gt;Gairahnya semakin memuncak. Dengan mata agak nanar terus dilihatnya Ani dan Abiem. Antara sadar dan tidak, tak terasa oleh Helena ketika Randi menempelkan tubuhnya dari belakang. Tangan Randi menyusuri kaki Helena dari betis sampai paha lalu naik ke pantat Helena yang belum sempai memakai pakaian dalam sejak selesai mandi tadi..&lt;br /&gt;“Hei! Pak Randi ngapain?!”, kata Helena kaget sambil menepis tangan Randi dari pantatnya.&lt;br /&gt;“Kita sama-sama tahu sama-sama mau kan..”, kata Randi sambil mendekati Helena.&lt;br /&gt;Helena segera menghindar dan berlari menuju kamarnya melewati Ani dan Abiem yang sedang asyik melakukan oral seks. Ani dan Abiem sampai kaget dan menghentikan cumbuan mereka ketika melihat Helena melintas. Di dalam kamarnya Helena masih bingung dan teringat akan oral seks Ani dan Abeim serta perlakuan Randi kepadanya. Sebetulnya gairah Helena sudah sangat memuncak saat itu, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu di hatinya.&lt;br /&gt;“Ada apa, Helena?”, tiba-tiba Ani masuk kamar dan menghampiri Helena yang masih berdiri.&lt;br /&gt;“Entahlah, An.. Aku.. Aku aku tak tahu..”, kata Helena sambil melepas kimono lalu segera memakai celana dalamnya.&lt;br /&gt;Tapi ketika Helena akan memakai memakai Bra, tiba-tiba Ani memeluknya dari belakang hingga Helena tidak jadi memakai Bra tersebut.&lt;br /&gt;“Ayolah Helena, kita nikmati malam ini..”, bisik Ani ke telinga Helena.&lt;br /&gt;“Mmhh..”, desah Helena ketika tangan Ani mengusap seluruh badannya. Usapan dan belaian tangan Ani kembali mengobarkan gairah Helena yang sempat surut.&lt;br /&gt;“Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini?”, bisik Ani lagi sambil tangannya meremas kedua buah dada Helena dari belakang.&lt;br /&gt;“Ohh..”, desah Helena sambil terpejam menikmati sensasi jari tangan Ani ketika memainkan dan memelintir puting susunya.&lt;br /&gt;“Mmhh.. Ohh..”, desah Helena makin keras ketika lidah dan bibir Ani menyusuri telinga, tengkuk dan lehernya sembari tangannya tetap meremas dan memainkan puting susu Helena.&lt;br /&gt;“Nikmati saja malam ini..”, bisik Ani sambil membalikan badan Helena dan merebahkannya di ranjang.&lt;br /&gt;“Oww..”, jerit lirih Helena ketika lidah dan bibir Ani menciumi dan menjilati buah dada serta puting susunya.&lt;br /&gt;“Aniihh.. Oohhsshh..”, jerit Helena makin keras ketika jari Ani masuk ke celana dalam dan menggosok memeknya.&lt;br /&gt;Tubuh Helena menggeliat terbawa rasa nikmat dan terlepasnya himpitan gairah yang tertahan sebelumnya.&lt;br /&gt;“Kamu menyukai ini?”, bisik Ani sambil lidah dan mulutnya turun menyusuri perut sementara tangannya melepas celana dalan yang dipakai Helena.&lt;br /&gt;“Ohh.. Anniihh..”, jerit Helena ketika ada rasa nikmat yang menjalar ketika lidah Ani dengan liar menyusuri belahan memeknya.&lt;br /&gt;“Ohh Ani.. Enakkhh”, desah Helena waktu lidah Ani menjilati kelentit dan sesekali mengulumnya.&lt;br /&gt;“Anniihh.. Akku.. Keluarrhh..!”, jerit Helena sambil menggelinjang dan mendesakan kepala Ani ke memeknya ketika ada semburan hangat terasa di memeknya yang disertai rasa nikmat yang luar biasa.&lt;br /&gt;Ani tersenyum sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir Helena.&lt;br /&gt;“Aku baru kali ini merasakan bercumbu dengan wanita.. Ternyata memuaskan..”, bisik Helena sambil sesekali mengecup bibir Ani. Ketika Helena dan Ani saling lumat bibir, terasa oleh Helena ada tangan yang menjamah, membelai dan meremas pelan buah dadanya.&lt;br /&gt;“Sayang, kamu layani si Randi..”, Abiem menyuruh dan menarik tubuh Ani dari atas tubuh Helena.&lt;br /&gt;“Kamu menyukai permainan istriku, Helena?”, kata Abiem yang sudah telanjang bulat sambil menindih tubuh Helena serta mulai menciumi leher lalu turun ke buah dada Helena.&lt;br /&gt;“Jangaann!! “, teriak Helena sambil meronta menjauhkan wajah Abiem dari buah dadanya. Tapi Abiem dengan cepat memegang kedua tangan Helena, lalu lidah dan mulutnya kembali meneruskan menjilati buah dada dan puting susu Helena.&lt;br /&gt;“Ohh.. Jangaannhh.. Janghh.. Jangannhh..”, rintih Helena diantara rasa malu, rasa terhina, serta rasa nikmat ketika lidah Abiem bisa memberikan rasa itu. Apalagi ketika ****** Abiem yang tegang dan tegak mengesek-gesek memeknya yang sudah basah. Bahkan ketika lidah Abiem turun ke perut, turun lagi hingga mencapai memeknya, Helena kembali menggelepar dalam kenikmatan walau hatinya menolak diperlakukan demikian.&lt;br /&gt;“Jangannhh, Biem..!”, jerit lirih Helena ketika Abiem mulai mengarahkan ****** ke lubang memeknya. Ani-pun yang sedang asyik disetubuhi Randi, sempat menghentikan persetubuhannya lalu bangkit dan mencoba memegang ****** Abiem agar tidak menyetubuhi Helena.&lt;br /&gt;“Sudah! Kamu nikmati saja ****** si Randi sana!”, kata Abiem aga keras sambil mendorong tubuh Ani.&lt;br /&gt;“Sudahlah, Ani.. Sini!”, kata Randi sambil menarik dan merebahkan tubuh Ani di karpet lalu kembali menyetubuhi istri temannya itu.&lt;br /&gt;“Ohh..!”, terdengar desah Helena ketika ****** Abiem masuk ke memeknya lalu dengan kasar dan cepat Abiem menggenjotnya.&lt;br /&gt;“Jangan, Biemm.. Lepaskan aku!”, jerit lirih Helena di sela rasa sakit dan nikmat ketika ****** Abiem keluar masuk memeknya.&lt;br /&gt;“Fuck you, bitch!”, kata Abiem sambil mengangkat satu kaki Helena dan di tahan oleh pundaknya.&lt;br /&gt;“Ohh.. Memekmu nikmat, Helena..”, kata Abiem sambil memompa ******nya lebih dalam dengan posisi demikian.&lt;br /&gt;“Ohh.. Mmhh..”, desah Helena sambil terpejam. Rasa sakit yang ada kini berganti rasa nikmat yang luar biasa.&lt;br /&gt;“Bagaimana rasanya, sayang..”, terdengar suara Ani di samping Helena ketika Ani mengganti posisi dengan doggy style di atas ranjang.&lt;br /&gt;“Kamu nikmati saja malam ini, Helena.. Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini..”, Randi menyela sambil mengenjot memek Ani dalam posisi menungging.&lt;br /&gt;“Mmhh.. Sshh.. Ohh”, Helena hanya menjawab dengan desahan pertanda sedang menikmati suatu kenikmatan ketika Abiem dengan ganas mengeluarmasukkan ****** ke memeknya.&lt;br /&gt;“Ooww.. Ohh..!”, terdengar suara Helena menjerit sambil memegang tangan Abiem dengan kencang. Sementara tubuhnya menggeliat serta mendesakkan memeknya ke ****** Abiem dan menggoyangnya dengan cepat.&lt;br /&gt;“Serr! Serr! Serr!”, kembali memek Helena mengeluarkan air mani yang menyembur hangat di dalam memeknya.&lt;br /&gt;“Ohh.. Fuck you! Fuck you!”, kata Abiem sambil menggenjot ******nya makin cepat dan makin cepat.&lt;br /&gt;“Crott! Croott! Crott!”, air mani Abiem menyembur banyak di dalam memek Helena.&lt;br /&gt;“Oohh..!!”, desah Abiem sambil merebahkan tubuhnya menindih tubuh Helena.&lt;br /&gt;Helena hanya bisa memejamkan mata setelahnya. Rasa lelah serta pengaruh alkohol yang masih ada membuatnya tak mempedulikan lagi keadaan disekelilingnya. Yang sempat terdengar oleh telinga Helena adalah teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut Ani dan Randi yang sedang asyik bersetubuh di depan suami Ani sendiri. Mata Helena sedikit demi sedikit makin berat. Hanya rasa nyaman dan sisa-sisa kenikmatan di memek Helena yang membuat memeknya berdenyut-denyut hingga Helena tertidur..&lt;br /&gt;Helena tertidur sampai siang hari dalam kedaan telanjang bulat. Tubuhnya tertidur hanya diselimuti oleh bed cover. Tak terdengar olehnya ketukan pintu oleh cleaning service. Sehingga ketika cleaning service membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, dia begitu terkejut melihat tubuh molek tergolek di ranjang.&lt;br /&gt;“Eh.., maaf, Bu.. Saya kira tidak ada siap-siapa di dalam”, kata petugas kebersihan tersebut.&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa.. Kembali lagi saja dan bereskan kamar saya nanti agak siang..”, kata Helena sambil menyelimuti tubuhnya lebih rapat.&lt;br /&gt;Setelah petugas itu keluar, Helena hanya bisa merenungi apa yang terjadi semalam. Helena sendiri merasa heran, dirinya tidak mau dipaksa, diperkosa, entah apapun namanya, tapi yang jelas dirinya begitu menikmati perlakuan orang lain yang begitu kasar pada dirinya pada akhirnya..&lt;br /&gt;Helena memang sangat suka berpetualang seks dari sebelum menikah sampai sekarang, tapi belum pernah merasakan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan semalam.. Ingin rasa hati Helena menceritakan hal ini kepada suaminya, tapi pertentangan batin terjadi dalam hatinya karena hal ini menyangkut kepada teman-teman baik suaminya. Bahkan terbersit keinginan Helena untuk kembali ingin mendapatkan sensasi kenikmatan dengan menjadi objek pemaksaan seksual..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-3831770000526951228?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/3831770000526951228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=3831770000526951228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3831770000526951228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/3831770000526951228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/dipaksa-tapi-aku-menikmatinya.html' title='Dipaksa.. Tapi Aku Menikmatinya'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-8117344543056198410</id><published>2009-02-24T22:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T05:19:27.255-08:00</updated><title type='text'>Tanteku Malu-malu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Tanteku Malu-malu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya Dito…..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut saya) umurnya sekitar 27 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya sendiri tinggal disurabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan tante adalah 19 Km……………………..&lt;br /&gt;Awal kejadiannya adalah pada hari sabtu malam saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit ‘gatel’ om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam. Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku bertiga saja di rumah: saya, Om Pram dan Tante Sis.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Brak..” suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar. Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, “Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku.” Dalam hatiku berkata, “Wah ribut lagi.” Om Pram langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobil Tarunanya dan pergi entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sis menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Pram dilimpahkan kepadaku). Tapi aku jadi penasaran juga. Takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sis. Maksudku akibat kecewa sama Om Pram dia langsung bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sis. Kuhampiri dia dan dengan pelan.&lt;br /&gt;Aku bertanya, “Kenapa Tan? Om kambuh lagi?”&lt;br /&gt;Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya. Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sis mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam. Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sis mengajak Om Pram, berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sis. Dan mungkin juga Tante Sis mengajak Om bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Pram tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante Sis berkata, “To, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante. Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cakep lagi.” Ketika Tante Sis berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap buah dadanya (kira-kira berukuran 34). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya. Aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sis menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat payudaranya lebih dekat lagi).&lt;br /&gt;“Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!”&lt;br /&gt;“Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana.”&lt;br /&gt;Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, “Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok.” (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam).&lt;br /&gt;“Tapi Tante denger dia punya pacar di surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan ama cewek, kalo nggak salah namanya Sella.”&lt;br /&gt;“Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok.”&lt;br /&gt;Tanpa Tante Sis sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sis karena tangan kiriku masih memegang tangannya. Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sis, dan berdiri dari duduknya, “To, saya tantemu saya harap kamu jangan kurang ajar sama Tante, sekarang Tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!” Dengan nada marah Tante Sis mengusirku.&lt;br /&gt;Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf, kepada Tante Sis karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar tanteku. Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sis lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu). Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sis cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa kamu To?” tanyanya dengan gugup bercampur kaget.&lt;br /&gt;“Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante”. Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 182 cm dan beratku 75 kg, sedangkan Tante Sis memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepasin Tante, Dito,” suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya. Dasternya kusingkap ke atas. Ternyata Tante Sis tidak mengenakan celana dalam sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik dasternya bagian atas hingga payudaranya terpampang di depanku. Dengan bernafsu aku langsung menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sis sudah mulai terangsang walaupun masih berkurang tetapi frekuensinya agak menurun sedikit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemaluanku telah berdiri tegak dan kokoh nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah isteri pamanku sendiri….yaitu tanteku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kejantananku ke liang TANTEKU……….. ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku,kadang kemaluanku meleset keatas dan bahkan kadang meleset kearah lubang anus tanteku .&lt;br /&gt;ini disebabkan tanteku bergerak kesana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kemaluanku yang sudah siap tempur ini……………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To, jangan To, aku Tantemu tolong lepasin To, ampun, Tante minta ampun”. Aku sudah tidak peduli lagi Rengekannya. …….usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil……karena gagalpun mungkin akibatnya akan sama&lt;br /&gt;bahkan mungkin lebih fatal akibatnya…….&lt;br /&gt;Ketika lubang senggamanya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kewanitaannya aku langsung menghujamkan senjataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auuhh, sakit To, aduh.. Tante minta ampun.. tolong To jangan lakukan …..lepasin Tante To..” Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi senjataku sudah di dalam, “Maaf Tante, saya sudah tidak tahan dan punyaku sudah terlanjur masuk nih…..,” bisikku ke telinganya. Tante Sis hanya diam saja. Dan tidak berkata apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kemaluanku naik turun, ……..tanteku menggelinjang hebat…..seakan akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya….&lt;br /&gt;ssshhhhhhhhh….tanteku hanya mendesis lirih sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan tak mau menatap wajahku…….kemudian Dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar. Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, “Tante, Tante masih cantik dan tetap mengairahkan kok, saya sayang Tante, bila Om sudah tidak sayang lagi, biar Dito yang menyayangi Tante.” Tante Sis hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemaluanku kudorong perlahan …seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama……..&lt;br /&gt;cllkk….clllkkkk.cclkkkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku…….seirama keluar masuknya kemaluanku kedalam liang senggamanya yangbetul betul enak……&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Kira-kira 10 menit aku merasakan liang kewanitaan tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat mungkin tanteku sedang orgasme……………………………………. ……………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kudiamkan sejenak …..kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya………kubenamkan lebih dalam kemaluanku ,sambil memeluk erat tubuhnya iapun membalasnya erat…..kurasakan tubuh tanteku bergetar….&lt;br /&gt;kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubalik badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi diatas……kemaluanku masih terbenam dalam kewanitaan tanteku……tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuhku,….lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan…..dan menurunkannya lagi….kuangkat lagi……dan kuturunkan lagi…….kemaluanku yang berdiri tegak menyodok deras keatas …kelubang nikmatnya……&lt;br /&gt;ahirnya tanpa kubantu ….tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oooooooccchhhhhhhh…….aku yang blingsatan kenikmatan…&lt;br /&gt;rupanya tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas….&lt;br /&gt;kenikmatan maximum kudapatkan dalam posisi ini….&lt;br /&gt;rupanya tanteku mengetahui keadaan ini …ia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Anisa bahar penyanyi dangdut dengan goyang patah patahnya…….&lt;br /&gt;oooooochhhhhh,…………sshhh……kali ini aku yang mirip orang kepedasan&lt;br /&gt;aku mengangkat kepalaku…kuhisap puting susu tanteku…..&lt;br /&gt;ia mengerang……..goyangannya tambah dipercepat….&lt;br /&gt;dan 5 menit berjalan …….tanteku bergetar lagi……ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua……&lt;br /&gt;pundakku dicengkeramnya erat……&lt;br /&gt;ssshhhhhhh………bibir bawahnya digigit…sambil kepalanya menengadah keatas…..&lt;br /&gt;“to….******* kamu…….tante kok bisa jadi gini…..ssssshhhh&lt;br /&gt;….tante udah 2 kali kluarrrrrrrr…”…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya tersenyum…..&lt;br /&gt;“tulangku rasa lepas semua to….”&lt;br /&gt;aku kembali tersenyum…&lt;br /&gt;“tante gak pernah klimaks lebih dari 1 x kalo dengan ommu..”&lt;br /&gt;kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional..&lt;br /&gt;kugenjot dengan deras kewanitaannya…..&lt;br /&gt;oooohhh oohhh….ssshhhhh&lt;br /&gt;tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku…………..&lt;br /&gt;aku pun sudah kepengen nyampe…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam liang senggamanya.&lt;br /&gt;ssshhhhhh……aaachhhhhhh………………..&lt;br /&gt;spermaku tumpah dengan derasnya kedalam liang senggama tanteku……..&lt;br /&gt;mata tanteku sayu menatapku klimaks………&lt;br /&gt;permainan panjang yang sangat melelahkan……yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama sama diraih…….&lt;br /&gt;kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku…………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kamu harus menjaga rahasia ini to…..”&lt;br /&gt;aku hanya mengangguk….&lt;br /&gt;dan sekarang tanteku tak perduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak…….&lt;br /&gt;karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera kerumahnya……&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-8117344543056198410?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/8117344543056198410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=8117344543056198410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8117344543056198410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/8117344543056198410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/tanteku-malu-malu.html' title='Tanteku Malu-malu'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-1527942898147655757</id><published>2009-02-24T22:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T23:03:40.981-08:00</updated><title type='text'>Cemburu Bikin Gairah Berkobar???</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Cemburu Bikin Gairah Berkobar???&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;GAIRAH seks tak ubahnya bagaikan sebuah jalan di pegunungan. Kadang naik, kadang turun. Di saat turun, beberapa trik perlu dilakukan untuk "mendongkrak" gairah. Bisakah membuat pasangan cemburu dijadikan salah satu alternatifnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeni, sebut saja namanya begitu, kadang tak tahan untuk bercerita tentang Rio, teman sekantor yang pernah menaruh hati padanya, kepada sang suami. Ia tahu api cemburu akan langsung membakar hati suaminya. Namun hebatnya, saat cemburu seperti itu, gairah seksual pria pilihan hatinya ini juga ikut berkobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, di balik perasaan bersalahnya kadang-kadang Yeni tak bisa menahan senyum "kemenangan". Dalam hatinya, bahkan pernah timbul niat mengipas-ngipas bara cemburu suaminya agar hubungan intim mereka jadi tambah seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Bisa Digeneralisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara psikologis memang bisa saja gairah seksual makin terlecut akibat cemburu," kata A. Kasandra Oemarjoedi, Psi., Direktur dari Psychological Practice Kasandra Persona Prawacana. Kobaran gairah itu secara tidak sadar didorong oleh perasaan takut kehilangan, perasaan bersaing, imajinasi liar, tidak mau kalah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, hampir bisa dipastikan bahwa timbulnya gairah hebat ini justru karena cinta. "Walaupun tidak mutlak, semakin besar cintanya pada pasangan, maka semakin besar pula rasa cemburunya," ungkap Kasandra. Hal ini biasanya terjadi pada suami atau istri yang memiliki perasaan cinta terlampau besar terhadap pasangannya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, kondisi ini tentu berbeda pada tiap pasangan, jadi tidak bisa digeneralisasi. Ada pasangan yang bila cemburu karena suatu hal kemudian melampiaskannya dalam bentuk permainan ranjang yang panas. Namun, ada juga pasangan yang justru karena cemburu malah enggan "menyentuh" pasangannya. "Di sinilah dibutuhkan kejelian mengamati efek cemburu itu sendiri," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk suami atau istri yang sudah bisa memastikan bahwa rasa cemburu dapat meningkatkan gairah pasangannya, boleh saja menggunakan "senjata" ini pada momen-momen tertentu. "Kalau memang cemburu menjadi turn on factor dalam hubungan mereka, bolehlah sekali-sekali digunakan. Asal jangan keseringan, lo," katanya mengingatkan. Karena kalau sudah terlalu sering, bisa-bisa sensasi dari rasa cemburu itu akhirnya malah menguap entah ke mana. Sebaliknya, jika cemburu ternyata merupakan turn off factor, tentu saja jangan sekali-kali cari gara-gara. Bisa-bisa pasangan malah kehilangan gairah alias jadi dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memberi manfaat bila terampil mengolah perasaan cemburu, yang juga patut dijadikan pertimbangan adalah bahaya yang mungkin ditimbulkan. Salah satunya adalah kecemburuan yang tidak terkendali. "Ini bisa berakibat fatal karena bukan tidak mungkin cemburu yang biasanya mengobarkan gairah kali ini jadi malah tak terkendali. Akibatnya, pasangan jadi marah dan berhari-hari menolak berhubungan. Repot, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuh rubrik Tanya Jawab Problema Rumah Tangga nakita ini juga mengingatkan bahwa fantasi seksual pada dasarnya merupakan skill. Artinya, dibutuhkan keahlian khusus untuk mengembangkan fantasi, kedekatan, sekaligus membangun suasana romantis supaya hubungan seksual jadi lebih mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah hal ini bermanfaat guna menumbuhkan cinta sekaligus terapi mujarab untuk meningkatkan gairah seksual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Hormon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Kasandra, seksolog dari RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta, Dr. Ferryal Loetan, ASC&amp;amp;T, SpRM, M.Kes (MMR), mengatakan "Ada dua kemungkinan yang bisa diakibatkan dari rasa cemburu, yaitu gairah seksual meningkat atau justru drop."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pada dasarnya cemburu adalah luapan emosi yang berlebihan. Secara medis peningkatan emosi itu dapat dikaitkan dengan peningkatan hormon. "Kalau hormon meningkat maka otomatis gairah juga akan meningkat," tandasnya. Luapan emosi ini tidak hanya disebabkan oleh rasa cemburu, tapi bisa juga disebabkan rasa sedih yang berlebihan, rasa marah yang berlebihan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sinilah dibutuhkan kemampuan untuk mengolah emosi yang berlebihan tadi supaya bisa menjadi energi positif," ungkapnya. Menurut Ferryal, gairah seksual yang meluap akibat rasa cemburu itu bisa dialami siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun seksolog ini juga mengingatkan bahwa luapan emosi bisa berdampak negatif. "Saking emosinya, bisa-bisa gairah justru drop. Bahkan bisa-bisa pasangannya tidak 'dicolek' berhari-hari. Dampak semacam ini yang harus dihindari."&lt;br /&gt;Bagaimana luapan emosi akan mengarah menjadi energi positif atau negatif tentu tak bisa lepas dari pola pikir seseorang. "Kalau orang tersebut bisa berpikir positif, maka cemburu justru bisa meningkatkan gairah. Sebaliknya, kalau pikirannya cenderung buruk melulu, tentu saja akan menurunkan gairah," lanjut Ferryal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan mengolah luapan emosi supaya menjadi energi positif akan semakin meningkat seiring dengan bertambah dewasanya seseorang. "Bandingkan dengan pasangan-pasangan muda yang biasanya kalau sudah emosi jadi lupa segala-galanya. Akibatnya, jangankan gairah seksualnya berkobar, hasrat untuk bercinta pun akan menguap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Dijadikan Alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali, dua kali, bisa jadi ranjang terasa kian membara akibat kobaran api cemburu. Namun Ferryal mengingatkan, "Jangan mencari gara-gara supaya pasangan cemburu sekadar untuk meningkatkan gairah," pesannya. Mengapa? "Bagaimanapun, peningkatan emosi yang disengaja itu tidak baik," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang kedua belah pihak merasa gairah seksualnya makin berkobar saat muncul dorongan emosi, sebaiknya cari cara yang sehat untuk melakukannya. "Cari sensasi baru dengan mencoba posisi hubungan seks yang tidak biasa, atau membangun suasana yang lain dari biasa," sarannya. Intinya, dorongan emosi itu harus diperlakukan secara sehat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sesekali hubungan seksual terasa lebih bergelora akibat dorongan rasa cemburu, anggap saja sebagai bonus. Jangan selalu membayangkan hubungan seksual itu harus seperti Michael Douglas dan Sharon Stone dalam film Basic Insting. Sebab percayalah, hubungan seks yang dilakukan atas dasar cinta dan melibatkan hati pasti akan terasa lebih nikmat."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-1527942898147655757?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/1527942898147655757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=1527942898147655757' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1527942898147655757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/1527942898147655757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/cemburu-bikin-gairah-berkobar.html' title='Cemburu Bikin Gairah Berkobar???'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-2937542305890359304</id><published>2009-02-24T22:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T22:54:03.322-08:00</updated><title type='text'>8 Posisi Sex Teratai</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8 Posisi Sex Teratai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tersohor sebagai seni bercinta yang tinggi. Karya klasik tentang ketrampilan seks dan seni bercinta ini ditulis pada abad ke 3 Masehi. Kamasutra mengajarkan gaya dan posisi bercinta yang sarat akan seni, posisi teratai adalah posisi paling favorit anda dan pasangan wajib mencobanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Teratai Mekar&lt;br /&gt;Posisi wanita berbaring telentang membuka kaki selebar mungkin, merendahkan kepalanya dan mengangkat bagian-bagian tengah tubuhnya. Pihak lelaki memeluk bagian tengah sehingga memudahkan masuknya Mr P ke dalam. Posisi seperti ini dapat merasakan sensasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kuncup Teratai&lt;br /&gt;Posisi kurang lebih sama seperti diatas, hanya saja pada bagian ini wanita mengangkat kedua belah pahanya dan membiarkannya tetap terbuka lebar lalu melakukan penetrasi. Ketika melakukan posisi ini, lelaki bisa bergerak ke depan dan belakang, juga dapat melakukan gerakan zig zag.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Tekukan Teratai&lt;br /&gt;Wanita menekuk lututnya sehingga kedua paha dan betisnya saling berdempetan lalu posisi berbaring menyamping. Sementara sang pria bisa 'menyerang' dari posisi yang paling mudah. Posisi ini dalam Kamasutra disebut posisi Indrani. Posisi ini membutuhkan latihan yang berulang-ulang. Karena gayanya tidak biasa dan termasuk dalam tahap hubungan seksual tingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Teratai Mengunci&lt;br /&gt;Kedua kaki laki-laki maupun wanita direntangkan lurus keluar ke arah pasangan masing-masing, disesuaikan dengan kebiasaan tidur masing-masing pasangan. Pada posisi miring, pihak lelaki harus selalu berbaring dengan sisi kiri tubuhnya. Sedangkan wanita berbaring miring pada sisi kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Teratai Menekan&lt;br /&gt;Jika sudah dalam posisi mengunci, kemudian perempuan menekan Mrs V menuju Mr P pasangannya dengan kedua pahanya. Tekanan dari depan ke belakang yang kuat terhadap penis akan ditemui seni bercinta yang luar biasa meski agak sulit. Tapi dari kesulitan itu didapat seni kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Teratai Memeluk&lt;br /&gt;Posisi wanita salah satu pahanya ditempatkan pada melintang paha pasangan. Posisi ini sangat mudah dilakukan,santai dan tidak terlalu berbelit. Dilakukan sembari duduk berhadapan,sementara kedua tangan saling berangkulan. Ciuman dan eratnya pelukan memperdalam keintiman pasangan. Sesekali wanita dapat melepaskan rangkulannya dan menahan dengan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Belahan Teratai&lt;br /&gt;Wanita meletakkan salah satu kakinya diatas bahu pasangan, kaki yang satunya lagi direntangkan lurus ke depan. Kemudian kaki yang direntangkan itu diletakkan diatas bahu kekasihnya. Terus kaki yang tadi diletakkan diatas bahu direntangkan keluar, lalu melakukan posisi ini secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Teratai Gantung&lt;br /&gt;Laki-laki menyandarkan dirinya pada sebuah tembok, dan wanitanya duduk diatas kedua tangan pasangannya yang disatukan dan menyangga pantat wanita. Wanita melingkarkan kedua tangannya pada leher laki-laki lalu meletakkan kedua pahanya pada pinggang laki-laki. Sembari menggerakan dirinya dengan kedua kakinya yang menyentuh tembok tempat sandaran laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba! dan puaskan pasangan anda!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-2937542305890359304?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/2937542305890359304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=2937542305890359304' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2937542305890359304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/2937542305890359304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/8-posisi-sex-teratai.html' title='8 Posisi Sex Teratai'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-409324448047344672</id><published>2009-02-24T07:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T07:20:10.222-08:00</updated><title type='text'>Tetangga Idaman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Tetangga Idaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!”&lt;br /&gt;“Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian.” katanya menyebut isteriku.&lt;br /&gt;Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?” kata isteriku ketika kuajak.&lt;br /&gt;Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.&lt;br /&gt;“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.&lt;br /&gt;Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”&lt;br /&gt;Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya Agus datang ke rumahku, “Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?” tanyanya setelah kami berbasa-basi.&lt;br /&gt;“Maksudmu apa Gus..?” tanyaku heran.&lt;br /&gt;“Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya.”&lt;br /&gt;Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.&lt;br /&gt;Agus langsung menambahkan, “Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas.” katanya tanpa malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini saja Mas,” tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, “Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?”&lt;br /&gt;“Acara apa Gus..?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?”&lt;br /&gt;“Pesta apaan..? Gila kamu.”&lt;br /&gt;“Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.&lt;br /&gt;“Kegilaan apa lagi ini..?” batinku.&lt;br /&gt;Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.&lt;br /&gt;Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.&lt;br /&gt;“Sshh.., akh..!” Rini menggelinjang nikmat.&lt;br /&gt;Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.&lt;br /&gt;Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!”&lt;br /&gt;Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3775014173610804826-409324448047344672?l=dyargit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyargit.blogspot.com/feeds/409324448047344672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3775014173610804826&amp;postID=409324448047344672' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/409324448047344672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3775014173610804826/posts/default/409324448047344672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyargit.blogspot.com/2009/02/tetangga-idaman.html' title='Tetangga Idaman'/><author><name>Berbagi Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15660407962494519421</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_sFSSO935tRQ/SaQjprdk1tI/AAAAAAAAAFA/HQdDucoHW1Y/S220/517677-20080930235033.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3775014173610804826.post-2982747297500221986</id><published>2009-02-24T07:11:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T07:14:23.705-08:00</updated><title type='text'>Bonus Mengintip</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Bonus Mengintip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal duit. Sampai suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado, namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi agak kolot gitu. Tapi pas pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah desa dari Tante Wine. Raut muka yang cantik (nggak berbeda jauh dengan nenek Elsa) dengan postur yang semampai lagipula putih bersih membuat orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah wanita desa. Satu-satunya yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa adalah logat bahasanya yang bener-bener medok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun langsung akrab dengan Tante Wine karena orangnya lucu dan suka humor. Bahkan aku sering ngeledek karena dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya keliatan agak Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing, lebih langsing dari nenek Elsa, dan yang bikin pikiran kacau adalah buah dadanya yang lumayan gede. Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar untuk menyembul dari balik daster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah Tante Wine haus sex seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya. Pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan nenekku, (dan banyak wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirumah, nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku perlakukan Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi dengan kakek ke Surabaya selama dua hari. Sehari sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket rumah, biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti. Aku mengiyakan, aku bersusaha meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nenek dan kakek berangkat aku mula
